Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengaruh Teknologi Dalam Menghayati Budaya

 

Ilustrasi gambar dari Lifestyle. Kompas.com

Teknologi merupakan salah satu alat yang dapat mempermudah manusia dalam berbagai hal. Teknologi di zaman sekarang bukan menjadi hal yang asing lagi, bahkan boleh dikatakan menjadi teman dalam kehidupan manusia. 


Kehidupan manusia di zaman sekarang sangat bergantung pada teknologi karena teknologi merupakan teman sebaya dalam hidupnya. Segala sesuatu bergantung pada teknologi. Tanpa teknologi itu bukan hidup. Teknologi diibaratkan seperti makanan dan minuman, tanpa teknologi semua akan hampa. 


Dewasa ini banyak aplikasi smartphone muncul dan aplikasi itu sangat membantu manusia dalam kehidupan setiap hari. Saat ini manusia sangat bergantung pada teknologi tersebut. Bagi anak-anak zaman sekarang, teman sejati mereka adalah handphone. Hidup dan kerja tanpa smartphone hampir tidak mungkin bagi mereka. 


Mengapa demikian? Karena sejak kecil mereka sudah hidup dengan alat tersebut sehingga tidak mengherankan kalau hidup mereka sangat bergantung pada alat teknologi bahkan menjadi teman sejati dalam hidup mereka. Teknologi sangat bermanfaat dan sangat membantu manusia dalam kehidupannya setiap hari. Namun sayangnya kita manusia terkadang tidak menggunakan alat tersebut sesuai dengan fungsi dan maknanya sehingga banyak orang terjerumus kepada hal-hal yang buruk.


Perkembangan teknologi di zaman sekarang sangat mempengaruhi proses perkembangan seseorang dalam menghayati budaya. Salah satu contohnya adalah banyak orang tidak berakar lagi pada budaya dan kehidupannya. Hal sederhana misalnya, ketika menerima tamu. Budaya orang Timor khususnya orang suku Dawan, ketika menerima tamu, biasanya hal yang dilakukan pertama saat menerima tamu adalah memberikan sirih pinang. 


Sirih pinang melambangkan bahwa orang yang datang bertamu diterima dengan baik dan juga melambangkan persaudaraan dan kekeluargaan. Bagi orang Timor, tamu diibaratkan seperti raja, jadi kita harus memberikan yang terbaik karena hal ini merupakan harga diri bagi orang Timor. Erna Suminar mengatakan bahwa Sirih pinang adalah tentang rasa hormat. Sebagai sopan santun budaya dan penghargaan kepada


Ilustrasi gambar dari Travel.detik.com

sesama, bahwa mereka memiliki kedudukan yang sama, baik tamu maupun pribumi. Sirih pinang menjadi simbol bahwa kehadiran mereka diterima dengan hati yang tulus dan terbuka. Sirih pinang menjadi ‘jembatan’ komunikasi dan memberikan kepastian makna, sebuah rasa persahabatan dan kekeluargaan untuk menemukan kerjasama dan kegembiraan yang dibagi bersama dan berbagi cerita-cerita tentang kehidupan . 


Apa yang yang dikatakan oleh Erna Suminar dalam artikel ini sungguh benar bahwa simbol sirih pinang bagi orang Timor adalah sebagai salah satu bentuk penghormatan atau pengahargaan terhadap sesama. Erna ingin mengarfirmasikan bahwa sebagai makhluk yang berbudaya kita perlu melestarikan budaya kita di mana pun kita berada. 


Begitulah budaya dan kebiasaan orang Timor khususnya orang Dawan dalam menerima tamu. Sangat sederhana, namun banyak orang sudah lupa dalam menghayati budaya ini. Mengapa demikian? Menurut saya ada dua hal yang membuat orang lupa dalam menghati budayanya. Yang pertama karena banyak orang di zaman sekarang kurang berakar pada budaya dan kehidupannya. Yang kedua adalah karena manusia dipengaruhi oleh teknologi sehingga tidak mengherankan banyak orang di zaman sekarang sudah lupa dalam menghayati budayanya. Kedua hal ini masih mengakar dalam kehidupan manusia. Maka tidak mengherankan banyak orang di zaman sekarang lupa akan budaya dan kehidupanya. Banyak orang lebih senang menghabiskan waktu bersama smartphone dari pada bersama keluarga. 


Keluarga menjadi nomor dua, sedangkan smartphone menjadi nomor satu dalam hidupnya. Ini adalah realita yang sedang terjadi di zaman sekarang. Bagi anak zaman sekarang teman sejati mereka adalah smartphone. Smartphone menjadi sahabat sejati dikala mereka merasa susah dan senang. Sedangkan sesama menjadi bagian yang kurang diperhitungkan. 


Dari fenomena ini kita bisa melihat bahwa perkembangan teknologi di zaman sekarang sangat mempengaruhi seseorang dalam menghayati budayanya. Saat menjalani masa liburan di kampung halaman ada banyak pengalaman yang saya alami khususnya dalam hal budaya.


Salah satu budaya orang Timor khusunya suku Dawan selain makan sirih pinang ada satu budaya yang namanya pamit di leluhur saat merantau atau pergi melanjutkan sekolah di luar pulau Timor. Budaya ini masih aktual sampai saat ini artinya orang Timor masih mengimani budaya ini. 


Namun yang saya amati selama menjalani liburan di kampung, saya melihat bahwa banyak orang sudah lupa dalam menghayati budaya ini khususnya mereka yang pergi merantau dan bersekolah di luar pulau Timor. Menurut cerita, orang yang pergi merantua dan bersekolah tinggi saat kembali


ke kampung tidak mau menerima budaya yang sudah ada sejak dulu kala. Mereka mengatakan bahwa hal ini sangat merugikan dan bahkan membuat kita tidak punya apa-apa. Hal ini mencerminkan bahwa banyak orang sudah lupa akan budayanya. 


Budaya menjadi nomor dua dan alat teknologi seperti smartphone menjadi nomor satu dalam hidupnya. Mengapa demikian? Karena kehidupan manusia di zaman sekarang banyak bergantung pada teknologi, dan justru malah alat teknologi yang mengatur dan menguasai hidup mereka. 


Maka tidak mengherankan banyak orang jatuh dalam hal penggunaan alat teknologi. Hidup mereka dikuasai oleh alat teknologi, sehingga hidup mereka juga terjerumus dalam dunia maya. Hal ini sangat sulit untuk dikendalikan. Sebagai makhluk yang berbudaya mari kita menjaga dan melestarikan budaya kita masing-masing agar budaya yang ditanamkan sejak dulu tetap hidup dan bertumbuh berkembang.


Catatan satu kutipan diambil dari sumber: https://jurnal.kwikkiange.ac.id



Penulis Tafenpah: Jeri Nino
Mahasiswa Filsafat Teologi Widya Sasana Malang sekaligus
Frater Seminari Tinggi SVD Surya Wacana Malang



Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

3 komentar untuk "Pengaruh Teknologi Dalam Menghayati Budaya"