Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Stigmatisasi Dunia Kerja terhadap Mahasiswa Drop Out

Stigmatisasi dunia kerja terhadap mahasiswa drop out (DO). sumber gambar Pixabay.com

Hantu Terberat Mahasiswa Drop Out (DO) di Dunia Kerja itu benar-benar kerasa loh sobat.


Ngak percaya? Yuk, dengarin coretan hatiku sebagai mahasiswa drop out yang sudah makan garam di dunia kerja.


Apa itu Drop Out?

Drop out (DO) biasanya disematkan bagi mahasiswa yang tidak menyelesaikan kuliahnya. Entah satu dan lain hal yang memicu seseorang untuk mengundurkan diri ataupun muntaber (mundur tanpa berita) dari kampusnya, kita pun tidak tahu alasannya.


Ada yang DO karena keluarga. Bisa juga untuk menyelamatkan pendidikan adik-adiknya.


Mengapa Hal itu bisa terjadi?

Segala sesuatu itu tidak bisa diprediksi dengan pasti. Karena apa yang kita miliki saat ini, esok dan lusa belum tentu masih ada dalam genggaman tangan kita.


Nah, begitu pun dengan kisah hidupku sebagai mahasiswa DO dari Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang.


Sebelum menyelesaikan pendidikan non-formal sebagai seorang Seminaris di Malang selama 3 tahun, saya sudah membuat rencana.


Salah satu rencana terbesar saya adalah ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi. Saya pun mulai mencari berbagai macam referensi terkait apa saja yang harus dipersiapkan oleh seorang Maba (Mahasiswa Baru).


Berbagai hal telah saya pelajari. Semua itu saya lakukan sebagai bekal sebelum menginjakkan kaki di Perguruan Tinggi.


Tahun 2017, saya mulai duduk di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang.  Cinta mulai bersemi dengan ilmu kuno yang sebagian besar orang menganggapnya sebagai ilmu Atheis. Ya, gegara logika dalam ilmu Filsafat membuat siapa saja yang pertama kali bersentuhan dengan ilmu filsafat pasti memasuki ranah geger budaya (Culture Shock).


Apa alasannya?

Alasan mendasar bagi mereka yang beranggapan bahwasan ilmu Filsafat adalah bagian dari Atheisme adalah iman kepercayaan kita dijungkir balik. Layaknya badai Seroja yang beberapa bulan lalau menerpa kampung halamanku Nusa Tenggara Timur.


Padahal belajar ilmu Filsafat itu tidak mengajarkan kita untuk menjadi atheis. Tergantung metodologi (kerangka berpikir) epistemologi seseorang.


Ya karena Filsafat itu berasal dari keresahan dan menganut pikiran bebas sejauh dipertangungjawabkan kebenarannya.


Krisis Identitas

Krisis identitas mahasiswa drop out. Gambar dari pixabay.com

Saya terlalu fokus dan asyik dengan ilmu Filsafat. Karena sudah terlanjur jatuh cinta. Keteledoran saya memicu keresahan dalam diri saya untuk mempertanyakan keberadaan diri saya sendiri.


Untuk apa saya belajar ilmu Filsafat? Toh, di dunia kerja pun ilmu itu tidak berguna! Pikirku. Semakin lama saya belajar ilmu Filsafat, saya semakin tak karuan dengan kecemasan akan hari esok yang lebih baik.


Krisis identitas pun mulai mengejar keseharianku. Saya terlena dan jatuh dalam pelukan krisi identitas itu sendiri.


Selain itu ilmu Teologi selalu berusaha untuk menetralisi rasa kegelisahan saya. Namun tidak mempan juga. Akhirnya, memasuki semester 4, saya dengan mantap menghadap sekertariat dan mengutarakan niat saya untuk berhenti kuliah.


Akan tetapi, tidak mudah saya mengambil keputusan secepat itu. Saya pun dibimbing oleh beberapa pembimbing spiritual saya. Sembari mengajukan surat pengunduran ke pimpinan tertinggi dan tembusan ke Roma.


Hari-hari saya jalani dengan perasaan koplo. Layaknya koplok lagu dangdut. Saat itu tujuan saya satu yakni ingin pergi jauh dari kehidupan Seminaris.


Percuma saya hidup dalam dunia putih, jika magnetik dunia hitam lebih besar dalam diriku. Eits, dunia hitam adalah kehidupan yang lebih bebas daripada kehidupan di Seminaris yang segalanya sudah tertata rapi dan teratur dari berak hingga berdoa di Kapel dan berjibaku dengan teks-teks kuno Filsafat yang sangat menguras emosi.


Awal tahun 2019 saya dengan kepala tegak menemui sekertariat dan meminta untuk resign (mengundurkan diri) dari Kampus yang belakangan ini saya sesali.


Faktor apa saja yang membuat saya tak berarti?

Pertama: Setelah resmi dan menyangdang status mahasiswa gagal alias Drop Out (DO) saya mulai bersentuhan dengan dunia kerja.


Di awal-awal saya berjibaku dengan dunia kerja, semuanya berjalan dengan normal. Seolah-olah tak ada masalah dalam kehidupanku. 

Saya membawa sesuatu peristiwa dalam koridor “happy-happy ajalah.” Toh masa depan masa panjang dan usia masih muda pula. Untuk apa saya terlalu cemas dengan hari esok?


Itulah gambaran pikiran saya dikala itu. 


Berkelana

Saya drop out dari STFT Widya Sasana Malang tahun 2019




Saya mulai berkelana dari satu kota menuju kota lainnya. Saya pun tidak tahu dengan jalan hidupku. Mau pulang kampung juga, saya masih takut dan tidak ingin menambah beban orangtua. Gegara saya memutuskan untuk berhenti kuliah pun tanpa sepengetahuan mereka.


Bahkan belakangan ini, ayah saya baru beritahu bahwa beliau pernah merasa jantungan, ketika mendengar berita tak sedap dari orang-orang di kampung halamanku yang memandang kegagalan sebagai bencana terbesar dalam kehidupan.


Hidup tetap berjalan cuy. Saya pun memutuskan untuk mencari tantangan di kota metropolitan Jakarta.


Pengalaman sadisme di dunia kerja

Memegang rekor sebagai mahasiswa Drop Out dari kampung halamanku, tentunya bebas di pundak saya semkain berat. Ketika saya merasa tidak kuat untuk memikul beban tersebut, rasanya saya ingin menyerah. Namun, sayang banget, usia saya masih muda.


Pengalaman sadisme di dunia kerja adalah ketika melakukan interview, tim rekruiter yang menaruh sikap skeptis (ragu) akan kemampuan saya.


Sebagai mahasiswa Drop Out, tentu saya tidak ingin mempunyai pilihan lain, selain terus mengasah skill dan belajar sepanajang waktu. Bahkan hari-hariku dihabiskan untuk belajar banyak hal.


Bagaimana perasaan kamu, jika ditolak untuk bekerja di mana-mana?

Cukup diam dan renungi sendir ya sobatku. Karena saya pun tak sanggup untuk menceritakannya kepadamu. Terlalu sadisme menyangdang status sebagai mahasiswa drop out (DO).


Sebagai mahasiswa drop out semua pekerjaan bisa saya lakukan. Mulai dari bersihin kotor hingga sesekali merasakan nikmatinya duduk di bawah ruang ber-AC. Semua telah ku lalui hanya karena cinta.


Salah satu quote novel perdana saya “Terjebak” Jangan menyerah karena cinta. Berjuang untuk terus mencintai.”


Kata-kata itu lahir dari pergumulan hidup yang sangat panjang di dunia kerja sebagai seorang mahasiswa drop out yang dikacangin.


Sobatku yang sementara kuliah, nikmatilah masa-masa kuliahmu. Jangan mudah menyerah. Karena ketika kamu memasuki dunia kerja, kamu akan merasakannya.


Memang kuliah tidak menjanjikan kekayaan materi. Seenggaknya dengan bekal ijazah S1, kamu bisa memiliki pekerjaan tetap. Tidak seperti saya!


Solusi

Setelah melalui berbagai pertimbangan dan pengalaman jatuh bangun, dikacangin, disumpahin, diraguin saya memutuskan untuk kembali kuliah. Namun, bidang yang saya gelutin pun tidak sama dengan bidang Filsafat. Melainkan di bidang Broadcasting.


Mudah-mudahan suatu saat saya bisa mengukir dan bertemu dengan mereka yang pernah hadir dan meninggalkan luka dalam kehidupan saya sebagai seorang droup out yang tidak pernah ada setitik kebaikan pun. Inilah stigmatisasi bagi mereka yang menyandang status sebagai drop out.


Pesan

Apa yang saya alami adalah pelajarin bagi adik-adik yang sementara kuliah. Manfaatkan kesempatan dan jangan membuang-buang kesempatan. Karena penyesalan selalu datang dari belakang. Jika penyesalan datang lebih awal itu dinama pendaftaran.


Barangkali celoteh saya sangat subjektif. Anggap ini adalah genjotan kisah humaniora yang merupakan masalah universal di muka bumi ini.


Kegagalan adalah pelajaran berharag untuk hari ini, esok dan lusa. Agar di hari yang akan datang menjadi momentum yang tepat untuk berkisah pada rumput-rumput yang sedang bergoyang.


Terakhir, izinkan saya untuk mengutip lirik lagu “Badai Pasti Berlalu” karya almarhum Chrisye


Awan hitam

Di hati yang sedang gelisah

Daun-daun berguguran

Satu-satu jatuh ke pangkuan

Ku tenggelam sudah

Ke dalam dekapan

Semusim yang lalu

Sebelum ku mencapai

Langkahku yang jauh

Kini semua bukan milik ku

Musim itu tlah berlalu

Matahari sudah berganti

Gelisah ku menanti tetes embun pagi

Tak kuasa ku memandang matahari

Badai pasti berlalu

Badai pasti berlalu

Badai pasti berlalu

Badai pasti berlalu


Salam satu rasa untukmu sobatku.


Catatan: Artikel ini saya pernah publikasikan di Kompasiana, Kompas dan Line Today


Fredy Suni (Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Dian Nusantara Jakarta)

Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Campus Ambassador Internasional at MUN

Posting Komentar untuk "Stigmatisasi Dunia Kerja terhadap Mahasiswa Drop Out"