Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Karya Novel Lahir Dari Kebiasaan Membaca


Karya novel lahir dari kebiasaan membaca. Grid.id

Apa yang kita baca, itulah masa depan kita. Apa yang kita sukai, itulah jalan hidup kita.


Passion adalah apa yang kita senangi untuk melakukannya setiap hari. Kita jatuh cinta dengan kegiatan harian, itulah passion. 


Setiap orang pasti pingin jadi penulis. Tapi, tidak semuanya hobi membaca. Candu membaca adalah modal awal bagi seorang penulis.


Nah, di episode aksara ini, saya ingin mengisahkan pengalaman saya, tatkala membaca dan berburu novel semenjak tahun 2014 silam. Pertama saya bersyukur pernah menjalani hidup membiara sebagai Frater di Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD), Provinsi Jawa. Selama 5 tahun, bacaan favorit saya adalah karya novel. Selain Filsafat, Psikologi, Teknologi dan Humanistik.


Dahaga untuk berburu novel terkadang menyita kegiatan harianku. Di mana saya jarang makan dan istirahat yang teratur, demi melahap karya fiksi dari para penulis. Saya tidak pernah memilih karya novel. Karena bagi saya setiap penulis punya gaya tersendiri dalam mengulik aksara. Tujuan saya membaca berbagai karya novel adalah ingin mencari sudut pandang dari setiap penulis. Setelah mendapatkan sudut pandang dari setiap penulis, saya memutuskan untuk berlatih menulis diary.


Latihan menulis diary selama 6 tahun bahkan sekarang adalah makanan favorit saya. Hemat saya, candu membaca karya novel, membawa saya pada dunia yang lebih luas, yakni menjadi seorang penulis novel.


Di awal saya sudah katakan bahwa, apa yang kita sukai, itulah masa depan kita. Apa yang kita baca, itulah tujuan hidup kita. Senada apa yang saya alami selama 6 tahun yang lalu. Di mana waktu itu saya belum memahami, arti dan tujuan hidup saya. Tapi, berkat karya novel, saya menemukan mutiara yang sangat berharga bagi perjalanan saya saat ini.


Tahun 2020 selain sebagai tahun penderitaan kita semua, saya merasakan tahun 2020 sebagai tahun perintisan karir saya di dunia novelis.


Awal bulan Maret 2020, saya berhasil menerbitkan karya perdana yakni, novel Terjebak.


Novel Terjebak


Mari kita melihat sinopsisnya :

Aldo merasa gelisah dan prihatin dengan masa depan pendidikan adik-adiknya yang tak pasti. Belum lagi, keinginannya untuk menjawab panggilan menjadi seorang Imam (Katolik) membuat situasi semakin sulit. Keterbatasan ekonomi keluarganya menuntut Aldo sebagai anak sulung bertanggung jawab untuk pendidikan adik-adiknya. Di sinilah Aldo dihadapkan pada dua pilihan yaitu tetap mau menjadi seorang imam atau meninggalkan panggilannya. Aldo terjebak di antara dua pilihan ini. Namun, waktu tak dapat ditahan, keputusan terus dituntut daripadanya. Pilihan manakah yang harus diambil Aldo untuk menyelamatkan pendidikan adik-adiknya?


Lalu, bulan Desember 2020, saya berhasil menerbitkan novel kedua yang berjudul,”Superego.”


Novel Superego


Sinopsisnya:

Setiap orang pasti mengalami masalah psikologis. Masalah psikologis itu tak hanya berupa penyakit mental, rasa minder, dan tekanan batin. Namun, masalah psikologis yang dialami oleh setiap orang bisa berupa luka. Luka karena dikhianati, ditinggalkan, dipisahkan, dan diteror oleh orang-orang tercinta.


Masalah luka batin, hampir dialami setiap orang. Ada yang terluka karena masalah komunikasi dengan pasangan, anak, keluarga, orangtua atau kerabat. Ada pula yang dilukai karena masalah perceraian dan perselingkuhan.

Cerai dan selingkuh adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan dari manusia. Sejauh ada kehidupan, di sanalah masalah ada. Berangkat dari masalah, ada yang bertumbuh. Tak jarang, ada yang mengalami trauma sepanjang hidupnya.


Lalu, bagaimana dengan kehidupan Sintia dalam mencari epistemologi pembunuhan almarhum orangtuanya? Apakah ia akan menemukan rahasianya?


Dan pertengahan Januari 2021, saya menerbitkan kumpula artikel pilihan saya dari Kompasiana dalam buku “Jejak Aksara.”


Buku Jejak Aksara


Sinipsisnya:

Diksi-diksi kerinduan hanya bisa diperoleh melalui membaca dan menulis. Membaca dapat memperkaya khazanah pengetahuan kita tentang dunia.


Menulis akan membawa kita pada pengolahan pikiran, rasa dan olahraga yang dikemas dalam tema, bingkai dan diksi-diksi kerinduan.


Diksi-diksi kerinduan akan menyatu dalam irama aksara. Sebagai generasi Milenial, kita harus menjadikan budaya membaca sebagai identitas kita.


Apa pun kondisi kita, membaca dan menulis adalah jalan untuk meninggalkan jejak di tanah air tercinta.


Sekiranya potretan artikel ini membawa semangat dan motivasi bagi anda sekalian untuk menggali potensi yang masih tersembunyi di dalam diri anda.


Salam literasi. Buku-buku saya hanya didapatkan melalui akun media sosialku atau bisa hubungi saya melalui email; tafenpahtimor@gmail.com dan freddysuny18@gmail.com 


Salam tafenpah








Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Posting Komentar untuk "Karya Novel Lahir Dari Kebiasaan Membaca"