Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kuliah Bukan Hanya Tentang Kerja Quis, Forum lalu Mendapatkan IPK Tertinggi! Tapi,,,,,,,,

 

Ilustrasi gambar dari Pexels.com


Betapa bangganya seseorang menyandang status sebagai mahasiswa. Tapi, ia pun tidak tahu, apa yang ia cari dalam dunia pendidikan!


Salah salah pencarian klasik dalam dunia pendidikan adalah  ilmu, pengalaman, relasi, kedewasaan dalam berpikir, bertingkah laku, problem solving (mampu memecahkan masalah), analitik dalam menanggapi fenomena atau peristiwa kehidupan setiap hari.


Akan tetapi, kebanyakan dari kita melanjutkan pendidikan hingga Perguruan Tinggi karena gengsi, lingkungan, tekanan dari orangtua dan berbagai faktor stimulus atau rangsangan, baik dari dalam diri sendiri maupun dari luar. Akhirnya kita hanya mengikuti ke mana arah angin bertiup, di situlah kita berada.


Kuliah Sebagai Wahana Penyadaran Diri

Ilustrasi gambar dari Edukasi.Kompas.com


Mengetahui tujuan merupakan langkah yang tepat bagi mahasiswa untuk menciptakan masa depannya. Memang, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam setiap waktu. Tapi, seenggaknya, kita mulai mempersiapkan diri dengan jalur penyadaran diri.


Sobat jangan membayangkan bahwa untuk menyadari keberadaan (being) kita harus mengikuti gaya hidup para pertapa yang biasanya menghuni padang gurun, gua, hutan maupun tempat-tempat yang jauh dari keramain desa maupun kota.


Namun, menyadari diri berarti kita mengetahui passion atau kemampuan apa yang kita miliki setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.


Mengapa kita harus mengetahui passion atau kemampuan sejak di dunia kampus? Karena ketika kita menyelesaikan pendidikan tinggi, kita pun langsung terjun ke dalam dunia kerja. Dunia kerja memang penuh dengan intrik maupun dramatisasinya.


Bayangkan saja pekerjaan kita saat ini sebagai kelas karyawan. Tentunya kita sudah mengalami pengalaman jatuh dan bangun dalam organisasi pekerjaan. Apalagi bagi mahasiswa yang belum sama sekali mengalami langsung ritme atau siklus dunia kerja. Mereka pasti masuk dalam ranah culture shock atau gegar budaya kerja.


Manajemen organisasi perusahaan, komunikasi antar pribadi, kelompok, lingkungan dalam teori sama sekali berbeda di kehidupan nyata.


Untuk itu, hal pertama yang kita miliki adalah sense of adaptation (kemampuan untuk beradaptasi). Selain memiliki kemampuan survival, rasa ingin tahu (kepo) akan ilmu pengetahuan serta kemauan untu terus belajar sepanjang hidup.


Presiden Joko Widodo pernah mengatakan; “Jangan berhenti belajar walau sedang pandemi. Jadilah pembelajar sejati. Ilmu dari kampus bisa menjadi suatu yang usang. Tapi kalau selalu belajar sepanjang hayat, ilmu akan terus bisa relevan.”


Kuliah Bukan Tentang Mengejar Nilai IPK

Gambar dari Pintek.id


Secara logika siapa sih yang tidak menginginkan nilai IPK tertinggi! Toh, dengan modal IPK tertinggi, kita akan mudah diterima perusahaan. Selain menjadi kebanggaan bagi rekan-rekan mahasiswa seangkatan, diri sendiri, orang tua dan mereka yang selalu berada di sekitar kita.


Akan tetapi, dunia kerja sekarang telah bertransformasi 180 derajat dari yang semula menerima karyawan dengan IPK tertinggi, kini beralih dengan pertanyaan ringan, apa passionmu?


Selain mencari tahu jejak digital kita di mbak google maupun akun media sosial kita.


Ironisnya kebanyakan dari kita setelah kuliah dengan predikat Cum Laude IPK 3,88, dst, semakin bingung untuk menawarkan solusi apa bagi masyarakat dengan ilmu yang kita miliki.


Percuma! Kita mengejar nilai IPK tertinggi tapi kualitas kita tak searah, sebanding dengan IPK tersebut.


Lalu, bagaimana solusi yang tepat untuk keluar dari stigmatisasi tersebut? Caranya mudah dan gampang, alias gratis ongkir yakni mulailah menekuni salah satu bidang yang kita sukai. Selain membangun koneksi lintas profesi, budaya dalam perjumpaan setiap hari.


Misalnya, si A menyukai video editing, ya terus dikembangkan, jangan dikebiri gegara waktu hanya tersita dengan si doi. Demikian pula, dengan si B,C,D, dst yang menyukai bidang modeling, blogging, desain, make up dan berbagai bidang yang kita sukai.


Masih muda kok mikirnya jodoh terus. Gabut, ya gabut saja. Sekadar intermezzo sobatku.


Akhirnya, nilai jualmu itulah yang menentukan masa depanmu dalam dunia kerja, masyarakat, lingkungan dan bangsa Indonesia tercinta. Bukan IPK!


Salam Tafenpah




Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Campus Ambassador Internasional at MUN

Posting Komentar untuk "Kuliah Bukan Hanya Tentang Kerja Quis, Forum lalu Mendapatkan IPK Tertinggi! Tapi,,,,,,,,"