Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tafenpah Peduli Budaya Nusantara

Tafenpah peduli budaya nusantara. Konteks.org


Jantung kehidupan setiap orang itu tidak bisa dipisahkan dari kebiasaan setempat. Melalui kebiasan setempat, kita tahu cara bertutur kata, membawa diri dan berelasi dengan budaya lain.


Bagaimana kita bersahabat dengan budaya lain, jika kita sendiri tidak mencintai kebudayaan setempat kita?


Untuk itu, mulai sekarang jangan khawatir tentang berlalunya kebiasaan budaya kita yang semakin digerus oleh kolam teknologi.


Teknologi itu sangat membantu kita untuk merawat mutiara-mutiara terpendam dalam keseharian kita. Yang perlu kita lakukan adalah mendokumentasikan setiap momen/peristiwa adat-istiadat kebudayaan kita dalam bentuk karya.


Karya kita akan selalu dikenang, jika mulai dari sekarang kita berusaha untuk mengibas rasa malu dan gengsi untuk menulis tentang kebudayaan.


Budaya itu mencerminkan jati diri kita. Ke manapun kita melangkah, gerak-gerik kita selalu bertautan dengan kebudayaan di mana kita dilahirkan.


Sebagai tanggapan serius, media online Tafenpah hadir menyapa setiap orang untuk menulis tentang kebudayaannya.


Mengapa kita harus menulis tentang kebudayaan?


Mengacu pada pandangan filsuf Friedrich Nietzsche dan Martin Heidegger tentang “Nihilisme yang berarti suatu proses di mana pada akhirnya tiada lagi yang tersisa.”


Eits, apa maksudnya ini? Ah, jadi kepo nih! Maksud dan tujuan dari ungkapan filsuf yang di atas jika saya menggunakan konteks pemikiran zaman sekarang adalah kehadiran teknologi akan ikut melenyapkan mutiara-mutiara kebudayaan kita. Jika kita tidak bergerak untuk mulai menyicil karya yang bernuansa kebudayaan setempat.


Budaya atau kebiasaan setempat kita akan tetap hadir dalam setiap generasi, jika ada jejak yang tersimpan dalam dunia digital. Tujuan dari jejak karya yang kita tinggalkan itu akan tetap relevan dalam zaman apa pun. 


Dengan begitu, kita membuktikan kepada filsuf Nietzsche dan Martin Heidegger bahwa kita masih memiliki dokumentasi kebiasaan setempat, walau pergantian zaman dan sistem kerjanya.


Ah, banyak berteori juga ngak bagus dan membuang kesempatan yang kita miliki. Mengingat waktu terus berputar. Untuk itu, sebagai aksi nyata saya selaku pendiri tafenpah mengundang siapa saja yang menaruh minat pada bidang kebudayaan untuk ikut menulis dan berbagi di sini.


Tak perlu menulis yang ribet dan membingungkan seputar kebudayaan. Cukup mengulas kebiasaan setempat kita dalam bertindak, bertutur kata, membangun rasa empati, simpati, cara makan, mengarahkan orang lain dan masih banyak kebiasaan setempat yang belum muncul dalam benak pikiran kita.


Hadirmu adalah kebangga bagi saya di rumah tafenpah. Ilmu dan jejak yang ditinggalkan di sini akan tetap terawet, demi konsumsi generasi bangsa tercinta.


Salam tafenpah.





Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Tafenpah Peduli Budaya Nusantara"