Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Benteng Semesta itu Bernama Kapeso

 

Edward Sembiring

Oleh: Edward Sembiring, S.Hut., M.Si.

TAFENPAH.COM - Mungkin tidak sulit kita membayangkan suatu tempat eksotis yang terisolasi dari dunia luar. Masyarakatnya hidup nyaman dengan tata cara tersendiri, dan ini bukan film atau cerita fiksi, melainkan kehidupan nyata yang benar-benar ada.


Pada akhir Oktober 2020, saya menyinggahi tempat semacam itu, Kampung Kapeso di Distrik Mamberamo Hilir, Kabupaten Mamberamo Raya, Provinsi Papua. Sengaja saya jabarkan letak administratifnya, karena kemungkinan besar pembaca baru mengetahui dari tulisan ini, bahwa di Indonesia Raya kita terdapat kampung bernama Kapeso.


Bagaimanapun, Kapeso pernah menjadi isu hangat pada tahun 2011 silam terkait persoalan stabilitas keamanan negara. Terjadi pengibaran bendera selain merah putih di Lapangan Terbang Perintis Kapeso saat itu. Mungkin saja ingatan masyarakat umum masih merekam peristiwa-peristiwa perih tentang Kapeso sampai sekarang. Namun, saat saya tiba di sana, nuansa yang saya dapati benar- benar luar biasa seperti surga kecil yang dianugerahkan Tuhan.

Kapeso termasuk salah satu kampung di dalam Kawasan Suaka Margasatwa Mamberamo Foja. Untuk tiba di sana, saya bersama tim menaiki perahu motor dari Pelabuhan Teba di Muara Sungai Mamberamo, Kabupaten Mamberamo Raya. Berjam-jam perahu motor melaju kencang menyusuri Sungai Mamberamo dan percabangannya, kemudian masuk ke Danau Rombebai yang sangat luas. 


Di suatu tepi danau itulah Kampung Kapeso berada. Kapeso sungguh sebentang surga, yang memiliki ketenangan ajaib, juga kesahajaan dan kewajaran. Kapeso tersembunyi di antara kelokan raksasa Sungai Mamberamo beserta rimba rayanya, menyusun kehidupan secara diam-diam di tepi Danau Rombebai, hunian bagi jutaan flora fauna yang sulit ditemukan padananannya. Pada situasi itu, Kampung Kapeso seolah-olah dunia tersendiri, tidak ada sinyal handpone dan tak terkait dengan berbagai drama kehidupan semesta yang umum kita temukan di kota-kota. Di Kapeso, matahari pagi terlihat seperti ibu semesta yang demikian berwibawa menapaki lengkung langit. Cahayanya memeluk nadi Kapeso dengan kehangatan yang sangat tulus.

Keindahan alam Kapeso Papua. Dokumentasi dari Edward

Sejak pagi buta, para perempuan Kapeso telah beraktifitas di Danau Rombebai. Kita dapat menyaksikan mereka mencuci perabot rumah tangga, seperti baskom, panci, wajan, dan sebagainya. Mereka bergulir-gulir di jalan kampung sembari menyunggi barang-barang di kepala. Sebagian anak-anak mengiringi ibu mereka dengan langkah gontai dan senyum sahaja. 


Cerita pagi di Kapeso lengkap juga dengan hidangan teh hangat, kopi, beserta umbi-umbian atau pisang dengan cita rasa yang sangat khas. Tampak setiap keluarga telah menikmati sajian sebelum anak-anak berlarian menuju sekolah dengan seragam merah putih. Kapeso nyaris tak terusik oleh apa pun. Ikan-ikan di Danau Rombebai, yang didominasi mujair berukuran raksasa, selalu dapat dipanen dan dinikmati. 


Begitupula sayur di kebun, tetap tumbuh subur dan dapat melengkapi hidangan setiap hari. Mereka yang berburu akan ke rimba, memanggul busur dan anak panah dengan gembira. Mereka yang menjaring ikan juga selalu siap menebar jala. Setiap hari buah pinang bertandan-tandan beserta sirih disuguhkan untuk merekatkan jalinan.


Kehidupan di Kapeso selalu berlangsung harmoni dan syahdu. Orang-orang di sana selalu menampilkan ekspresi tenang, tak ada tenggat waktu yang ketat untuk suatu pekerjaan, juga tak pernah perlu mereka memikirkan dokumen perjalanan. Orang-orang Kapeso bahkan memilih tak bepergian ketika Danau Rombebai sedang pasang dan bergelombang. Mama Aprena, seorang warga Kapeso, bercerita, “Kalau air pasang itu ombak besar. Biasa di bulan Desember. Kita tidak bisa pergi ke luar kampung, tidak bisa menjala ikan. Jadi, kalau musim ombak, ya, kita cukup hidup dengan sayuran. Kecuali dapat ikan dari memancing di dermaga situ saja.”


Dari kondisi faktual yang saya rasakan dan alami dengan segenap kesadaran panca indera saya, hanya satu kata yang paling tepat untuk menamakan nuansa Kapeso, yaitu damai. Seperti inilah Kapeso dan Papua pada umumnya, tenteram, damai, terberkati. Kita juga telah membuktikannya pada pagelaran PON XX yang masih tersisa gemanya di ingatan kita. 


Ketika orang-orang dari seluruh Indonesia berkumpul di Papua, nuansa yang kita dapati adalah damai. Kampung Kapeso ini mungkin hanya salah satu dari sekian dunia lain di Papua. Saya kira banyak perkampungan seperti Kapeso, yang tersembunyi di balik rimba raya, bukit-bukit, lembah-lembah, maupun kelokan sungai-sungai di Papua.


Sejauh ini, masyarakat yang menghuni perkampungan seperti Kapeso masih memegang nilai-nilai leluhur dan menerapkannya dalam kehidupan, terutama dalam hal interaksi dengan alam. Masyarakat seperti mereka sangat tepat diberi predikat sebagai para "Penjaga".

Mereka berprinsip mengambil secukupnya dari alam, sekadar untuk dikonsumsi atau dinikmati pada hari itu. Selebihnya mereka jaga untuk dapat dinikmati pada masa yang akan datang, untuk anak cucu. Prinsip ini tampak sederhana. Namun, dalam pandangan saya justru menjadi benteng sangat kuat bagi kelestarian alam sampai masa yang jauh ke depan. 


Terbukti, hutan-hutan Papua yang dijaga oleh kearifan lokal semacam ini masih utuh sampai sekarang. Nilai-nilai leluhur masyarakat di Kampung Kapeso dan di Papua secara umum, tak kalah bijaksana dari nilai-nilai konservasi modern, tidak rumit, sederhana, namun tepat guna. Contoh kecil, masyarakat di Kapeso dan perkampungan- perkampungan lain yang jauh tersembunti, pada umumnya memiliki tempat- tempat sakral. Secara tradisional mereka menjaganya agar tetap utuh dan tak terjamah. Mereka meyakini berbagai tulah apabila tempat-tempat sakral itu diusik atau diganggu.


Dalam konteks ini, tak ada maksud berbicara takhayul, atau hal-hal yang dianggap syirik dengan menyakralkan pohon, sungai, telaga, atau tempat-tempat lainnya. Namun, untuk kepentingan konservasi, konsep tempat sakral sangat ampuh melindungi kawasan tertentu sehingga kelestariannya terjamin dalam jangka waktu yang panjang.


Selain tempat sakral, masih banyak kearifan lokal yang secara nyata sanggup membentengi kawasan-kawasan hutan agar tetap utuh. Lantas, apakah mereka tidak memerlukan kesejahteraan atau peningkatan taraf hidup menuju ke arah modern? Ini menjadi tantangan tersendiri bagi konservasi.

Saya berpikir, setiap kelompok masyarakat memiliki standar kebahagiaan dan kelayakan hidup yang berbeda-beda sesuai latar sosial dan budaya mereka. Bagi masyarakat di kota-kota besar, standar kelayakan hidup dan kebahagiaan bisa jadi diukur dengan ketersediaan pangan serta kepemilikan hunian yang layak, kendaraan, pendidikan, kesehatan, kemampuan mengakses fasilitas umum dengan leluasa, dan lebih khusus manusia modern tak pernah lagi bisa lepas dari jaringan internet.


Saya tak mengatakan bahwa masyarakat Kapeso tak memerlukan itu semua. Komponen yang saya sebutkan merupakan kebutuhan dasar dan menjadi hak yang melekat pada diri setiap manusia untuk dapat terpenuhi dalam kehidupan mereka. Hanya saja, kita perlu melihat konteks yang lebih khusus, bahwa masyarakat Kapeso memiliki nilai-nilai yang patut dijaga. Kita bandingkan, di kota-kota besar dan khususnya di Jayapura, harga mujair satu porsi sudah mencapai 100 sampai 150 ribu rupiah. Itu pun mujair yang dipelihara dan dibesarkan dengan pakan instan. Sementara di Kapeso, mujair melimpah ruah, murni diasuh oleh alam sehingga dapat saya jamin dagingnya lebih sehat dan rasanya lebih lezat.


Sama halnya dengan bahan pangan yang lain, seperti pisang, umbi-umbian, sayuran, dan lainnya, semua organik, sehat, lezat. Lebih dari itu, Kapeso dengan eksotisme alamnya, ketenangan suasananya, tak pernah dapat tergantikan oleh apa pun. Masyarakat di kota-kota besar memerlukan rekreasi secara berkala demi mengatasi rasa suntuk atau bahkan stress oleh pekerjaan dan kepadatan hunian. Sementara di Kapeso, setiap saat adalah rekreasi, setiap saat surgalah yang mereka huni.


Terkadang, hal-hal semacam itu luput dari perhatian kita. Kecukupan hidup yang sedemikian rupa tak perlu lagi kita beri kontaminasi dengan hal-hal lain atas nama pembangunan dan peningkatan taraf hidup. Kalau mau jujur, mereka jauh lebih damai daripada kita yang setiap saat diburu tugas-tugas. Terlebih, masyarakat di Kapeso memiliki hunian semi permanen dengan sanitasi yang memadai. Apa lagi yang mereka perlukan selain dukungan untuk terus melestarikan alam dan menjadi para penjaga semesta. 


Saya tegaskan bahwa dunia konservasi sangat memerlukan keberadaan mereka sebagai benteng paling vital untuk melindungi keutuhan alam. Tanpa mereka, saya tidak yakin alam Indonesia dapat bertahan di tengah ketamakan modernitas.


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Campus Ambassador Internasional at MUN

3 komentar untuk "Benteng Semesta itu Bernama Kapeso"