Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dari Mereka, Aku Berani Melangkah

Dari mereka,aku berani melangkah.Foto oleh Arjuna


 Manny Pacquiao pernah mengatakan,”semua orang adadalah sahabatku.”


Sahabat adalah orang yang selalu mendukung, tatkala kita berada dalam kesulitan. Sahabat tahu mana yang dikoreksi dan mana yang harus diapresiasi.


Belajar dari sahabat, saya berkembang dari sisi emosional, pengetahuan, keberanian dan tekad untuk mencapai tujuan hidup. Berada di antara lingkaran mereka, saya diperkaya dan merasa dicintai.


Cinta mereka tulus dan kemauan untuk berbagi adalah mutiara yang saya dapatkan dari mereka. Orang-orang cerdas di balik tembok biara ini berpikiran visioner. Mereka mampu merubah setiap situasi menjadi peluang emas.


Literasi, psiko emosional dan skill pengembangan diri saya belajar dari mereka. Sikap kedewasaan dari mereka sangat memperkaya perjalanan hidup saya.


Perjalanan hidup saya yang berasal dari pedesaan yang cara berpikirannya hanya di seputar desa, seketika disulap oleh mereka untuk memandang dunia yang lebih luas. Saya merasa beruntung bisa menjajal kesempatan berharga itu.


Setiap orang pingin mengembangkan softskill dan hardskillnya, tapi ada kendala ruang yang tak bisa diakses oleh setiap orang. Kekurangan ruang pengembangan diri, menyebabkan rasa putus asa dan tak ada gairah untuk melangkah ke fase berikutnya.


Saya pernah berada pada fase di mana diracik, diolah, dikemas dan dipoles dengan beragam ilmu pengetahuan bersama mereka. Pancaran wajah sumringah, tapi terkadang hati terluka. Tatkala apa yang saya pelajari tak memberikan hasil yang maksimal.


Di saat hati terluka, ada mereka yang selalu menghibur, menguatkan dan memberikan semangat bahwa perjalanan masih sangat panjang.

Dari mereka aku berani melangkah.Foto oleh Arjuna


Move on atau bergerak meninggalkan apa yang sudah berlalu. Dan menggapai impian yang masih bergelantungan di angkasa.


Mengejar impian ibarat kita menggali sumur. Semakin kita menggali, semakin kit amendekati sumber mata air. Begitulah cara atau ilustrasi yang tepat untuk menggambarkan perjuangan dalam menggapai impian.


Kini, saya sudah memutuskan untuk berpisah dari mereka. Berpisah secara formalitas dalam Biara. Tapi, secara ikatan emosional dan persahabatan takkan pernah terputus.


Benang merah yang sudah dirajut selama hampir 6 tahun, akan tetap tersimpan rapi dibagian sudut hati terdalam saya. Kenangan atau nostalgia di saat bersama mereka adalah hal yang paling menyenangkan.


Saya tak tahu, bila seandainya tak dulu tak pernah bergabung bersama mereka, barangkali sekarang saya hanyalh seorang pengembala sapi di kampung halaman.


Kita tak pernah tahu skenario atau jalan yang telah direncanakan oleh Tuhan. 


Yang terpenting adalah kita tetap yakin dan percaya, bahwasannya kuasa Tuhan selalu hadir menyapa dan memberikan semangat setiap hari.


Bila Tuhan kasih apa ynag saya inginkan, saya pinginnya menjadi pemain bola. Tapi, Tuhan tahu mana yang terbaik bagi diri saya. Kuasa-Nya mengirim saya ke dalam Biara Serikat Sabda Allah untuk memahat jalan hidup saya.


Pahatan dalam proses yang panjang, kini menghasilkan sesuatu yang membanggakan yakni menjadi seorang penulis. Tanggung jawab sebagai penulis adalah setiap hari saya melakukan pekerjaan saya dengan cinta dan totalitas. Agar hasilnya maksimal dan memberikan insight atau masukan bagi setiap orang yang berkenan membacanya.


Di akhir episode rindu ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa antara saya dan kalian sekarang sudah punya jalan yang berbeda. Tapi, kita memiliki satu tujuan yakni menjadi saudara dalam keluarga St. Arnoldus Jansen, sang pendiri kita yang menaruh minat dan harapan besar kepada kerasulan.


Sebagai awam SVD, saya mewartakan karya kerasulan St. Arnoldus Jansen melalui karya-karya saya. Karena dari berkat St. Arnoldus Jansen, saya pun berniat untuk meneruskan karya kerasulan dalam media.


Salam hangat saudara-sadauraku angkatan Arjuna yang sementara berjuang untuk menyelesaikan skripsinya.


Saya menaruh website ini dalam karya-Nya, bila Tuhan mengizinkan website ini berkembang. Maka, sebagai umat-Nya saya bersyukur. Tapi, bila website ini tak berkembang, berarti saya patut mengakui dan belajar lebih banyak lagi.


Salam tafenpah


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Dari Mereka, Aku Berani Melangkah"