Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Serpihan Rasa di Ujung Kenikmatan

Serpihan rasa di ujung kenikmatan.Kumparan.com


Terkadang kita menghabiskan waktu untuk memadu cinta, bepergian, bersantai ria, bekerja dan ngobrol ngadul-ngidul seputar masalah remeh-temeh kehidupan.

Obrolan yang asyik membantu kita untuk melepaskan racun kebencian di dalam diri. Sementara obrolan yang tak mengasyikan justru menambah beban virus kebencian di dalam diri.

Perpaduan antara obrolan asyik dan tidka mengasyikan adalah bagian dari kegiatan yang kita lakukan setiap hari. Sadar atau tidka sadar kita selalu bersentuhan dengan kedua peristiwa tersebut. Akibatnya, kita selalu menikmati dan terus menenggelamkan diri ke dalam lingkaran kenikmatan.

Kenikmatan di balik setiap peristiwa yang kita lakoni mampu memberikan warna-warni kehidupan. Layaknya jalinan percintaan antara kawula muda di manapun.

Kisah percintaan akan selalu menjadi topik utama dalam kehidupan. Karena kehidupan pun berawal dari kisah percintaan itu sendiri. Menarik apa yang dikatakan oleh para filsuf seputar dunia percintaan. Dan yang paling menyita perhatian adalah cinta eros.

Cinta yang berlandaskan pada kepuasaan untuk bersetubuh dengan pasangan tanpa adanya penghargaan. Ibarat serpihan rasa di ujung kenikmatan.

Serpihan rasa di ujung kenikmatan bukan hanya berlaku bagi dunia percintaan. Melainkan juga berlaku dalam dunia persahabatan, pekerjaan, karir dan prestasi yang membanggakan pada zaman lampau.

Entah ke manapun kita berlari, jejak tapak kita akan kenikmatan dan kepahitan masa lalu akan selalu mengejar kita. Cara terbaik untuk menjadikannya sebagai kekuatan adalah merangkulnya. Bak rangkulan kemesraan antar pasangan di tempat-tempat yang romantis.

Romantisme dan kejayaan masa lalu setiap orang selalu mengikuti arah perputaran roda mobil. Terkadang di bawah, di tengah dan di atas. Tak selamanya seorang laki-laki ataupun perempuan berada di bawah ataupun di atas. Bisa juga di samping kiri dan kanan. Itulah makna dari cinta eros dalam dunia filsafat.

Mirisnya hingga kini, kita masih mengibas dan berusaha untuk mengumpulkan serpihan-serpihan rasa masa lalu. Memang kita tak pernah melupakan masa lalu. Namun, kehidupan terus berlanjut. Move on adalah cara terbaik untuk melepaskan serpihan rasa di ujung kenikmatan karir, prestasi, percintaan dan segala hal yang menyenangkan di masa lalu.

Saatnya kita berani mengangkat wajah dan menatap bintang-bintang di langit yang tak lama lagi akan bersinar dan menerangi malam. Andaikan kau dan aku selalu bersama dalam satu dermaga kehidupan, kita pun akan berjuang bersama dalam mengarungi lautan biru ini.

Mari dan jangan terlalu kasar dan keras terhadapap diri sendiri. Sayangilah diri sendiri, sebelum orang lain kembali menyayangi kita seutuhnya.


Salam tafenpah


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Serpihan Rasa di Ujung Kenikmatan"