Pemuda Katolik: Dari Kecemasan Menuju Harapan Indonesia Emas
Oleh : Gregorius Antonio Kapitan
![]() |
| Gregorius Antonio Kapitan. Opini/Tafenpah |
TAFENPAH.COM - Gelombang kecemasan yang melanda generasi muda Indonesia belakangan ini bukanlah isapan jempol. Mulai dari ketimpangan ekonomi, ancaman kerusakan lingkungan, hingga ketidakpastian politik, semuanya turut membentuk fenomena yang sering disebut “cemas bukan emas”. Namun bagi Gereja Katolik, kecemasan itu bukan akhir cerita. Justru di sanalah panggilan untuk bangkit menemukan titik pijaknya.
Gereja tidak menutup mata terhadap kegelisahan anak muda. Pesan-pesan pastoral menunjukkan bahwa kekhawatiran atas masa depan, termasuk kegelisahan ekologis (eco-anxiety) merupakan realitas yang perlu diakui. Paus Fransiskus pun berkali-kali mengajak kaum muda Indonesia untuk tidak berhenti pada rasa takut, tetapi menyalakan harapan dan mewujudkannya dalam aksi nyata menjaga bumi dan masyarakat. Iman, bagi Gereja, bukan pelarian dari persoalan, melainkan energi untuk menghadapinya.
Pandangan Gereja jelas: orang muda bukan hanya “masa depan”, tetapi juga “masa kini”. Mereka adalah subjek penting dalam kehidupan Gereja dan bangsa. Semangat, kreativitas, dan keberanian yang melekat pada para pemuda menjadi modal besar untuk menggerakkan banyak perubahan positif. Bagi pemuda Katolik Indonesia, partisipasi aktif, baik dalam gereja maupun dalam kehidupan sosial-politik adalah panggilan moral.
Untuk mengubah kecemasan menjadi kekuatan transformatif, Gereja menekankan pentingnya Ajaran Sosial Katolik (ASK) sebagai pedoman. Ada empat prinsip utama yang menjadi fondasi keterlibatan pemuda:
- Martabat Manusia: Memastikan setiap pribadi, terutama yang lemah dan terpinggirkan, dihargai dan dilindungi.
- Kebaikan Bersama: Mengutamakan persatuan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
- Subsidiaritas: Mengambil inisiatif dari level paling dekat dengan kehidupan sehari-hari baik secara komunitas, lingkungan, paroki.
- Solidaritas: Merasakan penderitaan sesama dan bergerak bersama demi keadilan.
Prinsip-prinsip ini menjadi peta jalan bagi pemuda Katolik untuk berkontribusi secara nyata.
Gereja mendorong Orang Muda Katolik (OMK) untuk tidak berhenti pada wacana. Ada banyak langkah konkret yang bisa dilakukan, misalnya:
• Membangun komunitas positif, memerangi hoaks, dan menyebarkan informasi yang menyejukkan.
• Terlibat dalam aksi sosial, pelayanan masyarakat, dan kegiatan lintas budaya untuk merawat nasionalisme dan toleransi.
• Memanfaatkan teknologi sebagai sarana memperjuangkan nilai kebenaran dan keadilan.
• Menguatkan komunikasi internal umat dan memperluas dialog dengan kelompok lain demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
Berbagai organisasi Pemuda Katolik di tanah air juga telah mulai mendorong gerakan-gerakan ini, mempertegas bahwa pemuda memiliki peran vital dalam perjalanan menuju Indonesia yang maju dan berkeadilan.
Pada akhirnya, sikap Gereja Katolik dapat dirangkum dalam satu kalimat: optimis tetapi realistis. Tantangan memang besar, bahkan kadang terasa gelap. Namun Gereja yakin bahwa dengan iman yang teguh dan keterlibatan aktif, pemuda memiliki daya luar biasa untuk mengubah kecemasan menjadi peluang, dan mengubah kecemasan menjadi emas-emas yang memurnikan masa depan bangsa.
Harapan itu bukan sekadar slogan. Harapan itu hidup dalam diri setiap pemuda yang memilih berjuang, bukan menyerah.

Posting Komentar untuk "Pemuda Katolik: Dari Kecemasan Menuju Harapan Indonesia Emas"
Posting Komentar
Diperbolehkan untuk mengutip sebagian materi dari TAFENPAH tidak lebih dari 30%. Terima kasih