Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kritik terhadap Dataisme (Agama Baru Manusia Abad 21)

 

Kritik terhadap dataisme/agama baru umat manusia abad 21. Sumber foto; Maxmanroe

Penulis: Andi Darman | Editor: Fredy Suni

Tafenpah.com - Yuval Noah Harari sebagai penulis buku “Homo Deus” meramalkan keruntuhan ajaran agama monoteistis (Kristen, Islam, Yahudi) pada abad ke-21 sekarang. 


Agama monoteistis akan digantikan dengan agama baru yang sesuai dengan perkembangan teknologi, yakni agama data (Dataisme). Dataisme merupakan keyakinan yang didasarkan pada aliran data dalam proses kerja sistem algoritma. 


Dataisme akan menunjukkan tuhan yang real melalui algoritma daripada padangan metafisis Tuhan yang ditawarkan agama monoteistis. 


Dataisme akan mengembangkan suatu proyek yang real seperti immortalitas, kebahagiaan, dan keilahian untuk melayani seluruh umat manusia. Dataisme akan mengatur dan merekonstruksi kehidupan manusia dengan kekuatan algoritma-algoritma eksternal. Karena itu, proyek ini tentu melucuti otoritas Tuhan yang metafisis dalam pandangan agama monoteistis.


Dataisme akan menunjukkan immortalitas hidup manusia dengan mengembangkan rekayasa Cyborg bagi tubuh manusia. Rekayasa Cyborg akan mengabungkan tubuh organik dengan alat-alat non organik, seperti tangan bionik, mata artifisial, manavigasi aliran darah, memperbaiki kerusakan tubuh, dan sebagainya. Karena dalam pandangan dataisme, manusia mati karena suatu kesalahan teknis pada tubuhnya, bukan atas dasar kehendak Tuhan. Penuaan pun bisa dibentuk menjadi muda dengan rekayasa Cyborg. 


Manusia dapat mati karena teknis yang mengalami gangguan dalam tubuh, seperti jantung berhenti memompa darah, arteri tersumbat oleh timbunan lemak, rendahnya kadar hemoglobin dalam darah, metobolisme asam urat yang tidak normal, penderita asma dan penyakit lainnya. Semua penyakit tersebut mampu diatasi dengan merokonstruksi tubuh dengan rekayasa Cyborg. Bahkan manusia bisa selalu bahagia dengan mengirimkan stimulus ke titik-titik yang tepat ke dalam otak. 


Dataisme yang mengandalkan pada kekuatan sistem algoritma non-manusia mampu memecahkan masalah dan mencapai keputusan-keputusan yang real bagi manusia. Ia mampu mengendalikan manusia untuk bekerja dengan sensasi, emosi dan pikiran. 


Misalkan, google maps yang sering kita gunakan untuk bepergian dengan kendaraan ke suatu tempat tertentu. Ia akan menuntun kita dengan menunjukkan rute jalan, kondisi lalu lintas, waktu tempuh, dan cuaca. Kita mengendarai kendaraan dengan mengikuti keputusan-keputusan real yang ditentukan oleh algoritma dalam google maps tersebut.


Dataisme sebagai agama baru meletakkan tuhan pada kerja algoritma untuk mengeliminasi kepercayaan manusia pada Tuhan. Dia menyingkirkan pandangan manusia dari Tuhan “teo-sentris” ke data-sentris. Menurutnya, Tuhan yang dipercayai manusia adalah produk imaginasi dari manusia itu sendiri karena Tuhan tidak menunjukkan keputusan yang real bagi kehidupan manusia. 


Agama yang paling menarik adalah agama data (dataisme), yang bukan menyembah Tuhan, bukan menyembah manusia, melainkan menyembah data. Dataisme dengan proses kerja yang dihasilkan algoritma sebagai tuhan yang jauh lebih peduli atas segala hal yang diinginkan oleh manusia.


Kritik terhadap Dataisme


Kehadiran dataisme sebagai agama baru tentu menjadi suatu keniscayaan dalam kehidupan manusia pada abad ke-21. Dataisme memberikan banyak kepuasan dan kemudahan yang lebih baik dan lebih besar bagi manusia. Kehadirannya tentu menjadi berkat karena manusia mampu menjangkau hal-hal sulit diprediksi dan dikerjakan dalam kehidupan. Akan tetapi, dataisme tidak diterima begitu saja sebagai tuhan untuk mengantikan Tuhan dalam pengertian agama monoteistis. 


Tuhan yang dipercayai oleh agama monoteistis memiliki nilai tertinggi dari dataisme yang diciptakan oleh manusia sendiri. Agama monoteistis terus optimis mengatakan bahwa orang yang menghayati agama monoteistis akan memperoleh hidup yang benar. Karena peran dari agama monoteistis yang integral dalam kehidupan selalu dikendalikan oleh kesadaran manusia yang hidup hic et nunc (di sini dan sekarang) bersama Tuhan. 


Dataisme yang berjalan secara otomatis, mekanis dan matematis tetap memiliki keterbatasan, kemungkinan macet dan tidak berfungsi dengan baik. Dia bukan satu-satunya penemuan manusia yang bertindak sebagai tuhan untuk mengatur dan menguasai kehidupan manusia. Kesadaran manusia dalam terang iman tetap memiliki peran yang tinggi untuk memahami, mengoreksi, mengatur dan memperbaiki segala sesuatu, karena kesadaran bersifat immaterial (bukan materi) dan terbuka (intesional). Artinya, kesadaran manusia memiliki kemampuan untuk membebaskan diri dan menemukan lagi makna hidup yang baru, ketika manusia dalam keadaan terpuruk. Manusia tidak mengantungkan seluruh hidupnya pada dataisme.


Heidegger juga memahami manusia sebagai Sein (Ada) yang berkarakter ganda: tampil jelas dalam sosok fisis, tapi sekaligus tak dapat digenggam atau tersembunyi. Yang tampil tersembunyi itulah yang tidak mampu dipahami dan dijangkau oleh dataisme. Hanya Tuhan dalam kepercayaan monoteistis yang mampu mengenal manusia secara keseluruhan. Tuhan itu pulalah yang dalam relasi personal dengan manusia mampu mengeluarkan manusia dari situasi ketidak-manusiaan.


Agama dataisme mungkin bertanya; bagaimana manusia mengenal bahwa Tuhan yang berperan dalam mengeluarkan manusia dari keterpurukan dalam hidup? Dalam ajaran monoteistis, manusia adalah makhluk pencari makna dalam relasi persoal dengan Tuhan. Sedangkan, Tuhan adalah asal dan tujuan dari segala yang dicari manusia. Tuhan sebagai asal berarti Dia yang membuat segalanya, bukan dataisme. Tuhan sebagai tujuan berarti manusia bergerak dan tertuju kepada-Nya. Maka, Tuhan adalah Dia yang menyejarah dan hadir untuk membawa manusia keluar dari keterpurukan dalam hidup.



Frederikus Suni
Frederikus Suni Hello pembaca Tafenpah...! Salam kenal dari saya Fredy Suni ya. Selamat membaca!! Terkait kerja sama bisa melalui email tafenpahtimor@gmail.com || || Instagram: @Literasi_Tafenpah

Posting Komentar untuk "Kritik terhadap Dataisme (Agama Baru Manusia Abad 21)"