Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sama Seperti Kebahagiaan, kesepian Adalah Tanggung Jawab Kita

Parenting.co.id


Cara pandang yang salah terhadap diri sendiri, adalah salah satu penyebab kesepian. Masih banyak penyebab lainnya. Yuk, atasi kesepian.


4 dari 10 remaja berusia 16 – 24 mengalami kesepian. Demikan survei besar-besaran yang dilakukan oleh British Broadcast Corporation (BBC). Kesepian didefinisikan sebagai: Merasa tidak dipahami, sedih, berjuang dari FOMO (fear of missing out), tidak punya seseorang untuk diajak bicara, dan merasa terpisah dari dunia. 


Para peneliti membuktikan bahwa kesepian dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental. 


- Dampak emosionalnya adalah depresi dan meningkatnya risiko bunuh diri. 

- Pola tidur buruk yang berdampak pada menurunnya kemampuan berpikir, kurang fokus, emosi tumpul dan produktivitas berkurang. 

- Tidak dapat mengatur emosi, yaitu reaksi berlebihan, minum alcohol, merokok, atau ngobat untuk mengusir sepi. 

- Dampak pada kesehatan fisik; obesitas, kolesterol tinggi, kecanduan dan merokok. 

- Risiko terbesarnya adalah gangguan pada system imun tubuh, rentan infeksi virus, bakteri dan jamur, serta penyakit-penyakit radang. 


Mengapa remaja rentan kesepian? Bukannya usia mereka adala usia ‘hore’, banyak teman dan kegiatan? Ini penyebabnya:


Kehilangan orang yang dicintai yang punya ikatan kuat (ayah, ibu, kakek, nenek) karena meninggal, perceraian, kehilangan pekerjaan, kehilangan kesempatan untuk sekolah atau berpisah dengan komunitas lainnya, adalah penyebab remaja kesepian. 


Punya perasaan disingkirakn dari orang lain seperti teman sebaya atau keluarga. Perasaan ini muncul dari rasa kurang percaya diri, salah menilai diri sendiri, atau merasa tidak diterima. 


Ini yang paling penting: kesepian itu tidak benar-benar berarti ‘sendirian’. Kesepian adalah perasaan sepi sendiri meski berada di antara banyak orang. Kesepian adalah pengalaman individual; ada perasaan dipisahkan, diasingkan dan diisolasi. 


Yes, anak zaman now bilang, “Ah, itu kan perasaanmu aja!” Sepertinya ada kesalahan persepsi tentang dirinya. 


Salahkan otak

Mengapa remaja dan dewasa muda yang lebih sering mengalami kesepian? Apakah karena mereka kurang kerjaan? Kebanyakan rebahan dan tidak punya kegiatan? Bisa jadi. 


Tapi ini yang tertulis di jurnal Psychology Today. Remaja dan dewasa muda sedang membangun identitas dirinya, dan mencari-cari siapa diri mereka, mereka  ada di mananya dunia yang sebesar ini. Kondisi seperti ini penuh tekanan, masa hidup membingungkan, sering penuh drama, dan kehilangan relasi atau ada perubahan dan relasi. 


Orang-orang muda belum berkembang kemampuannya dalam mengatasi dunia dewasa yang menantang; toleransi terhadap perasaan terisolir. 


Otak mereka belum sepenuhnya berkembang untuk dapat meredam kekuatan emosi mereka. Mereka belum bisa menggunakannya dalam tingkat yang lebih tinggi, kemampuan rasional untuk mengatur emosi, reaksi, dan dorongan-dorongan. Kondisi ini membuat FOMO menjadi semakin intens. 


Survei BBC juga menemukan, di antara remaja-remaja yang kesepian ini justru kemampuan berempati mereka meningkat. Ketika tantangan-tantangan itu muncul, pengalaman kesepian itu mendukung kemampuan yang tinggi untuk menempatkan diri pada cara pandang orang lain. 


Orang kesepian harus apa?

“Cari pacar dong.”

“Salah! “

“Lho kok salah? Kan seneng, punya teman ngobrol?”


Jangan! Pacar bukan orang yang harus bertanggung jawab atas kesepian diri kamu. Kalau pacarmu lagi sibuk, banyak kerjaan sudah date line, trus, kamu pasti akan nyalahin pacar kamu. Pacarmu tidak bisa menolongmu lepas dari rasa kesepianmu. Lalu kamu cari pengganti. Terus, akan jadi lingkaran syaiton. 


Ini kiat dari Eugene Beresin, M.D, MA, (namanya aneh, mungkin dia suka beresin kejiwaan orang) dalam Psychology Today: 


Satu: Perluas diri kita dengan menolong orang. Bergabung dengan komunitas-komunitas yang bergerak di bidang kegiatan amal. Bertemu dan terhubung dengan banyak orang akan memunculkan hormon oksitosin, dan kita jadi happy. 


Saya ingat Viktor Frankl, dokter, psikiater yang diserok tentara Nazi karena dia keturunan Yahudi. Dia dan istrinya dimasukkan ke kamp konsentrasi  yang terpisah. Istri Frankl meninggal, tapi Frankl tidak dikabari. Di kamp konsentrasinya, Frankl bukannya ketakutan membayangkan kematian dan meratapi dirinya, tapi sebaliknya, dia menolong banyak orang. Akhirnya dia bertahan hidup dan selamat sampai dibebaskan. 


Kata Frankl, menolong sesama yang menderita akan membuat kita menemukan makna hidup kita. Ya, alih-alih meratapi kesepian kita, yuk bisa yuk, bantu orang lain. 


Yang kedua menurut Eugene, gabunglah bersama orang-orang kesepian! Proses menceritakan pengalaman kita sendiri dan mendengarkan kisah orang lain dapat membuat kita merasa tidak sendirian. Orang lain akan menanggapi dengan empati. Pas! Remaja sedang menumbuhkan rasa empati, interaksi ini akan meningkatkan perasaan saling membutuhkan, saling menguatkan, memvalidasi serta meningkatkan rasa percaya diri. 


Ketiga, Pelihara binatang. Pelihara artinya merawat; memberi makan minum, memberi tempat tinggal dan membersihkan tempat tinggalnya, dan bermain bersama. Relasi dengan binatang akan menghasilkan hormon bahagia, oksitosin. 

Binatang memberi dukungan emosional. Memelihara binatang bisa mendatangkan kegembiraan.


Keempat. Praktikkan mindful awareness. Kesadaran yang dilakukan dengan penuh perhatian. Ingat, kesepian itu perasaan dan persepsi subyektif kita. Banyak orang kesepian punya anggapan, “inilah jalan hidupku.” Kalau kita menganggap kesepian sebagai takdir, kita tidak termotivasi untuk mengubah banyak hal. Kita menganggap segala sesuatu yang terjadi adalah ramalan yang terjadi dengan sendirinya. 


Kata Eugene, itu bukan pikiran nyata. Memakukan pikiran negatif tentang kesepian pada otak kita akan menjadi awal dalam membantu diri kita untuk menyadari betapa lebaynya (berlebihan) orang itu. 


Contoh pemikiran lebay: “Saya tidak berharga, tidak ada orang yang suka saya. Tidak ada harapan untuk berhubungan dengan orang lain, karena orang-orang itu sudah menyukai orang lain.” 


Inti dari kesadaran penuh perhatian itu adalah, mengubah emosi untuk mengidentifikasi pemikiran yang dilebih-lebihkan dan menyimpang, lalu bekerja sama dengan terapis, keluarga, dan teman untuk mengubah cara berpikir kita. 


Kelima, Cobalah memahami mengapa kamu kesepian. Kehilangan, dikeluarkan dari komunitas, ataukah hanya pikiranmu sendiri. Penting sekali untuk memahami bahwa kesepian adalah perasaan pribadi. Tidak semua orang yang kehilangan seseorang yang dicintai merasa kesepian, kok. Mungkin sedih sebentar. 


Kalau kita tetap merasa kesepian di tempat ramai, berarti sejak awal hidup kita, kita tidak diasuh dengan pengertian, komunikasi dengan empati, dan kedekatan. Dengan mencari tahu dari mana kesepian itu berasal, kita akan mendapat cara untuk mengatasinya. Kuncinya adalah terus melakukan pergumulan batin, yang akan dapat diselesaikan jika kita menemukan masalahnya. Lalu kita mengambil langkah selanjutnya yang terbaik. 


Keenam, Sibukkan diri dalam kreativitas seni. Setiap kali merasa sepi, lakukan kegiatan seni. Mendengarkan musik, nonton film, melukis, atau membuat pot dengan clay, dapat mengalihkan kita dari perasaan yang menyakitkan dan memperbaiki suasana hati kita. Kegiatan itu bukan sekadar pengalih, tetapi sekaligus proses penyembuhan. 


Tujuh, Kita bukan pertapa. Otak kita terhubung untuk berhubungan sosial. Komunitas dibentuk dari lingkungan keagamaan, spiritual, politik, dan sebagainya. Hal itu menyatukan kita dengan tujuan yang sama. Mereka membantu kita merasa bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari kita sendiri. 



Penulis Imma Rachmani (Redaktur Majalah Femina Group/GCM Group







Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Campus Ambassador Internasional at MUN

2 komentar untuk "Sama Seperti Kebahagiaan, kesepian Adalah Tanggung Jawab Kita"