Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Latar Belakang Keluarga, Tak Menjadi Alasan Untuk Menjadi Penulis

Latihan menulis diary tiap hari dan rasakan manfaatnya. Foto dari Pixabay.



Setiap orang punya potensi yang sama untuk menulis. Menulis adalah bagian dari perjalanan.


Entah perjalanan kamu saat ini terseok-seok, relatif, terjebak  itu tidak menjadi alasan untuk tidak bisa menulis. Menulis bukan sekadar tarian jari-jemari di atas keyboard Laptop, lebih jauhnya menulis adalah bagian dari transfer perasaan.


Perasaan-perasaan yang selalu menganjal di dalam benak, hanya bisa dituangkan melalui tulisan. Tulisan itu bisa berupa patah hati, ketidakadilan, peristiwa alam yang mengerikan, maupun harapan akan masa yang akan datang.


Latar belakang keluarga kita tak menjadi alasan untuk menulis. Setiap orang punya potensi untuk menulis. 


Seorang anak petani yang berasal dari desa terpencil bisa menjadi penulis. Asalkan ia memiliki motivasi untuk terus belajar. Belajar hal apa saja, sejauh kita tidak dikekang oleh keadaan. Mumpung kita masih muda dan punya banyak waktu, manfaatkan untuk mengembangkan hobi yang kita miliki.


Apakah ada cara untuk bisa menulis dengan lancar?


Penulis yang hebat di luar sana juga pernah menjadi penulis pemula. Bedanya mereka memiliki keinginan atau motivasi yang kuat untuk terus belajar.


Umumnya penulis Top sekarang, biasanya belajar menulis dari catatan harian atau diary mereka. Menulis di catatan harian masih sangat penting bagi seorang penulis.


Loh, emangnya bisa menjadi penulis dari hal sederhana gitu?

Sesuatu yang terlihat besar, biasanya diawali dari hal-hal kecil. Sebagai contoh nyata, saya mengawali dunia kepenulisan dari catatan diary. Menulis catatan harian selama hampir 6 tahun, pola atau dinamika  alam bawah sadar saya sudah terbentuk untuk menulis.


Ada banyak manfaat yang saya dapatkan dari menulis diary. Salah satunya adalah menulis lepas. Karena sesuatu yang kita lakukan berulang kali, akan menjadi role model atau cara pembawaan kita. 


Padahal kalau saya melihat latar belakang keluarga, orangtua saya hanya tamatan SD dengan literasi yang ala kadarnya. Tapi saya ingin membuktikan diri bahwa keluarga tak menjadi penghalang bagi saya untuk menjadi sorang penulis.


Saya yakin kamu juga pasti bisa menemukan mutiara-mutiara yang berharga dalam diri kamu. Kelemahannya kamu belum belajar untuk mengenali siapa diri kamu? Apa tujuan hidup kamu? Dari mana kamu berasal? Apa yang kamu sukai?


Kendala-kendala yang saya paparkan di atas adalah bagian dari rentetan kesulitan yang dialami oleh sebagian besar orang yang bermimpi jadi penulis. Menjadi seorang penulis itu bukan hanya dilatih semalam suntuk, melainkan melalui proses yang panjang.


Bahkan kita bisa melewatkan masa muda kita hanya untuk belajar dan terus belajar. Di saat orang lain bersenang-senang, kamu tekunilah hobi kamu. Di saat temanmu bepergiaan tak jelas arahnya, kamu tetap belajar. Niscaya, kamu akan merasakan dampak positif di hari yang akan datang.


Temukan motivasi dan tujuan apa kamu hidup, dan percayalah pada suara hatimu. Apa yang kamu impikan pasti digapai bersama bintang-bintang di angkasa.


Salam literasi sobat Tafenpah.








Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Latar Belakang Keluarga, Tak Menjadi Alasan Untuk Menjadi Penulis"