Asten Bait, Tangisan Warga Amfoang: Kunjungan Wapres Jangan Cuma Seremonial!
Penulis : Frederikus Suni |
Kehadiran Wapres Gibran di tanah Amfoang jangan sampai layu menjadi agenda kunjungan kerja yang seremonial atau sekadar formalitas jepretan kamera pejabat.
![]() |
| Asten Bait, Tangisan Warga Amfoang: Kunjungan Wapres Jangan Cuma Seremonial!Dok: Tafenpah.com |
TAFENPAH.com - Di antara lanskap magis Padang Lelogama dan sejuta kekayaan tradisi suku Dawan Timor, masyarakat Amfoang sebenarnya tak kuasa menahan jeritan tangisan yang sunyi.
Di balik keindahan alamnya, ada kepedihan mendalam akibat keterbatasan infrastruktur, terutama akses jalan dan jembatan yang kerap kali putus.
Ketertinggalan infrastruktur ini memaksa masyarakat Amfoang yang tersebar di enam kecamatan: Amfoang Selatan, Utara, Timur, Barat Laut, Barat Daya, dan Tengah semakin terisolasi dari arus informasi, mobilitas perekonomian, hingga akses pendidikan yang layak.
Meski dalam keterbatasan, rahim Amfoang tak pernah berhenti menyajikan sejuta kekayaan alam dan budaya yang eksotis.
Sayangnya, eksotisme budaya dan potensi pariwisata ini belum sepenuhnya dikelola dengan optimal oleh Pemerintah Kabupaten Kupang maupun Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Geografis NTT yang terdiri dari 22 kabupaten/kota memang menyimpan tantangan yang sangat kompleks. Persoalan klasik ini pun sempat diamini oleh mantan Gubernur NTT periode sebelumnya, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL).
Menurutnya, kendala utama dalam membangun bumi Flobamora berada pada kompleksitas wilayahnya yang kepulauan. (Baca artikel TAFENPAH: Viktor Bungtilu Laiskodat Apresiasi Karya Pater Fritz Meko sebagai Sastrawan Visioner Nusa Tenggara Timur).
Refleksi Diaspora: Kontras Antara Jawa dan NTT
Berdasarkan pengalaman saya sebagai diaspora NTT yang telah menetap di DKI Jakarta selama kurang lebih 6 tahun, ada kontras yang begitu nyata. Pembangunan di enam provinsi sedaratan Jawa, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur berjalan begitu masif karena faktor wilayah yang berada dalam satu daratan (mainland).
Kondisi ini tentu berbanding terbalik dengan 22 kabupaten/kota di NTT yang dipisahkan oleh lautan dan gugusan pulau-pulau kecil.
Karakteristik kepulauan inilah yang juga dialami oleh berbagai provinsi lain di kawasan Indonesia Timur.
Kendati demikian, porsi pembangunan di NTT tidak boleh mandek dan terjebak dalam ruang diskusi publik belaka.
Ide-ide besar boleh saja lahir dari ruang seminar yang nyaman dan ber-AC.
Namun, empati sosial harus melampaui sekat dinding kaca tersebut untuk menjadi spirit bagi para pemangku kepentingan di setiap level pemerintahan. (Baca artikel TAFENPAH: NTT Bukan Produk Seminar: Menagih Nyali dan Kolaborasi Nyata Demi Rakyat).
Dalam konteks tangisan masyarakat Amfoang, mari kita refleksikan apa yang disuarakan secara lantang oleh tokoh muda, Asten Alfensus Bait.
Asten Alfensus Bait: Kami Masih Menangis Sejak Indonesia Merdeka
![]() |
| Asten Bait, Tangisan Warga Amfoang: Kunjungan Wapres Jangan Cuma Seremonial! |
Persoalan jalan dan jembatan di enam kecamatan Amfoang seolah tenggelam dari prioritas Pemkab Kupang dan Pemprov NTT.
Entah karena pemerintah setempat masih disibukkan oleh agenda lain, atau tanpa sadar telah melupakan akar pembangunan infrastruktur yang paling mendasar di beranda Amfoang.
Namun, momentum kunjungan kerja Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, ke NTT menjadi panggung krusial bagi Asten Alfensus Bait.
Ia memilih berdiri untuk menyuarakan kerinduan sekaligus keresahan terdalam masyarakat Amfoang langsung di hadapan orang nomor dua di Republik ini.
Melalui unggahan video reels di akun Instagram @merekamkupang, tampak jelas dan tegas figur Asten Bait yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Kabupaten Kupang Periode 2026-2028, menyoroti ketimpangan sosial di Amfoang tanpa ragu.
Dengan penuh hormat, ia menyampaikan bahwa masyarakat Amfoang membutuhkan atensi khusus dari Wapres RI untuk mendengar sekaligus merealisasikan hak paling mendasar mereka, infrastruktur jalan dan jembatan yang layak.
“Karena kami di sini masih menangis sejak Indonesia Merdeka,” ujar Asten Bait secara langsung di hadapan Wapres Gibran Rakabuming Raka.
Momen krusial tersebut turut disaksikan langsung oleh Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, Wakil Bupati Kupang, Aurum Obe Titu Eki, serta jajaran stakeholder penting dari Pemkab Kupang dan Pemprov NTT.
Asten mendesak adanya kolaborasi nyata lintas sektor, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga pusat demi memerdekakan akses mobilitas di Amfoang.
Menagih Aksi Nyata, Bukan Sekadar Seremonial
![]() |
| Asten Bait, Tangisan Warga Amfoang: Kunjungan Wapres Jangan Cuma Seremonial! |
Harapan besar kini dititipkan di pundak pemerintah.
Kehadiran Wapres Gibran di tanah Amfoang jangan sampai layu menjadi agenda kunjungan kerja yang seremonial atau sekadar formalitas jepretan kamera pejabat.
Momentum ini harus menjadi batu loncatan lahirnya aksi nyata dari pemerintah pusat dan daerah sebagai wujud kehadiran negara bagi masyarakat kecil.
Masyarakat Amfoang merindukan adanya langkah keberlanjutan yang konkret pasca-kunjungan tersebut.
Pelayanan publik yang ramah dan inklusif harus dihadirkan melalui percepatan pembangunan kawasan Amfoang.
Di sisi lain, apresiasi dan terima kasih yang mendalam patut dilayangkan kepada pemerintah pusat, khususnya Wapres RI, yang telah sudi melangkah jauh, datang, dan membersamai masyarakat di tanah Amfoang.
Kini, saatnya masyarakat menagih komitmen tersebut: Kapan tangisan dari beranda Amfoang ini akan menyisakan air mata bahagia?
![]() |
| Asten Bait, Tangisan Warga Amfoang: Kunjungan Wapres Jangan Cuma Seremonial! Foto: Tafenpah.com/Frederikus Suni |
Donasi
Untuk memiliki website yang tertata rapi tentunya penulis sendiri harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Mulai dari perpanjangan domain, Pajak Penghasilan Negara (PPN), kuota internet, dan template yang ramah terhadap google.
Dari hati yang terdalam penulis akan berterima kasih kepada siapa saja yang mau berbagi donasi demi perkembangan tafenpah.com.
Berapa pun yang didonasikan kepada tafenpah.com akan sangat membantu kelancaran Tafenpah menuju gerakan literasi Indonesia jaya.
Sobat bisa transfer ke rekening:
* Rekening Bank Rakyat Indonesia (BRI)
* Nomor rekening (1191-01-013097-50-1)
* Nama pemilik rekening Frederikus Suni
Jangan lupa konfirmasi bukti transfer ke email tafenpahtimor@gmail.com setelah melakukan transaksi.
Terima kasih dan mari kita saling berbagi berkah
Salam tafenpah
Tafenpah - Menginspirasi dari Bumi Flobamora
Salam Literasi, Salam Inspirasi!
Sumber : Analisis TAFENPAH dan @merekamkupang




Posting Komentar untuk "Asten Bait, Tangisan Warga Amfoang: Kunjungan Wapres Jangan Cuma Seremonial!"
Posting Komentar
Diperbolehkan untuk mengutip sebagian materi dari TAFENPAH tidak lebih dari 30%. Terima kasih