Tradisi Sek Pena: Gotong Royong Panen Jagung Suku Dawan Timor

[ Penulis : Frederikus Suni ]

Tradisi Sek Pena: Gotong Royong Panen Jagung Suku Dawan Timor. Foto FB; Charles Kabnani/TAFENPAH.COM


TAFENPAH.COM - Tetesan embun pagi masih tersisa di rerumputan, sejauh pandangan mata, segalanya tampak menguning, sementara sinar mentari, perlahan menyinari area perkebunan milik petani di desa Haumeni, kecamatan Bikomi Utara, kabupaten Timor Tengah Utara, provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pagi itu, suasana kekeluargaan antar masyarakat di desa Haumeni berbeda dari hari-hari sebelumnya. Karena mereka bersama-sama berkumpul di area perkebunan, tepatnya di TAENMETAN untuk melakukan kegiatan gotong royong.

Kegiatan gotong royong ini tentunya berbeda dari kerja bakti pada umumnya. Karena di setiap pertengahan bulan April hingga Mei, masyarakat Dawan Timor biasanya melakukan tradisi SEK PENA`.







Apa itu tradisi SEK PENA?

Tradisi Sek Pena: Gotong Royong Panen Jagung Suku Dawan Timor. Foto FB; Charles Kabnani/TAFENPAH.COM



Tradisi SEK PENA merupakan kegiatan gotong royong panen jagung khas suku Dawan (Atoin Meto/Atoni Pah Meto) di pulau Timor.

Tradisi SEK PENA bukan sekadar kerja bakti biasa. Karena tradisi ini berkaitan dengan sistem tolong - menolong antar keluarga, kerabat hingga lingkungan sosial.

Akar Kata (Etimologi) SEK PENA




SEK PENA berasal dari bahasa Dawan Timor yang terdiri dari dua (2) kata yakni;

1. SEK

2. PENA

SEK berarti; Petik, ambil. Sementara, PENA artinya; Jagung.

Jadi, terjemahan sederhana SEK PENA dari TAFENPAH.COM adalah kegiatan mengambil/memetik jagung.

Makna SEK PENA lebih luasnya adalah kegiatan memetik jagung di kebun secara bersama-sama. 

Kegiatan sosial ini menggambarkan situasi gotong royong untuk mengangkat atau memindahkan hasil panen jagung dari TAENMETA (Lokasi Kebun) menuju permukiman (tempat tinggal) masyarakat adat di desa Haumeni, kecamatan Bikomi Utara, kabupaten Timor Tengah Utara, provinsi NTT (wilayah perbatasan Indonesia dan Timor Leste).

Ciri khas SEK PENA

Sesuai dengan pengalaman saya ketika mengikuti tradisi SEK PENA: Gotong Royong Panen Jagung di kampung/desa Haumeni (tempat kelahiran saya) kurang lebih seperti berikut;

1. Umumnya, kegiatan atau tradisi SEK PENA dilakukan secara bergiliran.

Maksudnya; hari ini beberapa keluarga besar (sanak saudara/saudari) baik dari pihak keluarga bapak, mama hingga masyarakat di desa Haumeni secara kolektif (bersama-sama) memetik/mengambil dan memindahkan hasil panen jagung dari kebun ke rumah.

Besok dan beberapa hari yang akan datang, saya bersama orang tua melakukan kegiatan serupa di kebun keluarga ataupun masyarakat yang pernah membantu memetik jagung di kebun kami.

Hubungan timbak balik ini mencerminkan adanya ikatan emosional, seperasaan, senasib sebagai satu keluarga sosial yang lahir dan tinggal bersama di kawasan Timor Barat (perbatasan Indonesia dan Timor Leste).

2. Pemilik Kebun Wajib Menyiapkan Makanan dan Minuman

Sederhananya orang yang bekerja ataupun membantu kita, tentunya mereka juga butuh makanan dan minuman.

Uniknya; pada umumnya, masyarakat suku Dawan Timor, khususnya masyarakat di desa/kampung Haumeni ketika melangsungkan kegiatan atau tradisi SEK PENA, biasanya mereka tidak memedulikan enaknya makanan.

Melainkan, yang menjadi perhatian masyarakat, terlebih pihak bapak-bapak adalah minuman SOPI.

Secapek-capeknya para bapak memetik hingga memikul atau memindahkan jagung dari kebun menunu rumah, semuanya akan terbayar dengan minuman Sopi.

Sopi merupakan minuman alkohol, hasil vermentasi dari pohon lontar.

Walaupun bapak-bapak mabok sempoyongan, akan tetapi, mereka akan bekerja secara totalitas hingga tuntas.

3. Ucapakan Terima Kasih 

Setelah masyarakat desa Haumeni melakukan tradisi SEK PENA: Gotong Royong Panen Jagung, pemilik kebun akan mengucapkan terima kasih.

Terima kasih dalam bahasa Dawan Timor Barat adalah ; NEKSEOBANIT.

Nekseobanit atau ucapan terima kasih dari pemilik kebun kepada para anggota keluarga, kerabat, dan masyarakat yang telah membantu memindahkan jagung dari kebun ini bermakna ucapan berbela rasa.

Selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Dawan yakni; NEK MESE, ANSAOF MESE.

NEK MESE, ANSAOF MESE artinya; Satu pikiran dan satu hati untuk membangun kehidupan kolektif dalam bingkai kemanusiaan.

Kemanusiaan suku Dawan Timor berkaitan erat dengan tradisi SEK PENA.

Karena dalam tradisi SEK PENA, masyarakat Dawan, terutama desa Haumeni saling menguatkan, tolong menolong, memanusiakan manusia, menghidupkan nilai-nilai dari warisan leluhur hingga PANCASILA.

Ucapan terima kasih dari pemilik kebun kepada masyarakat juga secara simbolik mencerminkan tiadanya upah kerja.

Artinya; tradisi SEK PENA; Gotong Royong Panen Jagung tidak membutuhkan biaya atau upah.

Akan tetapi, dewasa ini, ada pergeseran makna SEK PENA.


UPAH (BIAYA) JASA SEK PENA

Seiring dengan tuntutan ekonomi, tradisi SEK PENA dalam sistem sosial suku Dawan Timor, khususnya masyarakat di desa Haumeni mengalami pergeseran makna.

Artinya; bantuan keluarga, kerabat hingga siapa saja yang berpartisipasi/terlibat dalam tradisi SEK PENA pada akhirnya dihargai dengan upah (bayaran).

Patokan harga/biaya/upah jasa SEK PENA juga bervariasi, tergantung tingkat perekonomian dari pemilik kebun.

Akan tetapi, berdasarkan kisaran harga yang berlaku hingga saat ini berkisar di nominal Rp 50.000 per hari.

Pertanyaannya; apabila pemilik kebun tidak mampu membayar jasa/upah SEK PENA, apa yang perlu dilakan pemilik kebun?

Tentunya, prasaryat utamanya adalah pemilik kebun wajib mengganti biaya/upah dengan ikut memetik jagung di kebun masyarakat yang pernah membantunya.

Penggantian upah dengan jasa timbal balik ini disesuaikan dengan jumlah keluarga yang pernah datang (membantu) memetik jagung di kebun saya.

Hal ini akan berbanding terbalik, apabila saya tidak mengindahkan atau membalas jasa SEK PENA kepada mereka yang pernah membantu saya.

Di mana, nama baik saya akan menjadi jelek di mata orang yang pernah membantu saya.

Selain itu, ketika saya melakukan kegiatan SEK PENA di tahun-tahun yang akan datang, saya sudah tidak mendapatkan simpatisan atau bantuan dari tetangga.

Karena nama saya sudah jelek di mata mereka.

Makanya, hukum timbal balik itu nyata dalam tradisi SEK PENA dan dalam kehidupan apa pun di lingkungan sosial suku Dawan Timor.


Saya rasa, tulisan ini saya cukupkan di sini. Jika ada kritik dan masukan positif dari pembaca, silakan sampaikan, agar saya bisa memperkaya tulisan ini ke depannya.

Salam literasi.

Instagram @tafenpah @suni_fredy


Tiktok : @tafenpah.com





TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Tradisi Sek Pena: Gotong Royong Panen Jagung Suku Dawan Timor"