Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Surat Cinta Dari Pak Guru

Surat cinta dari Pak Guru. Juraganles.com


"....Kriiiinnngggg...." lonceng tanda pulang berbunyi. Seperti biasa murid-murid SMA Negeri 1 Jember itu heboh. Padahal mereka itu bukan anak TK lagi lho...hmmm payah deh. Pak Deri si guru matematika itu segera mengakhiri jam pelajarannya.

Anak_anak kelas 1 IPA 7 itupun beramai-ramai meninggalkan kelas, kecuali Intan yang terlihat begitu santainya. Memasukkan buku satu persatu. Dia rapikan meja bangku, hingga menarik perhatian Deri.

"Intan...kamu nggak pulang?" ,tanya Deri.

"Belum pak", sebentar lagi" jawab Intan dengan santainya

"Kalau begitu saya tinggal ya" seru pak Deri langsung menuju pintu tanpa menunjukkan ekspresinya alias cuek.

"Iya pak..." Intan menjawab dengan nada sedikit kecewa. Intanpun segera meninggalkan kelas tanpa mengetahui bahwa dari jauh Deri yang duduk di ruang guru sebenarnya sedang mengawasinya. Ruang guru letaknya berseberangan dengan kelas 1 IPA7. Tempat duduk Deri kebetulan posisinya persis menghadap ke kelas Intan.

"Dia cantik juga...., suara hati Deri berbisik. Deri merupakan guru muda. Masih berumur 23 tahun. Baru 1 tahun  lulus dari FKIP dan menjadi guru di SMA Negeri 1 Jember. SMA N 1 merupalan sekolah favorit di mana murid wanitanya cantik-cantik. Intan adalah salah satunya.

Deri kemudian berjalan menuju parkiran motor di sisi belakang sekolah. Tak di duga dilihatnya Intan sedang berdiri di pinggir pintu pagar. Kepalanya sering menengok ke kanan dan ke kiri sambil menengok jam merah di tangannya yang nampak kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Di dekatinya Intan sambil membawa motornya.

Intan...menunggu siapa?"

Intan agak kaget mendengar suara Deri dari belakangnya. 

"Oh pak Deri, saya menunggu jemputan pak. Nggak biasanya telat begini" jawab Intan agak gugup.

"Oh baik. Kalau begitu saya duluan ya" Deri langsung tancap gas. Degup jantungnya berpacu melawam deru motor. Hampir saja mulutnya mengatakan 'ayo aku antar'. Tapi rupanya dia masih sadar posisinya sebagai guru.

Di sisi lain Intan tak kuasa menahan rasa bahagianya. Pak Deri memperhatikan aku, batinnya.

Hari yang membahagiakan karena hari pendek. Siswa pulang pukul 11 pagi. Tiba-tiba Intan merasa ada yang memanggilnya. 

Di kantin yang tidak begitu luas ini ,suara Nita tentu sudah tidak asing di telinga Intan. Tanpa menolehpun Intan tahu pasti itu suara Nita. Si bawel tiada tara. Intan tersenyum sendiri bila mengingat julukan itu.

"Hai cantik...senyum-senyum sendiri" bawel Nita kluar.

"Siapa sih yang senyum-senyum. Ah ngarang kamu"

"Halaahhh....nggak usah bo'onglah" Nita masih menggoda Intan teman karibnya.

"Heheee....aku nggak bo'ong kok" seru Intan

"Mikirin siapa kok senyum-senyum sendiri. Mikirin pak Deri yaa..hahaha" suara Nita mulai tak terkontrol.

"Hussss...Nit jangan teriak-teriak di sini donk. Heboh ntar kalau pada dengar" Intan menutup mulut Nita sambil melotot.

Mereka berdua kemudian kembali ke kelas karena waktu istirahst tinggal lima menit. Sedang kelas mereka agak jauh dari kantin. Setengan berlari mereka menuju ke kelas 1 IPA 7 yang letaknya di ujung. Sesampainya di depan kelas mereka terkejut.

"Nit...kok pintunya ditutup?"

"Waduhh...itu ada guru di dalam In. Bukannya masih lima menit lagi ya" tanya Nita.

Dengan memberanikan diri mereka mengetuk pintu. Rupanya pak Deri sudah di dalam kelas ketika Anton membukakan pintu buat mereka.

"Maaf pak kami terlambat masuk kelas" Intan menundukkan kepala sebagai ungkapan rasa bersalah. Nitapun ikut berbicara,"Kami pikir masih kurang 5 menit pak istirahatnya, maaf" 

"Nggak apa-apa Nita Intan, silahkan duduk"

Semua yang di kelas saling berpandangan menahan senyum. Tentu ada cerita terpendam di balik senyum teman-teman sekelas. Hati Deri merasa nyut-nyut setiap melihat wajah Intan yang kebetulan tempat duduknya persis berhadapan dengan dirinya. Ah kenapa sih hatiku merasa berdebar setiap melihat dia, batin Deri.

 Begitupun Intan yang duduk bersebelahan dengan Nita. Aduh kenapa aku tidak sanggup melihat ke depan sih. Ahhh ada apa ini dengan hatiku, bisik hatinya. 

Di lihatnya pak Deri sedang memberikan penjelasan dengan santainya tanpa gugup sekalipun. Akhirnya bel berbunyi. Tanda jam sekolah berakhir.

"Nita, aku ikut motor kamu ya" seru Intan.

"Ok In...tapi tunggu sebentar ya aku ada urusan sama kakakku" jawab Nita. Kakak Nita memang duduk di kelas 3. Mereka hanya selisih dua tahun. 

Intan dengan sabar menunggu di depan kelas.

"In..." seru Nita."kamu tunggu aku di parkiran yaa"

Intan pun berjalan perlahan menuju ke parkiran. Dari ruang guru, Deri memperhatikan Intan tanpa berkedip. Kertas kecil yang dia lipat-lipat di genggamnya. Dengan tekad membara dia ikuti Intan menuju ke parkiran. Dia lihat Intan duduk sendiri di bangku taman. Aku harus memberanikan diri memberikan kertas ini, bisik Deri. Setibanya di belakang Intan...

"Intan nunggu siapa?" tanya Deri.

"Ohh pak Deri...saya menunggu Nita" seperti biasa Intan begitu gugup kalau sudah berhadapan dengan pak Deri.

"Ohh...hmm aku punya buku bagus. Ini..." Deri memberikan buku novel kepada Intan."Di baca ya. Saya duluan Intan"  

"Iya pak akan saya baca. Terima kasih" cepat-cepat dimasukkannya buku novel itu ke dalam tas takut ketauan Nita. Dalam hati Intan bertanya-tanya, kenapa pak Deri tiba-tiba meminjamkan novel ya. Ah nggak tahulah,pikir Intan menipis pikiran-pikiran yang berseliweran. Aku nggak boleh GR, bisik hati Intan. Tiba-tiba dari belakang suara Nita mengejutkannya.

"Blaa! Ngelamun aja..! Teriak Nita sambil ketawa

"Kamu lama banget sih. Kamu nemuin kakakmu apa pacarmu sih!" Intan pura-pura kesal demi menutupi hatinya yang berkecamuk gara-gara insiden novel tadi.

"Kesel yaa. Maaf deh. Yuk pulang"

Sesampainya di kamar, Intan sudah tidak sabar untuk membaca novelnya. Dia duduk di meja belajar. Pintu kamar dia kunci. Betapa terkejutnya Intan setelah membuka novel...ada secarik kertas jatuh. Kertas apaan nih, pikir Intan. Jangan-jangan kuitansi hutang pitang lagi, gumam Intan sambil ketawa sendiri. Dibukanya kertas biru itu. Dan...seketika tangannya bergetar.

"Dik Intan...mohon maaf sebelumnya. Saya sudah memberanikan diri untuk menulis surat ini. Terdorong oleh hasrat hati sejak melihatmu peftama kali di kelas, saya merasa bahwa  saya sudah 'falling in love at the first sight'. 

Suatu kemustahilan memang bahwa seorang guru berpacaran dengan muridnya. Itu saya sadari benar. Oleh karena itu aku ingin bertanya, maukah kamu menjadi pacarku tiga tahun lagi setelah kamu lulus SMA ? Tolong jawab pertanyaanku dengan tersenyum di hadapanku saat besok aku mengajar di kelas. Tapi sebaliknya kalau adik menolakku, pandanglah aku tanpa tersenyum" 

Maafkan aku

Deri,

Intan merasa takjup tak mempercayai apa yang terjadi. Berulangkali dia baca surat itu. Hatinya berbunga-bunga. Tak sabar menanti hari esok untuk menatap wajah pak Deri dengan  senyumannya yang paling manis.


Maria Agnes Indah Puspitowaty
Kompasianer
Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Surat Cinta Dari Pak Guru"