Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengejar Hasrat Travelling Hingga Tanah Lot, Bali

Mengejar hasrat travelling hingga Tanah Lot, Bali


Selain menulis, impian terbesarku adalah membangkitkan hasrat travelling.


Mengulik perjalanan adalah hal yang sangat menyenangkan. Apalagi ada sponsor di balik perjalanan itu, ah rasanya dunia berada di genggaman tanganku.


Berbicara tentang hasrat travelling, saya sudah cukup mengenal pesona-pesona alam yang berada di nusantara ini. 


Akan tetapi, di episode ini, saya akan mengisahkan perjalananku selama di pulau Dewata, Bali.


Bali Sebagai Surganya Pelancong Dunia


Tanah Lot, Bali


Malam itu, tepatnya bulan April 2019, saya memiliki kesempatan untuk mengikuti tur bersama rombongan selama dua Minggu di pulau Dewata, Bali.


Rombongan saya memilih jalur darat, ketimbang transportasi udara. Karena perjalanan itu akan menjadi sesuatu yang menguji adrenalin dan menyenangkan, apabila melalui jalur darat.


Waktu menunjukkan pukul 00.00 WIB, rombongan saya tiba di pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur. Setelah perjalanan yang sangat melelahkan dari kota pendidikan Malang.


Sekadar rombongan saya menikmati hujan kelap-kelip pelabuhan transit Ketapang – Gilimanuk, Bali. Setelah berpuas menikmati keindahan pelabuhan pada malam hari, kami menumpangi kapal transit yang sudah disiapkan oleh para donatur atau sponsor perjalanan kami.


Perjalanan dari pelabuhan Ketapang – Gilimanuk hanya memakan waktu 30 menit. Durasi waktu yang singkat. Tapi, meninggalkan goresan perkenalan bersama bule-bule yang juga malam itu ikut bersama kami.


Komunikasi antar budaya pun tercipta. Antara jawaban ‘yes or no’ menjadi bekal pembicaraan kami.


No, problem! Karena proses pembelajaran itu berjalan sepanjang waktu. Bus khusus yang telah disediakan sponsor kepada kami pun mulai keluar dari arah dek kapal.


Sementara, rekan-rekanku yang lain masih menikmati hawa dingin pada saat itu. Perjalanan darat pun kembali tercipta.


Sejauh mata memandang, segalanya tampak menakjubkan. Ribuan pohon kelapa yang berjejeran di sepanjang jalan menuju kota Denpasar menjadi teman imajinasi kami.


Dan perjalanan darat menuju kota Denpasar lumayan lama dan melelahkan. Saya punn tertidur. Karena mentari mulai hadir dan menyinari semesta pulau Dewata, Bali.



Mencuri Pandang

Tanah Lot Bali


Di sepanjang jalanan, ada pemandangan yang mencuri mata kami yakni pakaian bule yang hanya mengenakan bra, dan kain Bali yang sangat menggoda imajinasi lelaki. Hihihi


Tentunya jika kami tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang komunikasi budaya, gaya hidup bangsa lain,  pasti kami memasuki ranah cultur shock. Beruntung, di komunitas kami pun sudah dibekali dengan ilmu demikian. Jadi, kami menganggap biasa saja.


Wong, pemandangan gratis kok, ngapain ditolak? Begitulah logikanya. Setiba di kota Denpasar, kami langsung melepaskan rasa capai, lelah, kantuk dan bejibun perasaaan tentang pulau Bali.


Esoknya, kami mulai menjelajahi keindahan pantai Kuta yang merupakan surganya kota Bali. Akan tetapi, bagi rombongan saya, surganya Bali bukan ada di pantai Kuta. Melainkan di dunia malam Legian.


Legian adalah tempat Bom Bali I. Dan area itu, kini disulap menjadi pusat hiburan malam para pelancong dunia.


Pikiran kita akan melayang, jika kita menikmati pemandangan yang bukan biasa-biasa saja. Ya, rasanya di tanah air ini sudah tidak ada lagi etika dan moral.


Tapi, bagaimana pun juga, dunia Bali memang berbeda. Karena Bali merupakan pariwisata sekaligus tempat hiburan internasional.


Bercerita di Tanah Lot

Bali


Tanah Lot menawarkan pemandangan yang sangat indah. Ribuan pengunjung, baik dari lokal maupun mancanegara bersatu di atas hamparan bukit keindahan itu.


Di sana tidak ada diskriminasi. Baik kulit putih, sao matang, cokelat maupun gelap hanya memiliki satu tujuan yakni menikmati keindahan dalam suasana persaudaraan.


Menariknya, di bawah bukit itu, ada hamparan deburan ombak yang seketika menerbangkan angan menuju negeri gentangan. Gegara keindahan itu menyiratkan cintanya Sang Pengada yang tiada batasnya.


Sementara, penduduk lokal mulai memasarkan kekhasan daerah Bali, berupa gelang, kalung dan aneka atribut bagi para pengunjung.


Di pojok lainnya, ada puluhan artis yang sedang shuting di situ pun. Rombongan saya pun mulai mengibas ribuan manusia hanya untuk mendapatkan swafoto bersama idolanya.


Sayangnya, saya tidak bisa ikut foto. Gegara, satu dan lain hal yang sangat urgent. Bidikan kamera saya menghasilkan cerita untuk hari esok dan lusa. Terutama untuk hari tua.


Sobatku, saya akhiri coretan perjalanan ini ya. Di episode berikut, saya akan mengupas bagaimana menguji adrenalin dalam wisata Rafting di pulau Dewata, Bali.


Salam Tafenpah




Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Posting Komentar untuk "Mengejar Hasrat Travelling Hingga Tanah Lot, Bali"