Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Siaran Pers Komen Lida: Sastra sebagai Sketsa Kehidupan

 

@Komen_Lida

Dear Rekan Media, 

Semoga selalu dalam keadaan sehat.


Komunitas Melek Literasi Digital Indonesia atau biasa disingkat KOMEN LIDA kembali menggetarkan panggung Sastra Indonesia di edisi ke-4.


Sastra sebagai sketsa kehidupan karena berisikan kisah-kisah yang menggugah, menegangkan, menyedihkan, menggembirakan, mengjungkirbalikan, dan berbagi hal yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia.


Kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari kisah jenaka yang mengharukan bahkan menyedihkan. Karena setiap untaian kata yang dikemas dengan cinta dari pengulik sastra mampu memberikan dorongan untuk kembali bangkit, dikala terjatuh, lebih menghargai arti kehidupan, ketika seseorang sudah berada di atas puncak kariernya, belajar dari pengalaman yang sudah berlalu, dan terus bermimpi akan kehidupan hari esok yang lebih baik.


Untuk informasi lebih lengkap, berikut kami lampirkan  Siaran Persnya. “Sastra Membentuk Kepribadian Anak Bangsa (Sastra dan Mental Health).


SIARAN PERS “Sastra Membentuk Kepribadian Anak Bangsa (Sastra dan Mental Health).


Kupang, 8 Mei 2022 - Sastra sebagai sketsa kehidupan karena berisikan kisah-kisah yang menggugah, menegangkan, menyedihkan, menggembirakan, mengjungkirbalikan, dan berbagi hal yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia.


”Karya sastra mampu menyembuhkan luka. Selain sebagai ruang kritik sosial bagi siapa pun” Ujar Elvrida Lady Angel Purba selaku salah satu dari ke-4 co-Founder Komen Lida, yakni; Fredy Suni, Hendra Wattimena, dan Timey Erlely dalam pelatihan penulisan puisi dan cerpen via daring, Sabtu (7/5/2022).


Mahasiswa Universitas Negeri Medan ini juga mengatakan karya puisi, prosa, dan drama menjadi cikal bakal dari setiap orang untuk membangun dunia barunya.


“Menciptakan dunia baru di era digital adalah melalui karya sastra. Sastra itu sebagai obat terapi alami” pungkas Mahasiswa Prodi Sastra Indonesia kepada peserta.


Sastrawan muda asal Medan, Sumatera Utara sekaligus Kompasianer Kampusiana ini pun menegaskan sajak-sajak puisi modern terus berkembang sesuai dengan perubahaan zaman.


@Komen_Lida

Ia juga mengatakan karya puisi itu harus mencerminkan imaji dan diksi yang indah, sebagai instrumentalisasi atau representasi/perwakilan dari rasa sedih, senang, dan berbagai euforia kehidupan sesuai dengan kapasitas setiap orang dalam menguliknya. 


“Sebagai penyair kita harus mampu membangkitkan indra perasa. Tujuannya supaya apa yang kita komunikasikan bisa menyentuh dan benar-benar memberikan masukan yang konstruktif atau paradigram/cara pandang yang membangun kepada pembaca” tuturnya.


Ia juga berpesan kepada peserta dan siapa pun untuk mulai menulis hal-hal sederhana dalam nuansa SERSAN (Santai tapi Serius) dan tidak perlu yang berat-berat. Cukuplah menulis yang ringan-ringan saja.


Sementara, Shella Triyanti mengatakan dengan menulis puisi, kita akan membangkitkan daya imajinasi kita akan kehidupan, selain meningkatkan kreativitas.


Mahasiswa Akuntansi Universitas Pattimura ini juga menambahkan trik menulis puisi dan cerpen bagi pemula adalah harus memiliki modal keberanian.


@Komen_Lida

“Keberanian untuk menulis bagi pemula itu teras gampang, tapi sulit untuk melakukannya. Karena faktor ketidakpercayaan akan diri sendiri dan juga noise atau kebisingan dari luar diri kita. Untuk itu, kita harus mengesampingkan kebisingan tersebut dengan mensugesti diri kita bahwa kita bisa melewatinya” pungkas Penulis Buku ‘Pada Akhir Tahun 2020.’


Setelah bermain di ruang rasa, peserta pelatihan Jurnalistik dari Komen Lida dibawa ke ranah persepsi tentang nikmatnya berselancar di dunia Filsafat.


Orang yang bersastra adalah pribadi yang selalu gelisah akan kehidupan. Kegelisahan terbesar umat manusia adalah, kapan dan dalam kondisi seperti apa ia harus mencapai puncak kebahagiaan?


Mengupas sastra ibarat menjerumuskan diri ke tengah banalitas atau kesibukan harian yang sangat menggiurkan tentang pencarian kebahagiaan.


“Bahagia itu sederhana, yakni dengan menulis. Menulis akan memberikan ruang kosong, di mana ruang tersebut akan menjadi wahana kolaborasi lintas indra untuk melihat kehidupan dari sudut spiritualitas” ujar Alfred Sius Ngese Doja.


Seminaris (Frater) dan juga Mahasiswa Filsafat Teologi Widya Sasana Malang ini juga mendeskripsikan olah rasa dalam kacamata Filsafat.


Berfilsafat berarti kegiatan pencarian tujuan hidup. Menilik pencarian hidup, itu pun tidak pernah terlepas dari ajaran dari Sokrates tentang Metode Bidan.


Metode Bidan ala Sokrates adalah diskusi yang sangat menyenangkan antara seorang bijak dan setiap orang yang masih dalam tahap pencarian jati dirinya.


Seorang bijak tentu saja sudah tahu cara untuk mengeluarkan luka batin dari orang yang sedang diajak untuk berdiskusi.


Hal senada juga berlaku dalam karya sastra. Di mana Sastrawan itu tentunya sudah tahu cara untuk mengeluarkan ribuan pikiran yang terbelengguh dalam kesehariannya dengan cara menulis.


Menulis itu adalah seni menjelajah pikiran dan perasaan serta indra lainnya demi tujuan masa depan yang lebih baik, yakni menyembuhkan luka dalam gelora Filsafat.


“Sastra (Puisi dan Cerpen) dapat menjadi media untuk mendidik, namun dengan cara yang unik dan menyenangkan. Dengan tujuan agar anak bangsa Indonesia memiliki karakter yang positif, budi pekerti, dan mempunyai kualitas mental yang baik” tutup Alfred.


Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai kegiatan ini, bisa menghubungi kami melalui email: Freddysuny18@gmail.com atau nomor WA: 082140319973



Frederikus Suni

Freddysuny18@gmail.com

082140319972

Kupang, Nusa Tenggara Timur


Demikian siaran pers ini dibuat untuk membantu rekan-rekan media dalam menulis berita. Salam hormat dari Badan Pengurus Harian (BPH) Komen Lida.





Frederikus Suni
Frederikus Suni Hello pembaca Tafenpah...! Salam kenal dari saya Fredy Suni ya |Instagram: @Fredy_Suni18 | TikTok: @TafenpahNew | SnackVideo: @TafenpahNews | Facebook: @Tafenpah Selamat membaca!! Terkait kerja sama dan informasi iklan bisa melalui email tafenpahtimor@gmail.com || || Instagram: @Fredy_Suni18

Posting Komentar untuk "Siaran Pers Komen Lida: Sastra sebagai Sketsa Kehidupan"