Kami Sonde Tolak Pabrik, Kaka. Kami Cuma Takut Besok Pulang Kampung Tinggal Dapat Cerita

[ Redaksi TAFENPAH ]

Gubernur Sherly Tjoanda bilang begini ke DPR, dan Bapak Beta di Ternate Akhirnya Bisa Tidur Nyenyak

Gubernur Sherly Tjoanda: Malut tak tolak investasi, tapi jangan korbankan laut. Suara nelayan Ternate yang takut pulang kampung cuma dapat cerita. Tafenpah.com



TAFENPAH.com - Dada Beta sesak tiap dengar jata “Investasi”

Beta akui, Kaka. 

Tiap ada berita “Smelter 50 Triliun Masuk Halmahera”, jempol beta otomatis mau komen “Mantap”. Tapi jari beta berhenti di udara.

Karena 2 hari lalu beta telepon Bapak di Ternate. 

“Pa, dapat ikan banyak?” 

Suara Bapak kecil: “Susah, Nak. Air laut su lain. Dulu lempar jaring sekali dapat 1 ember. Sekarang melaut semalam cuma cukup buat makan sendiri.”

Bapak beta nelayan 28 tahun. Laut itu ATM dia. Sekarang ATM-nya kosong.

Sejak itu, kata “investasi” di kepala beta bukan lagi soal lapangan kerja. Tapi soal kuburan. Kuburan laut. Kuburan kampung. Kuburan masa kecil beta.

Beta takut, Kaka. Takut 10 tahun lagi beta pulang bawa anak, terus dia tanya: “Pa, katanya dulu di sini ikan lompat-lompat. Mana ikannya?” 

Beta mau jawab apa? “Sudah jadi asap pabrik, Nak”?

Beta sonde anti kaya. Beta cuma sonde mau kaya sendiri, tapi kampung beta mati.




BANGKIT: 1 Kalimat dari Gubernur yang Bikin Beta Berani Napas Lagi

Kemarin.

Gubernur Sherly Tjoanda berdiri di depan Komisi XII DPR RI. Sonde ada teks. Sonde ada diplomasi.

Dia bilang begini: 

"Kami Maluku Utara tidak menolak investasi! Kami hanya memastikan bahwa pertumbuhan hari ini, tidak mengorbankan masa depan ekologis."

Beta baca itu jam 11 malam di kos. Lampu kos beta mati. Tapi dada beta nyala.

KAMI TIDAK MENOLAK INVESTASI!”

Kalimat pertama itu buat investor. Biar tenang. Silakan masuk.

“TIDAK MENGORBANKAN MASA DEPAN EKOLOGIS.”

Kalimat kedua itu buat Bapak beta. Biar bisa tidur. 

Bu Sherly sonde pilih laut atau pabrik. Dia pilih dua-duanya hidup. Itu namanya pemimpin, Kaka. Bukan tukang jual tanah.

Beta langsung kirim screenshot ke grup WA “Anak Ternate Rantau”. 

Balasan pertama dari La Ode di Morowali: “Akhirnya ada yang ngomong, Kaka. Beta kira torang cuma bisa pasrah.”

Balasan kedua dari Bapak beta: Voice note 7 detik. Isinya suara ombak. Sama 1 kata: “Puji Tuhan”.

BERMAKNA: Jadi Investor di Malut Itu Kayak Mau Kawin Sama Anak Gadis

Beta tanya teman di Dinas. “Maksudnya Bu Sherly apa?”

Dia jawab: “Sederhana, Kaka. Mau masuk Malut? Syaratnya 3.”

1. Kasih Makan Dulu, Baru Minta. 

Rekrut orang lokal 70%. Latih dia. Jangan bawa tukang sapu dari luar. 
2. Jangan Kencing di Sumur. 
Limbah lu, urus lu. Buang ke laut = izin cabut. Sonde ada nego. 
3. Tanam Sebelum Tebang. 
Buka 1 hektar hutan? Wajib tanam 2 hektar mangrove dulu. Biar anak cucu beta masih bisa mancing.

Itu bukan ngusir investor. Itu ngajar investor jadi mantu yang baik.

Kaka taukah sonde? Di kampung beta, kalau lu mau kawin sama anak gadis, lu harus kerja di kebun bapaknya dulu 1 musim. Biar dia tau lu serius. Bukan cuma mau ambil anaknya terus kabur.

Investasi di Malut sekarang begitu. Mau ambil nikel beta? Kerja dulu buat laut beta.

Buat Pak Investor yang Lagi Baca

Beta anak rantau. Beta kirim 1,5 juta tiap bulan ke Ternate. 

Uang itu bukan buat foya-foya. Buat bayar solar Bapak. Buat beli buku ade. Buat pastikan kalau beta mati di Jakarta, keluarga di kampung sonde ikut mati.

Jadi Pak, kalau mau bangun pabrik di tanah beta, tolong ingat muka beta. 

Ingat muka Bapak beta yang tangannya kapalan karena jaring. 

Kami sonde minta saham. Kami cuma minta janji: “20 tahun lagi, anak beta masih bisa lempar jaring di laut yang sama.”

Bu Sherly sudah pasang badan. 

Sekarang giliran lu, Pak Investor. Mau jadi tamu, atau mau jadi keluarga?

Kami di Maluku Utara sonde tutup pintu. Kami cuma kunci lemarinya. Kuncinya di tangan rakyat.

---

BOX FAKTA KAKA:
60% ekonomi Malut dari tambang. Tapi 78% orang Malut makan dari laut & kebun.
 
Kalau laut mati, nikel habis, Malut tinggal nama.


Kaka anak Malut rantau, lu tim mana?
A. “Gas pabrik, yg penting kerja ada”  
B. “Tahan dulu, laut jangan mati”  
Komen di bawah. Beta mau dengar luka lu.



TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Kami Sonde Tolak Pabrik, Kaka. Kami Cuma Takut Besok Pulang Kampung Tinggal Dapat Cerita"