Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Anda Sering Merasa Insecure (Menghakimi Diri)? Yuk, Belajar Dari Dokter Ivy Vania Ariany!

 

Dokter Ivy Vania Ariany. Rekan Kompasianer

Perkenalkan, nama ku adalah Ivy. Kata papaku, nama ini singkatan dari kalimat i love you. Ya, memang terdengar romantis. Dan saya memang adalah sosok yang romantis. Tapi keromantisan ini tidak hanya dibangun dalam satu malam.

Dulu Ivy adalah anak yang pemalu, rendah diri. Intinya merasa paling buruk dan paling bodoh. Tubuhnya yang gemuk, berjerawat, belum lagi keringat yang mudah terkucur membuat ia merasa rendah diri.

Pada saat SMA Ivy mulai sadar bahwa penampilan itu penting. Mulailah ia diet, dan menggunakan sedikit riasan wajar agar terlihat lebih segar. Tapi entah kenapa teman-temannya merasa “Ivy tidak nyambung diajak ngobrol” sehingga tetap saja ia dikucilkan. Mungkin dari pembawaan dirinya yang pemalu, berjalan sambil menunduk, itulah yang membuat teman-temannya melihat dirinya sebagai orang aneh.


Semasa kuliah di kedokteran gigi, Ivy tumbuh menjadi anak yang penyendiri. Tidak mau dekat dengan orang lain, karena menurutnya manusia hanya akan menyakitinya. Kurang lebih ia punya pikiran seperti itu hingga pertengahan kuliah kedokterannya.


Ditengah-tengah kesendiriannya, ia berusaha memahami apa itu kehidupan. Apa yang telah terjadi dengan dirinya, bagaimana ia bersikap, langkah apa selanjutnya yang akan ia tempuh. Maka ia sering mendengar kata-kata mutiara dari berbagai berbagai sosok terkenal, sebut saja Mario Teguh, Merry Riana dan Jay Shetty.

Saya berharga

Ada sebuah perumpamaan mengenai nilai seseorang. Jay Shetty memberikan perumpamaan dua lembar uang yang nilainya masing-masing 20 dolar. Ia mengangkat dolar pertamanya kemudian bertanya “siapa yang mau uang ini?” Sontak semua penonton mengangkat tangan. Kemudian ia. Mengambil selembar uang 20 dolar lainnya, uang itu dihancurkan, diinjak- injak, lalu ia bertanya “siapa yang mau uang ini?” Dan semua orang tetap mau mengambil uang yang sudah rusak dan kotor itu.


Jay Shetty membuka pikiran Ivy, bahwa seburuk apapun dirinya, ia tetap berharga. Dan ini menjadi sebuah pelajaran bahwa, semua orang berharga, terlepas dari status sosial, pendidikan, atau apapun itu.

Pergaulan menentukan masa depan

Kurang lebih Merry Riana berkata “dengan siapa kamu bergaul akan mempengaruhi masa depanmu.” Jika kita bergaul dengan orang-orang negatif, suka mencemooh, suka bergosip, maka kita juga akan menjadi seperti itu. Begitupula juga sebaliknya, jika kita bergaul dengan orang-orang positif, orang yang rajin, maka kita juga akan menjadi seperti itu.


Maka Ivy memutuskan untuk membuat kelompok pertemanan. Ia memilah-milih teman yang positif adalah teman yang ia dekati, sedangkan ia menjauhi orang yang negatif. Ia meyakini bahwa manusia memang tidak ada yang sempurna, tapi Ivy berhak untuk menentukan hidupnya untuk menjadi lebih baik. 


Ivy yang dulu selalu bersikap negatif karena diisi oleh pikiran-pikiran negatif. Ia telah berhasil menjauhi sumber pemberi kata-kata negatif tersebut. Ivy yang sekarang adalah orang yang berpikir positif dan optimis. Tidak ada satu orangpun yang bisa menghalangi dirinya

Masa depanmu masih indah

Salah satu kata-kata yang membuat saya bangkit adalah dari Mario Teguh, yang mengatakan

“masa lalu mu boleh kelam, tapi masa depanmu indah” asalkan ada niat untuk berubah.


Ini adalah salah satu alasan Ivy yang dulu untuk bangkit. Sosoknya yang minder karena jelek dan gendut tidak menghalangi dirinya untuk berubah. Ia rajin menonton video tutorial makeup, ia mendandani dirinya hingga cantik, ia diet dan olahraga agar tubuhnya ideal.


Sekarang ia sudah mendapatkan bentuk fisik yang sesuai keinginannya. Dahulu sifat saya yang aneh membuat orang meninggalkan saya, padahal pada saat itu saya sedang sakit. Bukannya pertolongan yang ada, tapi malah dijauhi. Inilah yang membuat saya untuk berpikir obyektif. Saya tetap berbuat baik pada semua orang tanpa melihat masa lalu orang tersebut. Saya berusaha menjadi sosok yang romantis pada semua orang karena kita tidak tau masa lalu orang itu, malah mungkin orang itu membutuhkan pertolongan seperti saya dulu.

Sosok wanita baru

Pandangan Ivy yang sekarang berbeda akan kehidupan. Saya sekarang memandang kedepan. Dalam 20 tahun kedepan saya ingin menjadi dokter gigi yang dikenal edukatif dan profesional. Saya ingin pensiun diusia 45 tahun.


Maka sekarang saya menjadi sosok yang haus akan ilmu. Saya mengambil kelas S2 jurusan Magister Manajemen untuk membuka wawasan saya akan dunia ini. Bagaimana membuka sebuah usaha, bagaimana uang bekerja untuk saya, bagaimana hukum usaha di indonesia, dan apa itu saham. Ditambah kata-kata Sandiaga Uno yang mengatakan bahwa kekayaannya tidak akan sebanyak ini jika ia tidak berinvestasi. Ya, membuat saya semakin tertarik dengan dunia investasi.


Saya menyibukan diri saya untuk membangun personal branding. Agar masyarakat tau bahwa saya adalah dokter gigi, maka saya rajin membuat konten-konten edukatif mengenai kesehatan. Konten-konten ini juga untuk menunjukkan bahwa, meskipun saya dokter gigi fresh graduate, tapi saya adalah dokter gigi yang berkompeten. Konten edukatif saya membuahkan hasil. Saya diterima bekerja di  klinik gigi ternama, dan beberapa pasien hanya mau dirawat sama saya karena telah melihat konten saya. Hehe lumayan menambah omzet saya.


Saya bangga pada diri saya bahwa saya memperoleh tempat kerja dan apresiasi dari pasien dan owner klinik atas usaha saya sendiri. Bisa dibilang, penilaian terhadap saya objektif, bukan karena adanya koneksi. Malah saya perhatikan, banyak klinik gigi dan sosial media kesehatan yang mengikuti cara saya membuat konten. Saya juga beberapa kali diminta menjadi pembicara di seminar. Ini adalah kebanggan buat saya karena artinya konten sosialmedia saya menginspirasi banyak orang.


Dear teman-teman semua, tidak ada yang tidak mungkin. Keyakinan akan diri yang berharga, jenis pergaulan, niscaya apa yang kita inginkan akan tercapai.


Ditulis oleh Dokter Ivy Vania Ariany

Saat ini ia bekerja di beberapa klik gigi sesuai dengan bidang kuliahnya. Ia adalah jebolan dari Fakultas Kedokteran Gigi/Dentistry di Universitas Trisakti. 


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Anda Sering Merasa Insecure (Menghakimi Diri)? Yuk, Belajar Dari Dokter Ivy Vania Ariany!"