Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ngobrol Asyik Bersama Mahasiswi Undana Seputar Kesukaan Perempuan Milenial

Rekan ngobrol milenial. Jetri 


Hello sobat Tafenpah, kembali lagi ya bertemu dengan saya yang setiap hari selalu menyapa kamu. Saya berharap, di edisi ini, kamu pun masih “stay stune” bersama saya di rumah Tafenpah ya.


Karena ada sesuatu yang spesial dari perbincangan saya dengan salah satu rekan yang sementara menempuh pendidikan di Universitas Nusa Cendana  (Undana). Obrolah kami seputar kesukaan milenial, terutama perempuan.


Berikut adalah cuplikan dari obralan kita!


Sebagai generasi milenial, hal apa saja yang paling disukai oleh perempuan?


Hal mendasar yang paling disukai oleh perempuan adalah media sosial.  Sobat Tafenpah pasti mengernyitkan dahi ya. Karena jawaban yang diberikan oleh rekan saya pasti berseberangan dengan apa yang sudah ada di dalam benak pikiran kalian.


Saya pun ketika mendengar jawaban itu, awalnya saya tidak percaya. Gegara pandangan masyarakat kita selalu konotasi negatif kepada kaum perempuan yang cenderung mengejar harta dan kesuksesan daripada media sosial.


Tentu jawaban ini pun secara subjektif (pribadi) dari rekan saya ya. Karena setiap orang itu bebas berpendapat. Mungkin rekan milenial yang punya jawaban lain, bolehlah sesekali join sama saya di rumah Tafenpah.


Lebih lanjut, rekan saya menekankan bahwasannya kesukaan milenial perempuan itu tergantung dari setiap pribadi ya. Hal ini berkaitan dengan intensi penggunaaan media sosial untuk tujuan apa?


Mengapa milenial perempuan suka bermedia sosial?


Sebenarnya katong (istilah bahasa Kupang yang berarti kami) menemukan hal-hal positif, ketika bermedia sosial. Apalagi di zaman sekarang ilmu pengetahuan pun tersedia gratis maupun berbayar di media sosial.


Alasan mendasar dari kesukaan rekan saya untuk bermedia sosial adalah ia jadikan media sosial sebagai wadah/tempat untuk menyalurkan hobinya. Mengingat ia sangat mencintai bidang tarik suara.


Melalui Instagram dan You tube, ia membuat video dengan mengarasemen lagu lalu dipublis di akun miliknya.


Hal penting yang ditekankan di poin ini adalah baik dan buruk media sosial itu tergantung dari katong mau lihat dari perspektif yang mana? 


Jika katong mempunyai intensi yang baik untuk bermedia sosial, tentu katong akan mengakses hal-hal yang baik dari media sosial. Sebaliknya, jika media sosial digunakan untuk hal-hal negatif, itu tergantung dari setiap orang.


Tambahan dari saya. Manfaat media sosial itu untuk pengembangan soft skill.


Ada nggak hal lain di media sosial. Misalnya pantau si doi (pacar?


Heheheeh………tergantung dari pengguna mau gunakan untuk pantai si doi atau tidak! Rupanya rekan saya tidak terjebak dengan pertanyaan saya. Syukurlah. Ntar dibilangin curhat. Makin runyam ya sobat Tafenpah.


Apa saja genre musik yang bosong (kamu) suka?


Rekan saya dengan nada santai mengatakan bahwa ia lebih condong ke musik Pop. Menyanyi adalah bagian dari representasi (perwakilan) jiwa. Tujuannya pesan apa pun yang ingin kita sampaikan ke audiens (umum) bisa tersampaikan hanya melalui seni musik. 


Ya, karena pesan emosi saja tidak cukup menggugah hati pendengar. Akan tetapi, ketika kita memilih seni musik untuk menyampaikan pesan dari suara hati kita, semua orang akan hanyut dengan perasaannya. Dan itulah saat yang tepat untuk merangkul dan mengarahkan pendengar.


Seirama ajaran dari filsuf Martin Heidegger; “ Jika badai salju turun membasahi bumi, itulah saat yang tepat untuk bertanya dan berfilsafat.”


Kira-kira bosong nih sudah berapa lama gunakan media sosial?


Sejak saya masih SMP, saya sudah menggunakan media sosial. Terutama FB. Sementara IG dan You tube baru di tahun 2020.


Alasan beta pakai You tube adalah untuk mengakses materi kuliah dan mengerjakan tugas kuliah. Mengingat Pandemi telah memaksa semua orang untuk melakukan segala sesuatu dari rumah.


Sedangkan, manfaat dari Ig bagi beta adalah demi kelancaran kegiatan Powering The Movement Plan Indonesia.


Hal ini terkait dengan “Penguatan Jaringan Kapasitas Kaum Muda Melawan Perkawinan Anak Usia Dini.”


Model kegiatan ini sangat bermanfaat bagi beta yang masih mengenyam pendidikan di Undana. Terutama bagi katong kaum muda untuk peduli pada kampanye edukasi melawan perkawianan usia dini di NTT.


Sebagai milenial yang daya keponya tinggi, bosong pernah ngak akses aplikasi kencan online, seperti; Tinder, Bumble, tantan dan Coffee Meets Bagel?


Hehehe dengan senyum malu-malu, rekan saya mengatakan bahwa ia sonde (tidak) pernah berpikir untuk mengakses aplikasi kencan online tersebut dari mbak google.


Di mana saja tempat yang paling nyaman bosong bermedia sosial?


Menurut beta di mana pun pasti beta bermedia sosial. Tergantung ketersediaan signal.


Heheeh, beruntung ya, zaman sekarang kita tak perlu repot-repot untuk manjat pohon demi mencari signal. 


Bagaimana perasaan bosong, ketika bermedia sosial?


Flying (terbang) dan terus ketagihan. Beta mungkin adalah sebagian besar manusia di planet ini yang sudah terhipnotis dengan sidrom dari media sosial itu sendiri.


Ya, saya pun juga merasakan hal demikian. Tentu pembaca Tafenpah juga pasti mengalami ini kan? Jika jawaban tidak, berarti kamu adalah pribadi yang tangguh dan tahan godaan untuk bermedia sosial. Tapi, sepertinya mustahil ya di zaman sekarang.



Pesan dari rekan mahasiswi Undana 


Media sosial itu tidak negatif. Tergantung mindset (pola pikir) kita dalam bermedia sosial itu. Jika, intensi kita bermedia sosial jika hanya untuk kesenangan itu pun tidak masalah. Yang terpenting jangan merusak diri dengan bermedia sosial.


Media sosial adalah laboratorium ilmu pengetahuan. Intinya, kita memiliki semangat untuk mencari tahu atau tidak!


Sobat Tafenpah, begitulah obrolan asyik antara saya dengan rekan mahasiswi Undana seputar kesukaan media sosial bagi perempuan.


Pertanyaan reflektif untuk kita generasi milenial. Menurut kalian, dampak MEDSOS mana yang paling rawan terjadi dalam kehidupan kita saat ini dan di masa yang akan datang?


Untuk menjawabi pertanyaan reflektif ini, kalian cukup duduk, mengambil nafas seolah-olah kalian sedang bermediatasi di tepian pantai yang dibalut dengan ragam keindahan. Sembari menikmati kopi hangat dan menjawabnya dengan jujur ya.


Salam Tafenpah.



Profil dari rekan ngobrol : Jetri Tefa

Mahasiswi FKIP MATEMATIKA UNDANA



Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Ngobrol Asyik Bersama Mahasiswi Undana Seputar Kesukaan Perempuan Milenial"