Atoin Meto Dalam Balutan Pilu, Bete Ana Nok Bete Naek (Potretan Pemikiran Filsuf Ernst Cassirer dalam Kebudayaan Dawan NTT)

Penulis: Frederikus Suni

Atoin Meto, Simbol Kebudayaan Etnis Dawan Timor NTT.
Tafenpah.com

Tafenpah.com - Ernst Cassirer meletakkan kebudayaan sebagai usaha manusiawi untuk memahami diri sendiri dan mengatasi berbagai persoalan melalui akal budi dan penggunaan simbol-simbol.

Atoin Meto atau kelompok etnis Timor Dawan NTT memiliki kekayaan simbolik dalam trandisi kebudayaannya.




Beberapa simbol kebudayaan Atoin Meto, biasanya dipakai ketika menjalani upacara penerimaan tamu, acara hela keta, pesta pernikahan, potretan keluarga, dan berbagai kegiatan kebudayaan lainnya.

Simbol-simbol tersebut di antaranya; Pilu, Bete Ana, Bete Naek, Tais, Kabi, Futu (Ikat Pinggang yang terbuat dari hasil tenunan).

Baca JugaMengenal Istilah dan Arti Atoin Meto - Tafenpah


Beragam simbol di atas merepresentasikan identitas Atoni Pah Meto/Atoin Meto dalam sejarah peradaban dunia.

Pembahasan mengenai simbol kebudayaan juga mengingatkan kita tentang ajaran dari salah satu filsuf blasteran atau keturunan Yahudi - Jerman, yakni: Ernst Cassirer.

Di pertengahan abad ke-20, filsuf Ernst Cassirer getol menyuarakan penggunaan simbol kebudayaan manusia.

Manusia adalah makhluk yang memiliki hak istimewa dan bertugas untuk menyelidiki segala sesuatu secara mendalam.




Untuk itu, penulis yang merupakan generasi muda dari etnis Timor Dawan/Atoin Meto bertugas untuk terus menyuarakan atau mempublikasi berbagai kekayaan simbolik kebudayaan suku Dawan Timor.

Penulis juga menyadari bahwasannya apa yang sering penulis bahas, seputar kearifan lokal budaya Atoni Pah Meto tidak mendalam.

Namun, setidak-tidaknya penulis dan juga generasi muda etnis Dawan Timor NTT harus mengenal serta mengerti dirinya sendiri. 

Karena setiap orang mempunyai tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, meskipun ia tidak perlu mengenal dan mengerti segala hal, namun setidak-tidaknya ia harus mengenal serta mengerti dirinya sendiri secara cukup mendalam untuk dapat mengatur sikapnya dalam hidup.

Persoalan sikap hidup, penulis juga menyakini bahwasannya setiap kebudayaan yang berada di wilayah Kesatuan Republik Indonesia memiliki beragam pelajaran moralnya, yang termanivestasi dalam setiap simbol kebudayaan.

Gantengnya Tetua Adat Desa Haumeni, Ketika Mengenakan Pilu, Bete Ana nok Bete Naek

Beberapa hari yang lalu, laman sosial media perusahaan Meta (Facebook, Instagram, Messenger dan WhatsApp) dipenuhi dengan postingan Tetua Adat Desa Haumeni, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang serentak mengenakan simbol-simbol kebudayaan etnis Timor Dawan.

Baca JugaContoh Penggunaan Bahasa Dawan Setiap Hari dalam Kehidupan Atoin Meto


Investigasi pun dijalankan oleh tim Multimedia Tafenpah.com dan berhasil menemukan alasan di balik penggunaan atribut; Pilu, Bete Ana nok Bete Naek dari tetua adat desa Haumeni, yakni: perayaan atau pesta pernikahan dari salah satu generasi Haumeni, yakni: Gusti Nule dan Asty Kapitan.

Nuansa pernikahan yang dibalut dengan kegembiraan, rasa syukur, dan harapan untuk kelanggegan pasangan muda tersebut, berhasil diabadikan dengan lanskap kebudayaan Atoni Pah Meto.

Menyingkap makna simbolik di balik penggunaan atribut Tetua Adat Desa Haumeni tersebut, dapat memberikan insight atau cara pandang baru bagi etnis Timor Dawan untuk bahu - membahu melestarikan kearifan lokal budayanya di tengah gempuran budaya asing.

Karena bagaimana pun, penggunaan atribut kebudayaan merupakan bagian dari penguatan karakter dan jati diri Atoni Pah Meto yang lahir dan dibesarkan dalam tradisi kebudayaan Timor Dawan.

Jika, Sokrates mendekati manusia sebagai individu, Lalu Plato mendekati manusia sebagai individu, memiliki berbagai macam keterbatasan. Kemudian, datanglah Ernst Cassirer dengan kritik dan sarannya, yakni: menyebutkan bahwa dalam sejarah keberadaan manusia, negara adalah hasil proses peradaban yang datang kemudian. Jauh sebelum terciptanya negara sebagai suatu bentuk organisasi sosial, manusia sudah melakuakan berbagai percobaan lain untuk menata dan mengatur keinginan, perasaan dan pemikiran-pemikirannya. Penataan dan sistematisasi seperti demikian terjadi dalam bentuk bahasa, mitos, agama dan kesenian. Bentuk-bentuk tersebut merupakan unsur-unsur dasar dari kebudayaan. 

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa, bagi Ernst Cassirer, manusia pertama-tama harus didekati dari budaya. Sebab pada kenyataannya manusia adalah makhluk yang membudaya yakni makhluk yang hidup dalam dan melalui unsur-unsur budaya itu sendiri. 


Demikian potretan kearifan lokal budaya Timor Dawan NTT dari portal Tafenpah.com. Kritik dan saran sangat diharapkan admin, demi perbaikan karya-karya digital Tafenpah ke depannya.


Sumber tulisan: Tafenpah.com Link Artikel rujukan di bawah ini;



Frederikus Suni Admin Tafenpah Group
Frederikus Suni Admin Tafenpah Group Frederikus Suni (Fredy Suni) Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Siber Asia (Asia Cyber University) | Frederikus Suni pernah DO dari Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana Malang dan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara (Undira) Jakarta || Terkait kerja sama dan informasi iklan bisa melalui email tafenpahtimor@gmail.com || || Instagram: @suni_fredy || @tafenpahcom || @pahtimorcom || Youtube: @Tafenpah Group

Posting Komentar untuk "Atoin Meto Dalam Balutan Pilu, Bete Ana Nok Bete Naek (Potretan Pemikiran Filsuf Ernst Cassirer dalam Kebudayaan Dawan NTT)"