Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Plato: Jadilah Pengganggu Yang Elegan di Ruang Publik!

Plato: jadilah pengganggu yang elegan di ruang publik. Sumber foto dari Kompas.com


Apa pun yang dilakukan oleh seorang pemimpin, tak lepas dari pantauan warganet.


Hidup seorang pemimpin selalu berada dalam kicauan media sosial. Memang kita tidak bisa menyalahkan keadaan. Karena menjalani profesi apa pun saat ini, kita tidak memiliki ruang privat lagi.


Demokrasi bukan hanya mengurusi kehidupan rakyat dalam ruang publik. Tapi, demokrasi telah beralih fungsi menjadi sarana pemantauan gerak-gerak seorang pemimpin. Seolah-olah kita seperti intelnya politisi di media sosial.


Seorang pemimpin juga manusia yang lemah seperti kita. Mereka juga butuh kehidupan yang jauh dari pantauan media sosial.


Kendati tak ada salahnya kita menjadi alarm bagi seorang pemimpin, tapi terkesan berlebihan. Berlebihan dalam artian mengumbar kelemahan seorang pemimpin melalui media sosial.


Bayangkan posisi kita sebagai pemimpin. Kehidupan harian kita selalu dinilai secara subjektif oleh wargnet. Penilain mereka pun belum tentu sesuai dengan realita kehidupan kita. Ya suka-suka warganet mau menilai apa pun tentang kita. Sebenarnya kita mau protes, tapi ketika kita protes, kita pun dicap sebagai pemimpin yang sombong. Pemimpin yang sok-sokan, dll. Jalan terakhir adalah kita hanya berdiam diri. Sembari memendam segala emosi di dalam kehidupan kita. Nah, begitulah disposisi batin seorang pemimpin di tengah pusaran media sosial.


Disposisi Batin Pemimpin

Sumber gambar: Samahitawirotama.com


Menakar disposisi (keadaan batin) seorang pemimpin di tengah pusaran media sosial, memang selalu ada hal yang menarik untuk diumbar kepada khalayak umum. Asalkan kita memiliki bukti yang valid, sahih akan  kebenaran. Kita bebas beropini dalam kehidupan berdemokrasi, asalkan opini kita netral antara pemimpin dan kehidupan bersama.


Jangan hanya masalah penilaian subjektif, kita melukai hati sesama. Menjadi pemimpin di era media sosial memang tak pernah benar di mata publik. Karena setiap orang bebas menafsir apa pun yang sedang tersaji di dalam ruang publik.


Memang tugas kita adalah sebagai pengganggu dalam kehidupan politik. Senada ajaran Plato, bahwasannya tugas seorang filsuf adalah sebagai pengganggu di dalam ruang publik. Asalkan pengganggu yang elegan dengan narasi-narasi yang membangun. Bukan narasi-narasi yang mengarah ke logical fallacy (pikiran menyerang/sesat) yang ditujukan kepada pemimpin.


So, milikilah sikap bijak untuk menakar ataupun beropini di dalam ruang publik seputar kehidupan politik. Yang terpenting kita menghargai privasi orang lain. Dan kita pun menakar sebab-musabab dari permasalahan yang terjadi di dalam internal partai politik tertentu. Gunakan penilaian objektif bukan penilaian subjektif seputar kehidupan privat seorang pemimpin di media sosial.


Salam Tafenpah


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Posting Komentar untuk "Plato: Jadilah Pengganggu Yang Elegan di Ruang Publik!"