Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Senyum Terakhir

Senyum Yang Terakhir.Pixabay.com

Pagi itu suasana Gereja begitu meriah. Kicauan burung-burung diluar sana melantunkan kidung menambah meriah suasana pagi. Di luar sana juga, ranting-ranting pohon ikut menari dalam interzonenya mengikuti alunan musik dan hembusan angin sepoi-sepoi. Pagi ini terasa asing, tetapi aku tak tahu apa itu. Aku dan Dom pun melanjutkan kegiatan kami yaitu mengikuti ekaristi pagi ini. 

Aku hanya termenung diam tak bersuara menikmati indahnya imajinasiku yang muncul secara tiba-tiba dalam pikiranku. Carra... Carra... Carra...! suara dan jari jemari Dom mengangetkanku, ternyata kotbahnya sudah usai sejak tadi dan sekarang waktunya untuk doa umat. 

Entah apa yang terbesit dalam pikiranku, tetapi hari ini sangat lain bagiku. Aku seperti tidak memiliki semangat untuk menjalani hari ini meskipun hari terasa indah. Pikiranku berlari kesana kemari tak menentu, apakah ini karena dia?? ya dia sang malaikat tak bersayap pemilik senyum indah merah merona yang selalu ada buatku. Hari ini seperti tak biasanya, sudah 2 minggu batang hidungnya tak juga muncul dihadapanku. 

Tempat duduk favoritnya, tempat dia biasa melemparkan senyum padaku juga terlihat tergantikan oleh orang lain. Melihat dia tak berada si seberang sana, hatiku bertanya-tanya tentang dirinya. Dimanakah dia? apa dia sedang sakit? Apakah dia masih marah padaku atas candaanku kemarin? Hatiku tetap tak tenang walau kucoba tuk berpikir positif. Akhirnya misa kudus pun berakhir, tetapi pertanyaan tentang dirinya tak kunjung usai di kepalaku begitu pula dengan hati ini. Hati ini terasa sepi dan risau, ingin rasanya bertemu dengan dirinya dan bercanda tawa bersama. 

Namun aku masih bigung harus menemui dia dimana. Aku pun mencoba mencari dirinya diantara umat-umat yang hadir saat itu. Aku tak tahu sudah berapa kali aku menoleh ke kiri dan ke kanan di tengah kerumunan orang banyak ini. Hal yang tak biasa ku ini pun membuat Dom sahabatku bingung akan tingkahku hari ini. Setelah beberapa menit mencari, tanpa sengaja aku mataku terpaku pada sebuah tangan yang melambai dengan anggunnya dan lambaian itu tertuju pada diriku. Awalnya aku merasa bingung akan sosok yang melambai itu, tetapi semakin aku memperhatikannya ternyata itu adalah lambai dari sosok yang aku cari dari sejak tadi. 

Aku pun berlari menghampiri sosok yang kucari itu tanpa memperdulikan ratusan pasang bola mata yang menatapku dengan bingung, terlebih Dom sahabatku. Saat itu akal sehatku terasa melayang jauh, aku tak peduli akan apa yang mereka pikirkan tentang diriku karena yang terpenting saat ini bagiku adalah bertemu dengan malaikat tak bersayapku. Selamat hari minggu kaka! Balutan suara nan merdunya dan senyuman khasnya menyambutku dan mewarnai pagi itu. Kuulurkan tanganku untuk meyambut tangan lembutnya sambil ku mencoba mengatur nafasku yang masih terengah-engah. Aku tak meyangka dapat berjumpa dia, padahal kupikir dia tak hadir lagi di misa kali ini. 

Hari itu kami pun berjalan-jalan dan mengunjungi semua tempat yang biasa kami kunjungi. Hari itu pun kami tutup dengan menatap indahnya senja sore dengan siluet merahnya dari puncak gunung. Detik, menit, jam dan hari pun berlalu, waktu berjalan dengan garangnya tanpa memperdulikan siapapun yang melintas. Hari-hariku pun kulewati dengan rutinitas seperti biasanya yaitu kuliah dan berorganisasi. Namun, semua hari yang kulewati terasa asing dan terasa ada yang mengganjal. Sudah hampir beberapa hari ini tak ada kabar dari malaikatku semenjak pertemuan dan perjalanan itu. Sudah beberapa hari ini ponselku tidak menangkap kabar dari dia. Saatku mengabarinya dan menanyakan keadaannya, tidak ada jawaban. 

Semua pesan yang aku kirimkan tidak ada balasan dan saatku mencoba menghubungi telepon seluler di seberang sana tampaknya sedang mati. Semua sahabat-sahabatnya sudah aku tanyai tetapi tetap saja semua mengatakan tidak tahu keberadaannya. Akhirnya aku memutuskan untuk mencarinya ke tempat tinggalnya, mungkin disana aku bisa mendapatkan secercah harap tentang dirinya. Sesampainya di depan rumahnya, rumah Icha tampak sepi dan tidak seperti biasanya. 

Rumah itu tampak tak berpenghuni, tetapi karena rasa ingin tahuku yang tinggi kucoba tuk mengetuk pintu rumah itu. Setelah menunggu beberapa saat, sosok wanita penghuni rumah itu pun keluar. Namun yang keluar bukanlah wanita yang aku cari tetapi ibu dari malaikatku. Setelah berbasa-basi langsung saja aku menanyakan keberadaan Icha. Saatku bertanya kedua kalinya raut wajah wanita itu tampak pucat dan sendu. 

Hatiku merasa bigung dan serba salah, apakah ada yang salah dari pertanyaanku?. Namun kucoba bertanya kembali, tetapi wajah ibu semakin tampak sendu dan matanya mulai berkaca-kaca. Akhirnya aku pun memutuskan diam dan menunggu jawaban dari wanita ini. Wajahnya begitu sendu, tampaknya dia menahan rasa yang bergejolak dihatinya sambil mengumpulkan tenaga dan kata-kata untuk menjawab semua tanya yang aku tujukan kepadanya. 

Lamaku menunggu jawaban darinya, akhirnya dia menumpahkan semuanya dengan tetesan air mata yang menganak di pipinya. Aku merasa heran dan bersalah dengan semua pertanyaanku, mengapa wanita yang didepanku ini menangis tersedu-sedu? Aku pun merasa khawatir dan kembali bertanya: tante kenapa menangis? Ada apa dengan Icha?. Dengan tangis yang masih tersisa, dia hanya mengatakan agar aku mengikutinya ke suatu tempat. Aku pun mengikuti permintaannya. Awalnya aku heran mengapa ibunya Icha mengajakku ke pemakaman. Aku ingin sekali bertanya mengapa kami pergi ke tempat ini. 

Setelah melewati beberapa nisan akhirnya kami pun berhenti disebuah nisan yang bertuliskan Michaela Icha Zuidit. Aku hanya terdiam dan membisu melihat semua itu. Aku tak percaya akan semua yang ada dihadapanku saat itu. Aku pun bertanya kepada ibu itu tentang semua yang terjadi dan apa maksud dari semua ini. Ibunya Icha pun mengatakan bahwa Icha sudah tiada, dia sudah tenang bersama bapa di surga. Aku: mengapa Icha menyembunyikan semuanya dari diriku tante? Ibu: Icha tak ingin kau bersedih nak. Icha tak mau menyusahkanmu. Aku pun terdiam mematung mendengar semuanya itu. Ternyata pertemuan kami minggu itu adalah yang terakhir kalinya. Dia tak ingin aku menghantarnya untuk terakhir kalinya. 

Bersamaan dengan itu ibunya Icha pun memberikan secarik kertas padaku. Dear, Carra Bagaimana kabarmu sahabat? Aku harap kau baik-baik saja. Pertama-tama aku minta maaf padamu karena menghilang begitu lama darimu. Maafkan aku atas semua itu. Sebenarnya selama ini aku harus melakukan pengobatan intensif atas penyakit yang aku derita. Maaf karena aku tak jujur padamu atas keadaanku, aku memang sahabat yang buruk. 

Aku tak ingin kau resah dan kepikiran atas keadaanku. Aku ingin kau fokus pada skripsimu, sehingga kelak kau bisa melanjutkan mimpimu menjadi seorang imam. Masih ingatkan dengan mimpi masa kecilmu? aku harap kau masih mengingatnya. Aku ingin kau menggapainya dan bisa menjadi pelayan yang baik bagi semua orang. 

Maafkan aku mungkin saat kau menggapainya aku tak ada di sisimu secara ragawi tetapi ingatlah saat itu aku akan berada disisimu selalu dan selalu ada di hatimu. Aku ingin kau selalu menjalani harimu dengan senyum yang sering engkau tunjukkan kepadaku. Hiduplah terus dengan kebahagiaan dan raihlah mimpi itu. Mulailah hidup baru tanpa diriku. Terimakasih atas waktu yang kau berikan padaku untuk yang terakhir kalinya itu. 

Aku harap engkau dapat merelakan aku. Salam dari sahabat baikmu Icha. Membaca surat itu tanpa terasa air mataku pun menetes dan mulai menganak di pipiku. Aku masih tak percaya akan semua ini. Namun aku haruslah merelakan dia dan memulai hidup baru. Selamat jalan sahabat selamat berbahagia di atas sana.

Penulis Martinus Tumanggor




 

Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Senyum Terakhir"