Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kesalahan Penulis Pemula

Sumber gambar dari Pixabay.com

Profesi penulis semakin menjamur di tengah Pandemi. Tapi, tahu enggak, kesalahan dari penulis pemula. So, kamu berada di artikel yang tepat.


Banyak mahasiswa ataupun siapa saja mengira bahwasaanya menulis menggunakan bahasa yang tinggi adalah keren, mantul dan luar biasa. 


Tentu alasannya adalah ingin membuktikan kepada khayalak umum, bahwa inilah pentingnya berpendidikan. Tak ada yang salah, bila kita sekarang berstatus sebagai mahasiswa atau apa pun latar belakang pendidikan kita. 


Dan akan menjadi kesalahan yang fatal bila kita menekuni dunia kepenulisan. Karena menulis di Media Online saat ini, kita tidak perlu menggunakan bahasa yang terlalu formal. Ya, terkesan sangat kaku dan membosankan. So, gunakan bahasa keseharian yang lebih familiar dengan pembaca.


Pembaca yang menilai, bukan kita pengulik aksara. Tugas kita hanya sebatas menstransfer ilmu dengan penjabaran yang sederhana, tapi memiliki nilai dan manfaat bagi pembaca.


Nilai dan manfaat yang ada dalam setiap artikel kita akan membantu orang lain untuk mengenal dirinya. Mengenal diri, berarti mengenali kelemahan dan kekurangannya.


Menulis artikel dengan bahasa yang sederhana akan meninggalkan jejak aksara bagi pembaca. Kita harus membedakan menulis artikel ilmiah dengan artikel receh. Bila kita menulis artikel ilmiah untuk mempublikasikan di jurnal ilmiah, ya kita harus menggunakan bahasa yang formal. Formal dalam koridor renyah dan mudah dimengerti oleh pembaca.


Pexels.com


Belakangan ini saya melihat penulis-penulis pemula yang berani memposting artikelnya. Saya salut dengan mereka. Karena mereka mau belajar untuk menjadi pengulik aksara. Tapi, kelemahan yang saya temukan adalah mereka menggunakan istilah-istilah yang terasa asing bagi saya. Apalagi pembaca yang tidak pernah bersentuhan dengan materi atau ilmu demikian, makin runyam dunia. 

Ya, saya juga pernah berada di posisi demikian. Tapi, seiring dengan latihan terus-menerus, akhirnya saya menemukan gaya kepenulisanku.


Tentu ini berkaitan dengan jam terbang. Semakin banyak pengalaman yang kita dapatkan, akan semakin bermanfaat bagi gaya kepenulisan kita. 


Eiiits, saya bukan sok tahu, tapi pasti dalam hati kamu bertanya, loh ini kan gaya kepenulisanku? Ngapain kamu yang sewot? Okey, itu adalah gaya kepenulisan kamu. Asalkan pembaca mengerti apa yang kamu tulis. Akan jauh lebih baik, tatkala kamu menulis sesuai dengan bahasa keseharian dalam pergaulan.



Sobat saya bukan ahli dalam kepenulisan ya. Melainkan saya hanya berbagi pengalaman selama bergelut di dunia kepenulisan. Saya harap, semakin tinggi ilmu yang kita pelajari, kita pun mampu untuk menyederhanakannya ke dalam tulisan kita. Tujuannya agar pembaca semakin mencintai dunia literasi.


Tentunya literasi itu sangat beragam. Tapi, literasi yang saya maksud adalah literasi membaca dan menulis.


Pixabay.com

Sebagai generasi milenial, tugas dan tanggung jawab kita adalah meningkatkan minat membaca dan menulis dalam kehidupan berbangsa. Jangan berhenti menulis ya. Karena menulis itu adalah bekerja untuk dunia keabadian. Kata Pramoedya Ananta Toer.


Salam Tafenpah


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Posting Komentar untuk "Kesalahan Penulis Pemula"