Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Setiap Orang Ingin Dimengerti


Setiap orang ingin dimengerti. Foto dari Health.kompas.com



Entah latar belakang keluarga kita dari mana pun, masalah akan selalu ada.


Masalah ada karena ada penyebabnya. Tidak mungkin, ia hadir dengan sendirinya. Mencintai bukan berarti harus memiliki sepenuhnya. Apalagi mengatur kehidupan pasangan untuk mengikuti kemauan kita.


Sebagai manusia yang punya kelemahan, tentu kita pun pasti merasa kesal, jengkel dan tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh pasangan kita. Bahkan lebih parahnya, bila kebebasan kita sepenuhnya dikendali oleh pasangan.


Mau ke sini dan ke situ tidak bisa. Akhirnya kita stagnan atau tetap berdiam diri di tempat. Sementara orang lain sudah lari mendahului kita.


Bila pernah mengalami masalah demikian dengan pasangan, bahkan dengan siapapun, itu menandakan bahwa kita mengalami racun dalam kehidupan bersama. Atau bahasa anak muda disebut “Toxic Relationship.”


Aih gara-raga saja saya nih, sok-sokan pakai bahasa planet “Toxic Relationship.” Ya, saya kan belajar banyak istilah dari anak muda kota metropolitan Jakarta. Biar dianggap update atau mengikuti zaman.


Toxic Relationship

Umumnya setiap pasangan ingin dimengerti antar satu dengan yang lain. Bila salah satu pasangan merasa tak didukung oleh pasangannya, ia akan ngambek, marah, cemberut sepanjang hari. Apalagi kaum hawa yang mood-nya tak bisa diprediksi.


Kondisi ini akan memicu relasi atau hubungan yang tidak sehat antar pasangan, pacar maupun dalam kehidupan sosial. Konflik batin ini akan berdampak pada tiadanya komunikasi.


Apabila keadaan ini didiamkan saja, makin lama makin menjadi racun dalam diri kita. Lebih baik kita mengeluarkan racun yang sudah lama membengkak di dalam diri kita, daripada terus memmeliharanya.


Sebagai rasa simpati, saya merasa sangat kasihan dengan siapa pun yang pernah mengalami toxic relationship dengan pasangan atau pun dalam kehidupan bersama. Rasanya canda tawa dan aktivitas kita, seketika dibatasi oleh keadaan yang tidak kondusif dengan pasangan ataupun sesama.


Lalu bagaimana cara yang tepat untuk keluar dari Toxic Relationship?

Bila kita sakit dan pergi ke Dokter, tentunya si Dokter akan merekomendasikan resep obat apa saja yang akan kita minum. Sama halnya dalam toxic relationship. Di mana kita bisa menyalurkannya dengan sharing, curhat, dan melakukan hal-hal yang sangat menyenangkan. Seperti menonton TV, membaca cerita humor, puisi dll.


Bila kamu adalah seorang penulis, tentunya cara terbaik untuk keluar dari toxic relationship adalah menulis. Selain menulis, kita bisa search atau mencari artikel kesehatan ataupun yang akan membantu kita untuk memperbaiki hubungan dengan sesama kita.



Adapun hal yang jauh lebih penting yakni, berbicara kepada pasangan dan meminta maaf. Terkesan sangat sederhana, tapi itulah solusi yang tepat bagi kita untuk memperbaiki relasi beracun kita dengan sesama.


Bila ingin dimengerti oleh pasangan ataupun orang lain, kita pun diharapkan untuk mengerti dengan orang lain. 


Ditulis oleh Frederikus Suni


Salam Tafenpah


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Setiap Orang Ingin Dimengerti"