Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Masih Adakah Budaya Permisif?

Budaya permisif sudah diajarkan oleh orangtua kita sedari kecil.Nakita.grid.id


Marah, kecewa dan tensi semakin tinggi, gegara artikel saya sudah mulai bertebaran di mana-mana. Saya tidak melarang untuk media yang lain menayang kembali artikel saya. Namun, utamakan budaya permisif.


Budaya permisif itu adalah pintu menuju rumah orang lain. Bagaimana kita mengunjungi lapak atau rumah orang lain, jika tuan rumah belum membukakan pintunya?


Tentu kita akan mengetuk pintu terlebih dahulu. Cara mengetuk pintu pun bukan main dobrak saja. Melainkan dengan ketukan yang elegan dan bisa menghasilkan bunyi ketukan yang tenang.


Tuan rumah pun akan membukakan pintu bagi kita. Sama halnya, jika kita ingin menayangkan artikel yang sudah tayang di media lain. Hal pertama yang kita lakukan adalah mengirimkan email kepada pemiliknya.


Apalagi di profil penulis sudah tertera email dan akun dari penulis sendiri. Dengan cara mengirimkan email, penulis akan merasa senang dan bahagia, jika karyanya ingin dimuat lagi di media lain.


Sebenarnya sudah lama saya ingin berontak. Namun, saya masih mengendalikan diri. Karena segala sesuatu yang kita nikmatin saat ini adalah bagian dari pengulangan.


Bedanya pengulangan yang kreatif dan inovatif. Dikatakan kreatif, jika seorang penulis mendapatkan ide dari sumber tertentu, dan ia mulai berimajinasi dalam menciptakan karya yang original dan bercita rasa inovatif.


Budaya Permisif 

Seiring dengan banjir teknologi, cara hidup kita pun sudah dikikis dengan berbagai pandangan dalam dunia tipu-tipu.

Dahulu kala nenek moyang kita selalu menjunjung tinggi budaya permisif dalam melakukan segala hal.


Apakah salah jika kita melestarikan budaya permisif?

Tentu tidak ada yang salah! Justru budaya permisif akan menghantar kita untuk mengenal banyak orang dalam scope atau latar yang berbeda pula.


Budaya permisif semakin dilupakan oleh generasi milenial. 


Faktor apa saja yang menyebabkan terkikisnya budaya permisif?

Ada banyak hal. Pertama; kita semakin menyembah teknologi. Terlepas dari kemudahannya. Namun sisi positifnya adalah tergerusnya budaya kita.


Kedua; Kita cenderung mengikuti gaya hidup anak-anak perkotaan yang sok-sokan dalam melakukan segala sesuatu.

Ketiga; kesadaran diri yang semakin rendah.


Kesadaran Diri

Tahu diri adalah tahu tentang akar kebudayaan nenek moyang kita. Orang hebat, tidak akan pernah melupakan jejak awalnya. Justru semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya empati dan simpatinya semakin tinggi pula. Bukan sebaliknya.


Tahu diri disamakan dengan orang yang pandai dalam mengatur psiko emosionalnya. Tidak salah, bila kita ingin mengikuti tren gaya hidup dunia. Namun, kita pun harus memegang teguh pada prinsip kebudayaan kita sendiri.


Cara terbaik untuk meluriskan pola pikir ini adalah bisa dilakukan dengan cara di bawah ini!

Kembali ke akar

Setinggi apa pun latar belakang pendidikan kita, budaya adalah jantung hati kita. Dari budaya, kita mengenal dunia dan bersosialisasi dengan budaya lain.


Di tengah relasi dengan budaya lain, kita pun harus menonjolkan jati diri kita. Jati diri melambangkan keotentikan atau keaslian kita sendiri.


Orang yang selalu menjunjung tinggi budaya permisif hidupnya akan dikelilingi orang keberuntungan. Karena melalui budaya permisif, setiap orang akan menghargai kita.


Dari penghargaan muncullah rasa simpati dan kepercayaan untuk terus berelasi dengan mereka. Untuk itu, mari kita tingkatkan budaya permisif dalam segala hal. Terutama dalam menulis.


Hargailah karya orang lain, jika orang lain ingin menghargai karya kita.


Salam tafenpah





Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Masih Adakah Budaya Permisif?"