Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bolehkah Saya Menulis Tentang Patah Hati?

Kemaslah patah hati kamu dalam bentuk karya.Diadona.id


Patah hati adalah bagian dari keresahan terbesar umat manusia. Melalui patah hati, seseorang bisa saja terus mendekap lukanya. Sembari mengeluarkan sumpah serapah. Ada juga yang menjadikan patah hati sebagai kilas balik bagi karyanya.


Apakah patah hati bisa disulap menjadi karya?

Oh tentu saja bisa dong! Patah hati bagi seorang penulis adalah saat yang tepat untuk berakselerasi dengan imajinasinya. 


Melalui patah hati seorang pujangga yang piawai dalam memainkan rasa dalam sekejap bisa mengulik rasa sakitnya menjadi puisi yang terdengar menyayat hati dan sarat pesan moral.


Di mana saja lapak/tempat untuk menyalurkan rasa patah hati?

Salah satu lapak online yang tepat bagi kamu untuk menuangkan keresahan kamu gegara diputusin doi/pacar adalah di media online blog.


Blog adalah salah satu jenis platform online yang tepat bagi siapa saja untuk menuangkan perasaannya dengan bebas. Bebas dalam koridor bertanggung jawab.


Selain itu, lapak konvensional adalah melalui buku catatan harian (Diary). Eits, bukan sinetron “Catatan Harian Seorang Istri” ya.


Hmmm,,, kita juga bisa menyalurkan rasa sakit hati kita dalam bentuk lirik lagu. Bukan lirikan matamu yang membenamkan jantung hati tambatan hati kamu loh.


Selain itu, media sosial kita. Yang terpenting cara penyajian kita dikemas dengan bahasa yang elegan, populer, familiar, dan memberikan sisi positif bagi pembaca kita.


Mengapa kita harus menuangkan rasa patah hati dalam bentuk karya?

Karena melalui karya, rasa sakit hati kita tidak hanya terdengar mumet/bosan dan berlalu begitu saja. Melainkan momentum itu kita jadikan sebagai jejak digital kita untuk generasi bangsa, terutama anak dan cucu tercinta.


Karya kita sampai kapan pun akan tetap diakses oleh orang lain. Ketika mereka membaca karya kita di blog kita, mereka akan tahu bahwa kita pernah patah hati pada tahun berapa, hari dan tanggal yang bersangkutan.


Terkesan sederhana. Namun itulah cara terbaik kita untuk meninggalkan jejak patah hati kita dalam bentuk karya.


Lebih jauhnya, melalui kumpulan patah hati kita, siapa tahu suatu saat orang tertarik untuk membukukannya. Dengan begitu kita akan mendatangkan cuan loh. Dan masih banyak hal positif patah hati yang kita kemas dalam bentuk karya.


Misalnya, kita ikut mengkampanyekan dunia psikologis kepada orang yang pernah mengalami masalah yang serupa. Dengan membaca artikel kita, mereka pun merasa lebih baik dan mendapatkan kepuasan batin. Bahwasaanya ternyata yang patah hati bukan saya sendiri, melainkan setiap orang pernah jatuh dan mengalami hal demikian.


Setelah membaca artikel sederhana ini, bagaimana perasaan kamu? 

Jika kamu tertarik dan berminat untuk mengupas rasa seputar patah hati, kamu boleh menuliskannya dan kirim ke blog tafenpah.com.


Karena di sini adalah rumah bagi kita semua pemula untuk belajar menulis. Tak perlu minder dengan diri sendiri. Karena tiada manusia yang sempurna. Masalah ada untuk dihadapi, bukan untuk disesali. Apalagi lari terbirit-birit.


Semakin kita lari dari masalah, penderitaan batinlah yang kita rasakan. Untuk itu, ceriakan hari-harimu bersama dunia aksara.


Salam tafenpah.


 


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

6 komentar untuk "Bolehkah Saya Menulis Tentang Patah Hati?"

  1. Kalau mau kirim kirim lagu patah hati Rahmat Kartolo, boleh Bung? 😁

    Salam 🙏 sehat ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahah boleh banget Pak Kate hihihii

      Terima kasih

      Salam sehat

      Hapus
  2. Lagi patah hati ya? Kacihan banget siih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihihihii terima kasih sudah meninggalkan jejak di sini

      Hapus
  3. Kok bisa patah ya Om,😀

    BalasHapus
  4. Hihihihihihiihhi ya lah

    Terima kasih

    BalasHapus