Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisahku Tentang Dunia Jurnalistik


Kisahku tentang dunia Jurnalistik. Tafenpah.com

Setiap dari kita pasti punya kisah dan cerita tersendiri seputar dunia Jurnalistik.


Sejatinya jurnalistik tak lepas dari kegiatan menjaring ide, menulis dan mempublikasikannya kepada khalayak umum. Dua tahunyang lalu, saya dipoles dengan sentuhan dunia jurnalistik dari Kang Pepih Nugraha.

Saya masih ingat jelas apa yang dikatakan oleh Kang Pepih Nugraha di Arkademi yakni, “apa yang kamu lihat, itulah berita. Apa yang kamu rasakan itulah puisi dan apa yang kamu khayalkan itulah fiksi.”

Sebagai siswa yang baru terjun ke dunia jurnalistik, tentunya saya tidak paham dengan perkataan Kang Pepih Nugraha. Seiring dengan mesin kordoba waktu, perlahan-lahan saya memahami apa yang dikatakan oleh Kang Pepih.

Di mana setiap peristiwa remeh-temeh yang bagi sebagian orang di lingkungannya adalah hal biasa. Namun, bagi seorang wartawan, penulis dan pegiat literasi apapun pasti memandangnya sebagai sesuatu yang sangat bernilai.

Sesuatu itu bernilai karena mengandung rasa empati dan simpati dari setiap persoalan hidup yang terjadi di dalam lingkungan kita. Dengan menulis kita pun terlibat dalam gerakan humanisme global.

Selain itu, perasaan patah hati, keresahan atas lingkungan sosial dan ketidakpuasaan seseorang bisa disampaikan dalam untai puisi yang indah. Melalui puisi, setiap orang akan ikut bersenandung dan pesan suara hati kita akan didengar oleh para pemimpin.

Lebih jauhnya, imajinasi kita akan menghasilkan karya fiksi yang membawa orang pada puncak kenikmatan. Menikmati kehidupan dalam terang dunia jurnalistik tidak akan pernah lekang oleh waktu dan ruang. Kecuali maut yang memisahkan kita para penguliknya.


Mengulik aksara mengabadikan momentum kehidupan. Mengemas naluri membawa orang pada kenyamanan. Bila diriku dan dirimu sudah nyaman dengan dunia literasi, untuk apa kita berpaling pada yang lain.

Memang cinta itu terkadang melompat-lompat. Bagaikan lompatan kecintaan saya terhadap dunia literasi. Berawal dari rumah Arkademi, saya pun jatuh cinta dengan dunia literasi.

Mencintai literasi ibarat menyematkan rindu yang tak termakan oleh waktu dan ruang. Walaupun saya sadar bahwasaanya kehidupan kita akan bermuara pada satu titik. Namun, sebelum mencapai titik itu, sebagai insan yang memiliki rasio secara bebas dan bertanggung jawab, tugas saya hanya satu yakni terus mengobarkan api literasi dari daerah pinggiran.

Ilustrasi gambar dari detik.com

Sebagai pegiat literasi yang berasal dari bagian Timur Indonesia, khususnya NTT, saya sangat prihatin dengan talenta-talenta muda berbakat yang masih dipenjara oleh keadaan. Ribuan anak muda yang menaruh harapan besar pada dunia Sastra. Namun ketiadaan sarana dan prasarana di daerahku, perlahan-lahan menguburkan niat baik generasiku untuk bangkit dan berkarya bagi dunia literasi NTT dan Indonesia.

Harapan saya dari rumah Arkademi, Kompasiana, Yayasan Penerbitan Thamrin Dahlan (YPTD), blog pribadi, serta karya-karya novelku menjadi pemicu semangat bagi generasi di daerahku untuk bangkit dari keadaan. 

Naluri humanisme semakin membuncah dalam diriku untuk membantu talenta-talenta muda NTT dalam berkarya. Tak perlu menjadi orang hebat untuk berkarya, tapi mulailah dari langkah pertama yang terkadang banyak liku-liku kehidupan.

Yakin dan percayalah bahwa sehabis hujan masih ada pelangi. Dan sehabis masalah pasti ada hamparan bintang yang sudah menanti di ujungnya.

Frederikus Suni Admin Tafenpah Group
Frederikus Suni Admin Tafenpah Group Frederikus Suni (Fredy Suni) Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Siber Asia (Asia Cyber University) | Frederikus Suni pernah DO dari Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana Malang dan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara (Undira) Jakarta || Terkait kerja sama dan informasi iklan bisa melalui email tafenpahtimor@gmail.com || || Instagram: @suni_fredy || @tafenpahcom || @pahtimorcom || Youtube: @Tafenpah Group

Posting Komentar untuk "Kisahku Tentang Dunia Jurnalistik"