Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sering Insecure, Karena Keberhasilan Orang Lain? Oh No!

Insecure atau perasaan menghukum diri sendiri adalah hal bodoh. Foto dari Unsplash.com


Setiap orang pasti memiliki banyak keinginan. Keinginan yang banyak, berakibat pada perasaan insecure.


Insecure adalah perasaan rendah diri, takut untuk keluar dari zona nyaman, tidak percaya diri dan selalu memandang diri tidak becus dari sesama.


Terkadang kita memandang diri sendiri sebagai makhluk yang paling sial di dunia ini. Apapun yang kita lakukan, pasti tak semenarik dan sepopuler dengan sesama.


Bejibun perasaan ini memicu penyakit depresi dan stres. Akibatnya, kita terjebak di dasar penyesalan.


Tak perlu merasa rendah diri dengan keberhasilan orang lain. Toh, kehidupan kan adalah dinamika perjalanan yang dikemas dengan hal-hal yang tidak mungkin.


Kebiasaan untuk membandingkan kondisi kita dengan sesama hanya menuai setumpuk luka. Luka yang semakin menggunung di dalam diri kita, sulit untuk disembuhkan. 


Sebagai pendekatan kontekstual, saya pernah berada di posisi insecure atau merasa rendah diri. Apalagi latar belakang saya berasal dari Timor, khusunya Kefamenanu dan lebih tepatnya di kampung Haumeni.


Bayangkan selama saya berada di kampung halaman, pola pikir saya hanya berputar di padang sabana, perbukitan, nyari rumput untuk kebutuhan  hewan peliharaan dan dll.


Pemikiran yang primitif atau belum terbuka akan dunia yang lebih luas dari kampung Haumeni, berakibat pada relasi saya di tanah rantau. Di mana saya menjalani kehidupan sebagai seorang Frater SVD di Seminari Tinggi Surya Wacana Malang.


Selama tahun pembentukan karakter atau yang dikenal Postulan. Postulan atau dasar adalah pintu awal untuk mengenal spiritualitas pendiri Serikat Sabda Allah (SVD).


Ribuan hari dan waktu saya merasa bersalah dan rendah diri dengan rekan-rekan yang berasal dari berbagai daerah di nusantara. Mereka hadir dengan tingkat intelektualitas yang mumpuni dalam segala bidang. Apalagi angkatan saya juga ada yang sudah bekerja di Bank, Guru, Dosen dan banyak perusahaan Swasta terkemuka di kotanya.


Tentunya pemikiran mereka lebih luas dalam segala hal. Saya terus merasa bersalah dan berakibat pada budaya stagnan atau terjebak dengan diri sendiri. Mereka terus berlari, sementara saya terus meratapi nasib dan menyalahkan keadaan.


Pada satu titik, saya mulai sadar bahwa perasaan rendah diri atau insecure adalah hal terbodoh yang pernah singgah dalam kehidupan saya. 


Kira-kira apa yang say lakukan untuk keluar dari zona insecure?


Peratama saya mulai sugesti atau mengapresiasi diri bahwa saya juga bisa. Mengapa orang lain bisa, sementara saya tidak bisa? Padahal saya dan mereka sama-sama memiliki tubuh yang utuh.


Saya terus mengapresiasi diri untuk keluar dari perasaan rendah diri atau insecure. Selain itu saya tidka malu untuk meminta masukan atau kritik dari rekan tentang apa yang harus saya perbaiki.

Ya lebih tepatnya dalam kehidupan membiara disebut “Coretio Fraterna” yang berarti menilai rekan, baik dari sisi positif dan negatif.


Cara sederhana ini mampu memberikan pemahaman baru kepada saya. Saya berani mengenali diri. Termasuk dari mana budaya saya? Apa tujuan hidup saya? Untuk apa saya hidup?


Terkesan sangat sederhana, tapi itulah yang saya lakukan untuk mengapresiasi diri.


Sobat menghukum diri sendiri adalah hal terbodoh yang pernah kita lakukan. Diri kita juga perlu untuk disayangi. Bagaimana orang lain mencintai kita, bila kita tidak mencintai diri sendiri? Logikanya seperti ini sobat tafenpah.


Selain sugesti, saya belajar untuk menulis dan membaca. Kebiasaan menulis jurnal harian dan membaca buku setiap hari, secara tak langsung membentuk pola kepribadian saya untuk menjadi yang terbaik.


Saya mulai fokus untuk hal-hal yang positif. Karena bagi saya, masalah akan selalu ada. Kecuali taka da kehidupan. Dan masih banyak hal positif yang saya pelajari untuk mengembangkan kepribadian saya menjadi yang terbaik, seperti sekarang.


Untuk keluar dari perasaan rendah diri atau insecure dilatih bukan hanya semalam saja. Melainkan adanya proses yang kita lakukan. Proses itu tidak enak dan gampang. Tapi, hasilnya akan lebih menarik dan memberikan kebahagiaan untuk diri kita sendiri.


Sobat tafenpah, barangkali kamu juga pernah mengalami perasaan insecure. Bolehlah kamu sharing dalam bentuk tulisan di website saya.


Website atau blog ini selalu terbuka bagi kamu yang ingin belajar Jurnalistik.


Terakhir, cintailah dirimu, sebelum mencintai orang lain. (Fredy Suni).


Salam tafenpah

Frederikus Suni



Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Sering Insecure, Karena Keberhasilan Orang Lain? Oh No!"