Menjadi Tanpa Harus Sama (Sebuah Apresiasi Terhadap tulisan Ronny Manas, penulis Puisi Isyarat Dua Sahabat)

Cassio_Nana

Penulis berdomisili di Vietnam!

-Alumni STFK Ledalero, 2015

Menjadi Tanpa Harus Sama (Sebuah Apresiasi Terhadap tulisan Ronny Manas, penulis Puisi Isyarat Dua Sahabat). Gambar: Freepik


TAFENPAH.com - Ada pengalaman hidup yang tidak bisa dijelaskan dengan teori, namun kadang menjadi dasar lahirnya sebuah teori. Persahabatan adalah salah satunya. Ia tidak lahir dari definisi, tidak bertahan karena sebuah kesepakatan dan tidak mati oleh sebuah jarak. 

Hidup dan matinya tergantung pilihan yang dibuat oleh manusia setiap waktu. 

Puisi Isyarat Dua Sahabat karya Ronny Manas menjadi sebuah kesaksian eksistensial tentang bagaimana manusia memilih. 

Memilih untuk tetap bersahabat sekalipun panggilan hidup berbeda tanpa intensi yang bergerak dibalik sebuah persahabatan.

Tulisan ini sebagai ungkapan apresiasi kepada Ronny Manas. Bukan terima kasih formal, melainkan terima kasih yang lahir dari kesadaran bahwa puisi ini membeberkan dan menyentuh ruang terdalam dari arti menjadi manusia bersama yang lain.

Oleh karena itu, menyetir maksud ini dalam pemikiran filsafat eksistensial maka manusia tidak dipahami sebagai makluk yang memiliki esensi tetap, melainkan sebagai makluk yang menjadi. Martin Heidegger (Filsuf fenomenologi asal Jerman abad 20), menyebut manusia sebagai dasein, ada yang sadarnya akan adanya. Manusia selalu berada “di dunia”, terlempar ke dalam relasi, pilihan dan tanggung jawab. Puisi Ronny Manas bergerak persis di wilayah ini, di mana manusia yang sadar bahwa hidup tidak netral, bahwa setiap pilihan adalah pengakuan atas diri dan tidak memilihpun sebenarny adalah pilihan. 

Penulis mengawali, “di bangku sunyi kita pernah bermimpi”. Kalimat ini bagi saya adalah pernyataan eksistensial, yang sangat kuat. Bangku sunyi adalah simbol ruang refleksi, tempat manusia berjumpa dengan dirinya sendiri sebelum berjumpa dengan dunia. Di sanalah mimpi lahir, bukan sebagai fantasi kosong, tetapi sebagai kemungkinan eksistensi. Dalam bahasa Paul Sartre (filsuf eksistensial asal Prancis abad 20), melihat manusia sebagai proyek, ia selalu bergerak menuju sesuatu yang belum sepenuhnya ia mengerti. Masa ketika dua sahabat belum tahu ke mana hidup akan membawa mereka, namun memilih untuk bermimpi bersama. 

Namun eksistensi tidak berhenti pada mimpi. Ia menuntut keputusan. Dan, di sinilah puisi itu menjadi sangat manusiawi. “kau melangkah ke altar, aku melangkah ke halaman rumah”.

Tidak ada tragedi dalam kalimat ini. Tidak ada nada kehilangan. Yang ada hanyalah pengakuan bahwa hidup memanggil dengan cara yang tidak seragam. Pada tataran ini, Sartre, mengafirmasi bahwa manusia dikutuk untuk bebas. Memang kebebasan itu sering terasa berat, karena ia memaksa kita untuk memilih satu kemungkinan dengan mengorbankan kemungkinan lain. Puisi Ronny Manas, tidak menyangkal beban itu, tetapi juga tidak mengutuknya. Ia menerimanya dengan kedewasaan yang tenang. 

Dalam kerangka berpikir Gabriel Marcel (Filsuf eksistensial asal Prancis abad 20). Ia menekankan bahwa relasi antar-manusia tidak boleh direduksi menjadi fungsi atau peran. 

Baginya manusia adalah misteri, bukan masalah yang harus diselesaikan. Di titik ini, saya melihat keindahan terdalam dari puisi Ronny Manas. Ia tidak menampilkan sahabat sebagai  “yang memilih jalan lain” tetapi engkau yang tetap utuh. Altar dan halaman rumah, bukan identitas yang menelan pribadi namun keduanya sebagai ruang keteguhan akan pilihan benar- benar diuji. “Kau membagi doa di pagi yang sunyi, aku membagi peluh demi meja yang terisi”. 

Bait ini, bagi saya adalah pernyataan eksistesial tentang makna iman dan kerja (ora et labora). Hal ini, selaras dengan pemikiran Heidegger tentang peduli. Manusia pada hakekatnya sebagai makluk peduli. Peduli tentang dirinya, peduli tentang orang lain dan juga pada pada lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, doa dan peluh adalah dua bentuk perhatian yang berbeda, namun bertumpu pada kepedulian yang sama. 

Puisi yang digoreskan oleh Ronny Manas, patut diapresiasi karena menginspirasi banyak orang tentang keberanian menulis terhadap sebuah persahabatan sebagai relasi Aku-engkau, bila distir dalam istilah Martin Buber (filsuf dialogis berasal dari Austria abad 20).

Dalam relasi aku-engkau, yang lain tidak dijadikan objek, tidak kurang dalam definisi, tidak direduksi menjadi pesan sosial. Ia terima sebagai subjek yang bebas, yang boleh berubah dan yang tidak harus selalu dekat untuk tetap berarti. Puisi ini sepenuhnya bergerak dalam logika aku-engkau. Tidak ada klaim kepemilikan. Tidak ada kecemasan kehilangan. Yang ada hanyalah kehadiran batin yang terus mendukung. 

Menelusuri kata-demi kata, bait demi bait, puisi ini bukan sebagai sebuah pujian, melainkan sebagai pengakuan. Pengakuan bahwa persahabatan tidak harus berjalan dalam satu pilihan; pengakuan bahwa saling mendukung bukan berarti harus hadir secara fisik. Dalam bahasa eksistensial, otentisitas yaitu bahwa berani menjadi diri sendiri dalam kebersamaan dengan yang lain. Terima kasih Ronny Manas, karena telah menulis dengan kedalaman hidupmu, bukan dari ambisi estetika semata. Manusia tidak hidup dari keberhasilan, tetapi dari kesetiaan. 

Terima kasih karena telah menunjukan bahwa persahabatan dan dukungan sejati tidak membelenggu kebebasan melainkan menjaga dan mendukungnya. 

Pesannya kepada kita, bahwa dalam dunia ini, manusia sering memaksa yang lain untuk memilih yang sama. Namun, engkau menghadirkan pesan yang namun tegas. Manusia mesti bebas tidak boleh terpenjara pada pilihan dalam persahabatan. Dan bagi saya, inilah pengharagaan tertinggi yang bisa diberikan oleh sebuah puisi, ia tidak hanya indah tetapi benar.*

Salam hormat! 

Cassio_Nana

Penulis berdomisili di Vietnam!

-Alumni STFK Ledalero, 2015

TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Menjadi Tanpa Harus Sama (Sebuah Apresiasi Terhadap tulisan Ronny Manas, penulis Puisi Isyarat Dua Sahabat)"