Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Passionku Apa ya?


Passion adalah apa yang kita sukai. Ilustrasi foto diolah dari Canva


Ketika kita melihat orang lain berlari kencang menggapai angkasa, di balik deburan rasa penasaran, kita pun bertanya. Passionku apa ya?

Menarik dan menggelitik, tatkala saya menganggit apa itu passion! Banyak orang hingga kini masih berjibaku dengan rasa penasaran. Mereka penasaran seputar passion.

“Apa yang kita sukai, itulah passion. Membaca dan menulis adalah panggilan jiwa. Diksi-diksi kerinduan hanya bisa ditata, diulik, dirias melalui tulisan.” 

Sobat tafenpah, saya yakin kamu sudah pasti mempunyai gambaran atau deskripsi seputar passion yang kamu miliki kan? So, bagi saya passion itu berkaitan erat dengan adrenalin untuk terus melakukan sesuatu yang kita sukai.

Misalnya, kita bangun setiap pagi, hal pertama yang kita lakukan adalah apa? Ada yang langsung ngecek hp-nya. Gegara si doi semalam belum balas pesan WhatsApp. Ada yang berdoa, meditasi, lakukan latihan olahraga ringan dan langsung buka laptop.

Apa yang saya ungkapan di atas adalah cikal bakal dari passion yang kita miliki. Tapi satu hal yang tak boleh kita definisikan ngecek hp sebagai passion ya. Karena itu berkaitan dengan ketagihan, gegara sindrom dari hp.

Ngecek hp adalah hal yang tidak ada faedahnya bagi passion. Bila kamu seorang bisnisman atau pelaku UMKM ngecek hp adalah hal wajar. Tapi, bila kita yang tak memiliki apa-apa, itu adalah jalan menuju jurang.

Bagaimana cara untuk melatih passion?

Passion itu tidak hadir dengan sendirinya ya. Melainkan passion itu butuh latihan. Misalnya kamu pingin jadi penulis. Untuk menjadi penulis, membaca dan latihan menulis setiap hari adalah satu-satunya jalan untuk menggapai impian kamu.

Kamu tak mungkin jadi seorang penulis, bila hanya sekadar berhalusinasi saja. Lebih tepatnya dalam dunia entrepreneur atau kewirausahaan adalah rencana dibarengi dengan tindakan.

Tanpa tindakan nyata, mustahil apa yang kita inginkan tidak akan tergapai. Justru yang kita dapatkan dalah penyesalan dan rasa sakit hati.

Kira-kira ada cara lain selain membaca dan menulis nggak?

Don’t worry! Seornag penulis tidak hanya fokus membaca dan menulis. Melainkan kita harus melatih diri untuk peka dan jeli dalam melihat, mengamati apa yang terjadi di sekitar kita. Dari peristiwa-peristiwa sederhana, kita bisa mengumpulkan ide untuk menganggit aksara.

Cara untuk melatih kepekaaan yang paling efektif adalah keheningan. Nah, untuk melatih keheningan, kita perlu meditasi. Karena dalam meditasi, kita masuk ke dalam diri, sembari merefleksikan apa saja yang sudah kita lakukan sepanjang hari.

Dari meditasi, kita akan tahu apa tujuan hidup kita? Apakah kehadiran kita bermakna bagi diri sendiri, sesama, lingkungan dan alam?

Setapak demi setapak, kita akan menemukan passion. Serupa apa yang saya sampaikan di dalam ilustrasi foto.

Sobat tafenpah, mudah-mudahan, melalui refleksi atau perenungan setiap hari, kita pun bisa menemukan passion kita. Memangnya kita tak bosan , terus bertanya dan bertanya seputar passion kita? Padahal passion kita sudah ada di dalam diri kita. Tinggal bagaimana kita peka dan jeli dalam melihat potensi itu.

Terima kasih untukmu yang telah meluangkan wkatunya untuk membaca.

Salam tafenpah




Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Passionku Apa ya?"