Catatan Feature Jurnalistik TAFENPAH dan NUANU CREATIVE CITY , Perempuan dalam Sorotan Menenun Cerita Merangkai Perjalanan
[ Penulis : Frederikus Suni ]
![]() |
| Digital Imaging : Frederikus Suni/TAFENPAH.COM |
TAFENPAH.COM - Setiap tanggal 8 Maret, kita memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women's Day). Peringatan Hari Perempuan Internasional ini membawa kita pada beragam perspektif atau sudut pandang terkait kontribusi para puan dalam setiap aspek kehidupan.
Kehadiran perempuan di ruang publik, kini tidak hanya sebatas wacana, tetapi benar-benar nyata. Kenyataan atau fakta demikian, kita dapat menjumpai dalam setiap pergumulan hidup.
Di mana gerakan feminisme berdasarkan catatan sejarah sudah berlangsung sejak pertengahan abad ke-19, ditandai dengan konvensi hak-hak perempuan pertama di Seneca Falls, New York pada tahun 1848, yang berfokus pada hak pilih (sufrat) dan kesetaraan properti. (referensi National Women's History Museum).
Istilah "feminisme" sendiri dicetuskan oleh Charles Fourier pada tahun 1837. Dampak positifnya adalah adanya pergerakan kaum perempuan di tanah air, tepatnya di era Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat.
Kontekstualnya di setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini sebagai penghormatan atas perjuangan para puan Indonesia dalam menegakan keadilan, kesetaraan gender hingga hak pendidikan perempuan.
Sederhananya, setiap tanggal 21 April, kita kembali melihat sekaligus mendengar suara perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya.
Keputusan Presiden (Keppres No. 108 Tahun 1964) tersebut, menjadi tonggak atau awal suara perempuan Indonesia didengar dan direalisasikan dengan keterbukaan kaum patriarki (laki-laki) untuk menerima para puan dalam memajukan bangsa Indonesia di berbagai bidang kehidupan.
Berangkat dari highlight atau sorotan tersebut, di edisi ini platform literasi TAFENPAH dan Nuanu Creative City bekerja sama dalam publikasi dengan judul 'Catatan Feature Jurnalistik TAFENPAH dan Nuanu Creative City, Perempuan dalam Sorotan Menenun Cerita Merangkai Perjalanan.'
Apa itu Feature Jurnalistik?
Pertama-tama sesuai dengan pengalaman saya ketika mengikuti studi jurnalistik tahun 2020 di Tempo Institute (Pemenuhan Pra Kerja Kelas Online) dan juga Arkademi (Lembaga kursus dan pelatihan vokasi online resmi Indonesia berlisensi Kemendikbudristek) serta Ilmu Komunikasi di dua kampus berbeda, Universitas Dian Nusantara (Undira) dan Universitas Siber Asia (kampus saya sekarang ini), saya pun memberikan highlight kurang lebih sebagai berikut.
Feature Jurnalistik adalah tulisan atau ulasan non berita yang menyoroti fakta mendalam, informatif sekaligus menghibur.
Gaya bahasa Feature Jurnalistik itu sangat khas yakni naratif atau storytelling. Gaya penulisan in deep atau sangat mendalam ini bertujuan untuk kepentingan human interest (kemanusiaan).
Yang saya sukai dengan penulisan Feature Jurnalistik adalah setiap cerita (story) selalu dibingkai dengan menekankan pada emosi, dan tidak terikat waktu (timeless), berbeda dengan hard news yang menggunakan piramida terbalik, selain menonjolkan aktualitas.
Penjelasan atau pengantar di atas, sebagai ruang pengantar saya dan teman-teman untuk melihat lebih mendalam terkait sub tema 'Perempuan dalam Sorotan Menenun Cerita, Merangkai Perjalanan.'
![]() |
| Sarita Ibnoe di pameran Semburat Bali, Labyrinth Art Gallery. Foto : Public Relations Nuanu Creative City/Tafenpah.com |
Perempuan dalam Sorotan Menenun Cerita, Merangkai Perjalanan
![]() |
| Digital Imaging : Frederikus Suni/TAFENPAH.COM |
Feature Jurnalistik ini berdasarkan siaran pers dari rekan saya Ida Ayu Fabiola Grace selaku Public Relations Executive, Nuanu Creative City mengupas dua sosok seniman perempuan inspiratif, yakni ; Wicitra dan Sarita Ibnoe.
Kedua sosok seniman perempuan ini dalam semangat International Women's Day menampilkan karya mereka dalam pameran Semburat Bali di Labyrinth Art Gallery. Pameran ini berlangsung hingga 22 Maret 2026 mendatang.
Melalui praktik artistik yang berbeda, keduanya menghadirkan refleksi personal tentang pengalaman hidup, lingkungan, serta cara perempuan melihat dan merespons dunia di sekitarnya.
Mari, kita mengikuti cerita perjalanan keduanya.
Sarita Ibnoe: Menenun Cerita, Merangkai Perjalanan
| Sarita Ibnoe seniman multidisipliner. Foto : Public Relations Nuanu Creative City/Tafenpah.com |
Sarita Ibnoe merupakan seorang seniman multidisipliner. Ia berkarya dan terlibat dalam berbagai pameran sejak tahun 2013 silam.
Sarita Ibnoe dikenal luas publik tanah air hingga mancanegara melalui praktik artistik, khususnya teknik menenun tekstil.
Berdasarkan keterangan dari Wikipedia, teknik menenun tekstil adalah proses pembuatan kain dengan menyilangkan dua set benang secara tegak lurus, benang lusi (vertikal) dan pakan (horizontal/melintang), menggunakan alat tenun.
Proses ini menciptakan struktur kain yang kuat dan berpola melalui jalinan yang rapat. Teknik dasar meliputi tenun polos, kepar, dan satin, yang menghasilkan berbagai jenis kain dan motif.
Dari medium tersebut, karya Sarita Ibnoe kemudian berkembang ke berbagai bentuk ekspresi lain seperti instalasi, performans, hingga karya partisipatori.
Bagi Sarita, proses menenun bukan sekadar teknik artistik, melainkan cara untuk merangkai pengalaman hidup menjadi sebuah narasi visual.
Dalam pameran ini, ia menampilkan sejumlah karya seperti Unaccustomed, The New Art Teacher Series – Non-Technical Skills: Gestures and Watercolour #1, Resistance, serta Note. Karya-karya tersebut merefleksikan perjalanan personal sekaligus respons terhadap berbagai peristiwa sosial yang ia saksikan.
Salah satu karya yang menonjol adalah Resistance, yang terinspirasi dari gelombang gerakan resistensi yang terjadi di Jakarta—sebuah peristiwa sosial yang dalam prosesnya menelan korban jiwa. Melalui karya ini, Sarita menghadirkan refleksi sekaligus penghormatan terhadap peristiwa tersebut. Penggunaan warna hijau dan merah muda menjadi simbol solidaritas dan kekuatan kolektif masyarakat, sebuah penanda bahwa dalam situasi krisis, kekuatan sering kali lahir dari kebersamaan.
Sebagai perempuan yang berkarya di bidang seni, Sarita melihat bahwa kontribusi perempuan dalam ekosistem kreatif saat ini semakin terlihat dan signifikan. Menurutnya, perempuan tidak hanya hadir sebagai pencipta karya, tetapi juga sebagai penggerak berbagai aspek dalam dunia seni.
“Perempuan kini tidak hanya hadir sebagai pencipta karya, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem seni—sebagai kurator, peneliti, pendidik, hingga penghubung komunitas,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya ruang yang memungkinkan seniman untuk saling terhubung dan berbagi pengalaman.
“Ruang seperti ini penting untuk membangun komunitas di antara seniman, untuk berbagi cerita dan saling mendukung. Ketika kita saling terhubung, ekosistem kreatif bisa berkembang dengan lebih sehat.” tutup Sarita.
Wicitra Pradnyaratih : Lanskap Feminim dan Ritme Alam
| Wicitra Pradnyaratih seniman perempuan yang dikenal melalui eksplorasi visual. Foto : Public Relations Nuanu Creative City/Tafenpah.com |
Wicitra Pradnyaratih merupakan seorang seniman perempuan yang berbasis di Bali memiliki latar belakang pendidikan desain grafis.
Melalui praktik seni, Wicitra Pradnyaratih berkembang melalui eksplorasi visual yang memadukan medium digital dan lukisan akrilik.
Bagi Wicitra, seni merupakan cara untuk merespons lingkungan dan kultur di sekitarnya, tidak hanya dari sisi tradisi Bali, tetapi juga dari berbagai pengaruh budaya yang membentuk cara pandangnya.
Dalam praktiknya, Wicitra kerap mengeksplorasi hubungan antara alam, warna, dan suara. Melalui pendekatan audio-visual, Ia membangun narasi yang disebut sebagai feminine landscape, sebuah lanskap visual yang menonjolkan sisi organik dan emosional dari alam.
Melalui karya yang ditampilkan di Semburat Bali yaitu Tideglow dan Midnight Bloom, Wicitra merefleksikan hubungan antara waktu, siklus kehidupan, dan kekuatan yang sering hadir secara sunyi dalam alam.
Midnight Bloom, motif anggrek dan lili muncul sebagai simbol ketahanan dan ketekunan yang tumbuh perlahan di tengah keheningan malam. Terinspirasi dari tradisi seni feminis, representasi bunga dalam karya ini tidak lagi ditempatkan sebagai ornamen pasif yang identik dengan stereotip feminitas, melainkan sebagai penanda kekuatan, individualitas, dan kompleksitas pengalaman perempuan.
Dalam komposisinya, figur bunga tersebut digambarkan berada di tengah arus udara dan air yang dinamis. Meski tampak kecil dan berdiri sendiri, bunga itu tetap berakar kuat, mandiri, bertahan, dan memancarkan kekuatan yang tenang. Di pusat komposisi, bentuk menyerupai mutiara menjadi simbol inti dari daya hidup yang tersembunyi namun terus bersinar.
Bagi Wicitra, pengalaman sebagai perempuan juga turut membentuk cara ia memandang dunia dan menciptakan karya.
“Persoalannya bukan pada kapasitas perempuan, melainkan pada terbatasnya akses dan kesempatan yang seharusnya terbuka bagi siapa pun,” ujarnya.
Ia juga melihat ruang kreatif sebagai elemen penting dalam memperluas akses tersebut.
“Keberadaan platform yang memberi ruang bagi seniman untuk menampilkan karya dan berdialog dengan publik sangat penting. Harapannya, ruang-ruang kreatif seperti ini bisa terus berkembang dan menjangkau lebih banyak seniman dari berbagai latar belakang.” tambah Wicitra.
![]() |
| Digital Imaging : Frederikus Suni/TAFENPAH.COM |
Ekosistem Kreatif yang Membuka Ruang Perspektif
Bagi Nuanu, membangun ekosistem kreatif bukan sekadar menghadirkan ruang fisik bagi praktik seni, tetapi juga menciptakan lingkungan di mana berbagai perspektif dapat bertemu dan saling memperkaya.
“Galeri bukan hanya tempat memamerkan karya, tetapi juga ruang untuk membangun percakapan,” ujar Samuel David, Gallery Manager Labyrinth Art Gallery. “Kami ingin memastikan bahwa platform seperti Labyrinth dapat menghadirkan seniman dari berbagai latar belakang dan memberikan ruang bagi perspektif yang beragam—termasuk suara dan pengalaman perempuan dalam praktik seni.”
Ketika seniman dari latar belakang yang berbeda memiliki ruang untuk berbagi gagasan, percakapan kreatif yang lahir menjadi lebih dinamis dan relevan dengan dinamika masyarakat.
Melalui ekosistem yang terus berkembang, Nuanu berupaya menghadirkan ruang bagi praktik artistik yang beragam sekaligus mendorong dialog kreatif yang lebih inklusif—di mana berbagai suara, termasuk perspektif perempuan, dapat hadir dan berkontribusi dalam membentuk lanskap seni yang terus bergerak ke depan.
Tentang Nuanu Creative City
Nuanu adalah sebuah kawasan kreatif seluas 44 hektar di Bali, Indonesia, yang mewujudkan komitmen untuk hidup harmonis. Komunitas dinamis dari para kreator, pemimpin, dan agen perubahan diberdayakan untuk menumbuhkan budaya perubahan positif. Dirancang sebagai ekosistem yang terintegrasi, kawasan ini memiliki ruang-ruang khusus untuk pendidikan, seni & budaya, kebugaran, hiburan, dan kehidupan yang terinspirasi oleh alam, dengan visi untuk masa depan di mana elemen-elemen ini berpadu secara harmonis.
Tentang Labyrinth Art Gallery
Labyrinth Art Gallery adalah ruang seni kontemporer di dalam Nuanu Creative City yang memadukan jiwa dari pusat kesenian dan fungsi dari pasar seni. Mengusung konsep galeri untuk galeri dan wadah bagi seniman lokal dan global, Labyrinth menampilkan pameran berkualitas tinggi dan juga memfasilitasi penjualan seni, acara, dan kolaborasi. Berakar dari lanskap Bali, tujuan dari tempat ini adalah memudahkan akses untuk seni, koleksi, dan terpusat dalam komunitas sekitar, mendukung baik ekspresi artistik dan juga ekonomi kreatif.
Tentang TAFENPAH
TAFENPAH.COM merupakan platform literasi kebudayaan provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya etnis atau kelompok Dawan Timor.
Melalui platforms literasi TAFENPAH, generasi muda NTT berbagi cerita keseharian hingga isu-isu sosial yang berkembang, baik di tingkat daerah, nasional hingga mancanegara.
TAFENPAH "Menyuarakan Kearifan Lokal, Menginspirasi Generasi.
Tagline instgagram @tafenpahtimor "Ruang inspirasi generasi muda NTT untuk mengeksplorasi budaya, kreativitas, & kehidupan 🚀
"Mengunyah Tradisi, Meracik Inspirasi" 🌟 Suara ATOIN METO.
Demikian tulisan Feature Jurnalistik, karya kolaborasi dari TAFENPAH dan NUANU CREATIVE CITY , edisi International Women's Day dan tentu saja karya ini sangat relevan dengan cerita para puan Indonesia yang akan menjadi puncaknya pada tanggal 21 April Mendatang (Peringatan Hari Kartini 2026).
Salam dari saya, Frederikus Suni (Public Relations TAFENPAH) dan Ida Ayu Fabiola Grace (Public Relations Executive NUANU CREATIVE CITY).
Terkait informasi kerja sama publikasi dan kolaborasi, silakan hubungin saya melalui
Instagram :
WhatsApp :
082140319973
Youtube :
Tiktok :
.jpeg)


.jpeg)
Posting Komentar untuk "Catatan Feature Jurnalistik TAFENPAH dan NUANU CREATIVE CITY , Perempuan dalam Sorotan Menenun Cerita Merangkai Perjalanan"
Posting Komentar
Diperbolehkan untuk mengutip sebagian materi dari TAFENPAH tidak lebih dari 30%. Terima kasih