Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemimpin Hebat Itu Memiliki Keseimbangan Antara Perkataan dan Perbuatan

Ibu Joana Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

“Kebaikan itu bagai sebuah lingkaran. Jika awalnya dimulai darimu, percayalah satu saat nanti akan kembali kepadamu” – Achmad Badjuri


Begitu pun dengan kejahatan. Apa yang kita tabur hari ini kepada sesama, esok dan lusa kejahatan itu akan kembali kepada kita. Siapa pun dari kita tidak bisa menolak hukum sebab-akibat (kausalitas) ini.


Terkadang keadaan mempermainkan kita. Seolah-olah dunia ini hanyalah tempat lelucon. Di mana kebenaran dimanipulasi oleh segelintir orang demi mencapai sesuatu yang mereka inginkan. Sebaliknya, kesalahan dibenarkan dengan maksud dan tujuan tertentu.


Untuk membungkam cibiran orang lain, cukuplah kita mengadopsi ‘Seni Menertawakan Diri Sendiri.’ Selain terus memberikan kerja nyata.


Bekerja di dalam sebuah organisasi itu memang tidaklah mudah. Karena setiap orang ingin mengagungkan dirinya sendiri. Banyak orang pintar beretorika di depan tapi tidak memberikan sumbangan nyata bagi lingkungan organisasinya. Sebaliknya, ada yang terlihat biasa-biasa saja tapi luar biasa dalam berkarya.


Kelebihan tipikal kelompok kedua ini biasanya tidak disukai oleh kelompok pertama. Karena sampai kapan pun mereka tidak melebihi kelompok kedua. Bayangkan saja, kelemahan orang lain saja diceritain, apalagi kelebihannya.


Sumber gambar; Blessings_today20

Aneh tapi nyata. Salah satu pakar komunikasi dari Universitas Korea Selatan pernah mengatakan bahwa otak manusia diciptakan untuk mencari masalah. Masalah timbul dari stimulus atau rangsangan yang berada di sekitarnya. Atau dalam bahasa para filsuf adalah ‘kematian akal sehat.’


Common sense (kematian akal sehat) melanda mereka yang tidak menggunakan akal budinya untuk berpikir. Seharusnya akal sehat digunakan untuk mencari solusi yang membangun bukan sebaliknya saling mengompor-ngomporin suasana batin rekan kerjanya.


Organisasi sehebat apa pun tidak akan berjalan dengan baik jika salah satu anggotanya selalu berusaha untuk mencari kejelekan rekan kerjanya. Justru yang benar adalah jika rekan kerja salah harus dibenarkan. Sebaliknya yang benar diapresiasi dan terus menyuntikkan spirit demi kemajuan visi dan misi dari organisasi tersebut.


Menarik apa yang diajarkan oleh Pak Ignasius Johan (Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia) saat masih memimpin Kereta Api Indonesia (KAI) adalah pemimpin itu harus turun lapangan dan memberikan contoh nyata bagi bawahannya bukan terus bersembunyi di balik mejanya.


Pemimpin yang hebat itu memiliki keseimbangan antara apa yang ia bicarakan dan lakukan dalam kesehariannya.


Lebih jauh lagi, sekarang zamannya bekerja sama antara usia tua dan muda sesuai dengan slogan Gubernur DKI Jakarta, Anis Baswedan yakni ‘ Jakarta Sebagai Kota Kolaborasi.’


Kolaborasi berarti kita dituntut untuk merangkul perbedaan, melepaskan ego, dan menciptakan iklim organisasi yang nyaman bagi setiap orang.


Tersenyumlah kepada dunia dan bersahabatlah dengan semua orang tanpa memandang latar belakangnya.


Jakarta, 26 November 2021


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Campus Ambassador Internasional at MUN

Posting Komentar untuk "Pemimpin Hebat Itu Memiliki Keseimbangan Antara Perkataan dan Perbuatan"