Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bertemu Cinta di Taman Pintar

Bertemu cinta di taman pintar.Foto dari Infia.co


Rica gelisah menunggu di bangku depan sebuah taman yaitu Taman Pintar. 

"Aduhhh..paling nggak suka dehh pake jam karet begini. Mana sih Mita ahh...udah satu jam aku bengong di sini, gerutu Rica sambil bolak balik lihat jam. Tengok chatting. Tiba-tiba tak jauh dari tempatnya berdiri ada seorang pemuda tampan keren berhenti dari motornya dan tengok kanan kiri, seperti mencari seseorang.


Sampai akhirnya mata mereka bertemu.

"Maaf mbak, apakah melihat cewek setinggi mbak, rambut agak panjang, manis, putih ?" tanya Tius.

Enggak, lihat kok mas.” Jawab Rica

"Ohh begitu. Ehhh..maaf, mbaknya..nunggu siapa ya?" tanya Tius. Kenapa aku pake nanya-nanya lagi ahh, usil amat sihh, batin Tius.


"Aku nunggu teman, udah sejam dia nggak nongol batang hidungnya" jawab Rica semakin gelisah dengan hadirnya cowok ganteng ini.

Sudah satu setengah jam mereka di situ, sama-sama tidak tahu harus ngapain. 

"Maaf, bolehkah kita kenalan?" Suara Tius memecah kesunyian di sore itu.

"Ohh iya boleh, saya Rica" agak sedikit gugup Rica mengulurkan tangannya.

Dingin amat tangan Rica, batin Tius.

"Mbak mau kemana sih..."

"Aku nunggu teman"jawab Rica

Ohhh...berarti nasib kita sama donk ya"


Setelah mereka omong panjang lebar dan semakin akrab, tak terasa hari menjelang magrib.

"Rica...kamu aku antar pulang yukk..udah mau magrib nih. Ternyata tilpon dari Mita.

"Ric..aduh maaf ya. Aku jatuh ketabrak motor nih.." suara Mita terdengar gemetar.

"Aduh Mita..trus gimana kamu?" Rica ikut panik

"Aku nggak apa-apa kok. Cuman lecet-lecet di kaki"

"Ohh syukurlah kalau begitu. Ok dehh aku naik ojek aja."

"Haaa...?? Kamu di mana Ric?" tanya Mita


"Nungguin kamu di Taman Pintar. Di sampingnya si Tius mencoba mencuri dengar pembicaraan Rica.

"Ya Allah Ric...maaf banget. Aku pikir kamu udah dijemput kakakku" teriak Mita

"Kakak kamu siapa Mit...apa maksud kamu?" Rica terheran-heran. Perasaan Rica dari tadi nggak yang nyari dia di sini. Malah ada cowok nggak jelas nongol di sampingnya. Dia lirik Tius masih menunggu Rica bicara di tilpon.

"Astagaaa...." suara Mita terdengar menyesali diri.


"Emang siapa nama kakak kamu Mit" setengah berbisik Rica bertanya sambil melirik Tius yang dengan santainya duduk sambil cuci mata. Rica mulai nggak enak hati. Jangan-jangan..., pikirnya.

“Sorry banget ya, aku enggak bisa anter kamu. Lagian aku mau antar bunda tuk kontrol kesehatan. Kakakku pulang kerja tak suruh mampir ke Taman Pintar, jawab Mita panjang lebar.

"What???" Rica setengah berteriak sambil menutup mulut, "namanya siapa Mit?" tanya Rica gugup. Jantungnya tiba-tiba berpacu lebih cepat.


"Kakakku?" tanya Mita seperti ikut-ikutan bwgo.

"Iyaaa...ahh Mitaaa!" tanpa sadar Rica berteriak. Otomatis Tius yang di sampingnya langsung menengok ke arah Rica. Dan mulai berjalan ke arahnya.

"Ada apa Ric" tanya Tius


"Ohh maaf mas..nggak apa-apa kok. Ini teman saya keterlaluan banget" jawab Rica sambil senyum malu. Sementara Mita yang  masih di tilpon mendengar percakapan Rica dan Tius, langsung teriak, 

"Rica dan Tius kelabakan dengan suara teriakan itu. Sembari mata mereka saling bertemu pandang. Aduhai, romantisme pun tercipta. Tius langsung mengambil hp Rica.

"Mita...apa maksudmu" Tius masih tidak menyadari apa yang terjadi. Sedang Rica yang berdiri di sampingnya ikut-ikutan bengong.


"Kak...Rica itu teman aku yang harus kamu jemput. Kenapa dia masih di situ. Nggak kakak antar pulang sih. Kasihan dia donk kak"

Seketika Tius melongo sambil memandangi Rica. Demukianpun Rica.

"Jadi...mas Tius disuruh njemput aku?" tanya Rica masih mencoba mencari keyakinan diri.

“Kaulah bidadari tak bersayap yang selama ini aku cari.”

Mereka tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak ketawa. Nggak habis pikir dengan kejadian yang mereka alami sore ini.Lama-lama Tius merasakan ada hal aneh yang ia rasakan saat menatap Rica.


"Rica. .aku minta maaf atas ketololan ini ya" seru Tius bersungguh-sungguh.

"Nggak apa-apa kok. Mas Tius nggak salah"

"Kalau begitu kita cari makan malam dulu yuk"

"Iya mas. Aku juga udah lapar kok"

Mereka tersenyum , mata bertemu mata.

Cinta datangnya kadang memang tak terduga.



Maria Agnes Indah Puspitowaty

Kompasianer


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

2 komentar untuk "Bertemu Cinta di Taman Pintar"