Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Anak Timor Berpikiran Gaya Filsuf

Student.Blogbinus.com



“Jika badai salju jatuh menerpa bumi, di situlah saat yang tepat untuk berfilsafat” (Filsuf Martin Heidegger)


Konteks pemikiran anak Timor sangat berbeda dengan konteks pemikiran filsuf Martin Heidegger di negeri Panzer, Jerman. Anak Timor berfilsafat dikala cakrawala sudah mendekati garis khatuliswa.


Alasan di balik anak Timor memilih berfilsafat di waktu siang adalah menghindari jebakan aktivitas pada pagi hari.


Ah kamu sok tahu! Celoteh dan sumpah serapah yang keluar dari benak pikiranmu seputar pemikiran saya. Tak masalah sobatku pencinta tafenpah.


Jika filsuf Martin Heidegger memilih saat musim salju menerpa bumi untuk berjibaku dengan pikirannya, kami generasi Timor menunggu terik matahari untuk membakar semangat kami.


Meskipun tanah kelahiran kami pulau Timor, Nusa Tenggara Timur dan sanak kerabat di negeri Timor Leste hanya memiliki 2 musim. Mengingat Indonesia merupakan daerah tropis yang hanya memiliki musim hujan dan kemarau. Namun, otak kami pun tak kalah dengan mereka yang hidup di daerah perkotaan. 


Perbedaan iklim anak Timor dan filsuf Martin Heidegger yang berasal dari Eropa dengan 4 musim yakni; Musim semi dari Maret - Juni, Musim Panas dari Juni – September, Musim gugur dari September – Desember, dan musim dingin dari Desember – Maret. Perbedaan musim tak menjadi halanagn untuk berceloteh tentang keresahan.


Keresahan

Polewaliterkini.net


Berawal dari rasa penasaran akan kehidupan yang sulit ditebak, dipresiksi dengan matang, tepat dan akurat, di bawah terik matahari, ada hamparan sabana yang melemahkan mata. Ah, situasi yang melankolis banget ya. Kami mulai mempertanyakan arti kehidupan.


Untuk apa mempertanyakan kehidupan yang tidak pasti? Pertanyaan ini pun akan memunculkan rentetan pertanyaan yang tak pernah berkesudahan. Ya, kami pun mengikuti gaya dari filsuf Martin heidegger yang selalu resah akan kehidupan yang dibatasi oleh waktu.


Apa maksudnya? Sadar atau tidak, kita hidup dari waktu dan waktu pun yang mengakhiri segalanya. Aih,makin bingung nih. Bagus! Jika kamu merasa bingung, justru itu pertanda positif.


Gila! Itulah kata sifat yang kamu lemparkan ke arahku di padang sabana negeri Timor. Bicaramu ngawur/tak jelas! Celoteh yang kian berdatangan dari sudut-sudut tersempit kehidupan.


Sobat, filsuf Martin heidegger saja masih kelimpungan dengan jalan pikirannya. Apalagi kami anak Timor yang hanya mengetahui secuil tentang dunia filsafat.


Membakar Semangat

Twitter.com


Matahari semakin menyengat kulit sao matang anak-anak pulau Timor, hati semakin membuncah untuk terus mencari jalan pikiran mereka. Hadeuuuh,,,, sebenarnya apa sih yang dibahas dari logika sesat ini? Lagi-lagi kamu melemparkan pertanyaan yang menohok dan melemahkan semanagtku sobat.


Tenang cuy, selagi otak masih dipakai untuk destinasi ilmu pengetahuan, sikat saja. Jangan kasih kendor kaka ee!


Semangat untuk mencari kehidupan di tengah padang sabana layaknya renungan filsuf Martin Heidegger saat merasakan sekucur tubuhnya dihantam oleh dinginnya salju di negeri penghasilan Mercedez benz terbaik dunia negeri Panzer, Jerman.


Martin Heidegger semakin menikmati jalan pikirannya. Dan ia pun menemukan jawab tentang waktu itu adalah antara ada dan tiada. Tak perlu membahas lagi sobat!


Senada, seirama goyangan imajinasi anak-anak pulau Timor yang perlahan-lahan mulai menemukan jalan hidup mereka dalam bidang apa pun.


Jangan malu jadi anak desa! Malulah jika kita tidak menggunakan ilmu yang telah kita dapatkan di dunia pendidikan. Untuk apa membatasi diri dengan asumsi/pendapat miring media tentang generasi Timor yang selalu jelek dan terbelakang dalam bidang apa pun.


Anak Timor berpikir ala filsuf yang out of the box. Segala sesuatu bisa diulik. Inilah eksistensi atau jati diri kita sebagai anak Timor yang berasal dari pedalaman dan keterbatasan sarana dan prasana untuk mengembangkan talenta-talenta yang kita miliki.


Keterbatasan dan kurang perhatian dari pemerintah untuk menggenjot bibit unggul generasi emas Timor, bukanlah masalah bagi kita. Karena di zaman digital ini, kita bebas berkarya di mana pun.


Inilah arti dan makna dari anak Timor berpikir bak filsuf yang selalu resah akan kehidupan yang selalu tak berpihak bagi generasi pedalaman pulau Timor. Justru yang diperhatikan adalah mereka yang di kota. Maka terciptakan jurang pengetahuan antara generasi desa dan kota.


Mari dan tunjukkan pada dunia bahwasan kita anak-anak pedalaman pulau Timor wawasan kita pun tak kalah dengan mereka yang menghabiskan separuh hidup mereka di ruangan ber-AC.


Salam tafenpah





Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

2 komentar untuk "Anak Timor Berpikiran Gaya Filsuf"