Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar Ilmu Filsafat Bukan Jadi Atheis

 

Filsafat berangkat dari rasa penasaran. Pixabay

Ilmu filsafat adalah berangkat dari keresahan, rasa penasaran dalam kehidupan kita. 

Hingga kini banyak orang yang masih takut untuk belajar ilmu filsafat. Gegara anggapan masyarakat yang memandang ilmu filsafat sebagai sesuatu yang mengawang-awang dan prospek kerja setelah kuliah tak pasti.

Saya tekankan ya bahwasannya, memang belajar ilmu filsafat itu kita tak diajarkan untuk bekerja di kantor yang berdasi, sepatu pantopel, pakain yang necis yang dikelilingi oleh interior dan eksterior keindahan.

Melainkan ilmu filsafat sebagai pemicu imajinasi dan kreativitas bagi kita, setelah menyelesaikan dunia perkuliahan. 

Jebolan filsafat umumnya bekerja di belakang layar. Entah di Media Massa yang sudah memiliki reputasi nasional dan internasional, bagian tata perencanaan kota, politisi, novelis dan pegiat literasi di manapun.

Ada juga yang bekerja di bidang pariwisata. Karena ini berkaitan dengan perencanaan dan presentasi yang memainkan argumen dalam menggaet wisatwan. 

Filsafat itu asyik loh.Pixabay


Prospek kerja ilmu filsafat itu umum. Karena selama di masa pendidikan, kita dituntut untuk belajar semua ilmu pengetahuan yang ada di dalam kehidupan masyarakat. Yang tidak diajarkan di dalam dunia filsafat adalah soal hitung menghitung. Jadi bagi kamu yang tidak menyukai bidang hitung menghitung, ilmu filsafat adalah pilihan tepat bagi kamu.


Lebih sadisnya, hingga kini sebagian besar orang masih menaruh stereotip atau penghakiman terhadap jebolan filsafat. Gegara jebolan filsafat dianggap tak ber-Tuhan.

Iman itu menyangkut privasi. Untuk apa dipublikasikan kepada khalayak umum. Toh yang ber-Tuhan saja masih KTP-an atau beragama musiman.

Filsafat terlepas dari Teologi (iman). Karena ranah untuk belajar soal spiritual  akan selalu berbenturan dengan pemikiran filsafat yang rasional-logis, bebas dan tanpa menyembah ilmu apapun.

Filsafat itu menyangkut suara hati. Ke mana hati membawa kita, di situlah kita duduk dan mempertanyakan segala sesuatu. Tujuannya untuk mencari tahu akar permasalahannya.

Berfilsafat bukan berarti tak ber-Tuhan. Melainkan orang yang belajar Filsafat mungkin lebih religius daripada yang suka mengumbar imannya di media masa dan publik.

Di sini juga saya ingin menjawabi beberapa pernyataan dari pembaca yang mengatakan artikel saya terlalu berat. Bagi kamu berat. Tapi bagi mereka yang pernah belajar ilmu filsafat, politisi dan pejabat publik dan jurnalis adalah ringan.

Yang menjadi berat adalah kamu belum pernah belajar filsafat. Teks-teks kuno filsafat lebih berat daripada artikel ini.

Bila anda mengatakan demikian, sama halnya saya akan katakan bahwa artikel kamu di bisang kuliah kamu itu berat. Karena saya belum pernah belajar ilmu yang kamu pelajari di dunia akademik.

Tapi, bagi saya penulis dan jenis gengre tulisan apapun dan dari latar belakang apapun adalah bisa diterima dan masuk akal. Karena saya pernah belajar akar dari semua ilmu pengetahuan yakni ilmu Filsafat. Dari ilmu filsafat, muncullah ilmu-ilmu yang saat ini dipelajari di lingkungan universitas manapun.

Kelebihan dari kita belajar ilmu filsafat adalah kita bisa belajar semua ilmu pengetahuan dari semua fakultas.

Filsuf Sokrates pernah mengatakan bahwa, sebelum menilai, pahami dulu akar permasalahannya. Sebelum berharap, bekerjalah terlebih dahulu. Sebelum menghakimi orang lain. Pelajari dulu ilmu dan karakternya. Agar penilain kita tepat dan benar.


Salam tafenpah




Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Belajar Ilmu Filsafat Bukan Jadi Atheis"