Tafenpah dalam Obrolan Budaya bersama Radio Republik Indonesia (RRI Pro 4 Kupang)

Redaksi TAFENPAH

Obrolan Budaya Frederikus Suni bersama Radio Republik Indonesia (RRI PRO 4) KUAPNG

TAFENPAH.COM - "Budaya bukan cerita masa lalu. Budaya Dawan merupakan kompas, pegangan hidup masa depan NTT. Ketika pendidikan dibangun berdasarkan nilai, etika, dan spiritual serta kearifan lokal, outputnya tidak hanya generasi pintar, tetapi generasi yang berkarakter dan berakar pada identitasnya," www.tafenpah.com

Filosofi Orang Dawan dan Relevansinya terhadap Perantau





Pendahuluan

Masyarakat Dawan (Atoin Meto) merupakan etnik terbesar di provinsi Nusa Tenggara Timur.

Sebagai mayoritas penduduk terbesar di NTT, Atoin Meto memiliki peran penting dalam kemajuan Timor Barat.

Peran atau kontribusi nyata dari suku Dawan dalam memajukan provinsi Nusa Tenggara Timur juga tidak terlepas dari ‘sense of culture (rasa kebudayaan), sense of being (rasa keberadaan), sense of belonging (rasa memiliki) akan kearifan lokal budaya leluhur.

Dalam kearifan lokal budaya, Atoin Meto (Suku Dawan Timor) memiliki filosofi, kompas, pegangan, keyakinan, semangat empati, bekerja sama, berjejaringan lintas profesi dan budaya.

Budaya merupakan representasi atau perwujudan cinta dari mana kita lahir, bertumbuh, dan berproses menjadi versi terbaik diri kita.

Karena melalui budaya, kita belajar bagaimana mencintai diri kita, sesama, lingkungan, dan Tuhan yang kita yakini.

Senada atau selaras dengan filosofi suku Dawan Timor dalam kehidupan sosial yakni: 

“Nekaf Mese, Ansaof Mese, Tafena Hit Pah.”

Terminologi atau istilah Dawan di atas mengandaikan, bahwasannya dalam kehidupan sosial, kita harus menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme (kemanusiaan).

Humanisme merupakan salah satu cabang aliran Filsafat yang menekankan pada 4 Poin yakni:

Nilai Kemanusiaan
Rasionalitas
Empati
Kebebasan Individu




Pada poin pertam tentang ‘Nilai Kemanusiaan,’ tentunya di sana kita akan melihat makna dari filosofi Dawan yakni; Nekaf Mese Ansaof Mese, Tafena Hit Pah.”

Artinya; sebagai suku Dawan Timor yang kehidupannya mengalami banyak warna-warni, RASA PERSATUAN, KEBERSAMAAN, PERBEDAAN,’ bukan menjadi penghalang bagi kita dalam membuka diri dengan masyarakat luas.

RELEVANSI terhadap PERANTAU




Keterbukaan diri dengan budaya lain, perubahan zaman, serta berbagai peristiwa yang kita alami, entah di kampung halaman sampai pada negeri asing akan membawa kita pada fase KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA.

Antropolog Edward T. Hall pernah mengatakan bahwasannya kita tidak mungkin memikirkan komunikasi tanpa kita memikirkan konteks dan kulturalnya.

Artinya: sebagai perantau, kita pun tahu untuk MENEMPATKAN DIRI dalam situasi apa pun.

Pemahaman akan konteks/situasi di mana kita tinggal, bekerja, sekolah, dan berbagai urusan lainnya dapat memudahkan kita dalam beraktivitas.

Di sini, saya tidak mendikte, apalagi menggurui pendengar dan siapa pun. Yang saya tekankan adalah perihal TAHU DIRI.

TAHU DIRI berarti kita secara sadar (being) memahami dari mana kita berasal, bertumbuh, dan berproses.

Karena dengan memahami diri, kita pun tahu menempatkan diri. Sama halnya dengan pesan kebudayaan atau filosofi suku DAWAN yakni “MOEN TOK HIT AOUK BIAKIN, NAIKAT MOE HUMA-HUMA.”

Terjemahannya; dalam kehidupan lintas budaya, kita perlu memahami empati, simpati dan kepekaan sosial. 

Agar setiap kata yang kita ucapkan, perbuatan yang kita lakukan tidak BERTENTANGAN DENGAN NORMA DAN ETIKA di tanah rantau.

Sayangnya, pegangan hidup di atas, tampaknya belum sepenuhnya terlaksana dalam diri setiap perantau, khususnya generasi muda dari suku DAWAN TIMOR.

Karena fakta di lapangan membuktikan sikap, tindakan, dan perbuatan selalu memicu permusuhan, perselisihan, dll.

INILAH EGO TERBESAR GENERASI MUDA SUKU DAWAN TIMOR DI TANAH RANTAU.

DIsclaimer: Tidak semua generasi muda Dawan di tanau rantau berbuat demikian.

PENUTUP

Kesadaran akan identitas diri merupakan pintu awal untuk kita, terutama generasi muda Suku Dawan Timor dalam membangun komunikasi lintas kebudayaan.

Memahami diri berarti kita pun tahu kapasitas (kemampuan diri). Karena pemahaman yang mendalam tentang diri dan kebudayaan akan melahirkan sikap empati, solidaritas, menahan ego, bersedia membuka diri dengan orang yang berbeda dari kita, serta kemauan untuk terus belajar dan berproses.

Karena dalam proses kita tahu dan sadar akan keberadaan kita. Semakna dengan ajaran dari Filsuf Kebudayaan Ernst Cassirer yakni: Manusia tidak akan hidup sendiri. Karena pada dasarnya manusia adalah mahkluk yang membudaya. Artinya; makhluk yang hidup dalam dan melalui unsur-unsur kebudayaannya.”


Frederikus Suni
TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Tafenpah dalam Obrolan Budaya bersama Radio Republik Indonesia (RRI Pro 4 Kupang)"