Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Claret dan Budaya Literasi (Perayaan 151 Tahun Wafat St. Antonius Maria Claret)

St. Antonius Maria Claret

Oleh: Jondry Siki, CMF

Para Misionaris Claretian mempunyai tradisi untuk mengenang Bapa Pendiri, St. Antonius Maria Claret setiap tahun. Bulan Oktober selain dikenal sebagai Bulan Rosario dan Bulan Misi, Para Claretian merayakan bulan tersebut sebagai Bulan Claret sebab pada bulan tersebut Claret dirayakan hari kematiannya.


St. Antonius Maria Claret wafat pada 24 Oktober 1870 dan pada tahun 2021, Para Misionaris Claretian memperingati hari kematiannya yang151 tahun.Ia meninggalkan dunia fana ini setelah pengembaraan yang panjang dari Sallent, Spanyol (1807) hingga Fronfroade, Prancis (1870). Sepanjang rentang waktu itu, Claret telah memberi yang terbaik untuk Gereja dan Kongregasi tercinta; Putera-Putera Hati Tak Bernoda Maria.


Selama masa pengembaraannya di dunia, Claret telah mewariskan banyak nilai kehidupan bagi Gereja dan Kongregasi. Warisan-warisan itu adalah kekayaan spiritual yang tidak pernah lekang oleh ruang dan waktu. Dari sekian banyak warisan Claret yang ditinggalkan bagi Kongregasi, salah satu yang terkenal adalah Budaya.


Literasi

St. Antonius Maria Claret adalah pencinta literasi. Ia sepanjang hidupnya telah menulis banyak buku untuk pertobatan kaum pendosa dan salah satu buku kenangangn akan dirinya sendiri yakni Autobiografinya yang ia tulis sendiri atas ketaatan kepada Pemimpin Tertinggi, P. Yosef Xifer. Menulis adalah sebuah ketaatan.


Ketika P. Jose Xifre, Pemimpin para Misionaris Putera-Putera Hati Maria, secara lisan dan tertulis, meminta supaya saya menulis suatu biografi tentang diriku yang hina ini, saya selalu mencari alasan untuk tidak melakukannya andaikatan saya tidak diperintahkan. Maka saya menulis ini karena ketaatan. Dan demi ketaatan, saya akan menyingkapkan beberapa hal yang saya lebih suka tidak diketahui oleh orang lain. Bagaimanapun, semoga semuanya untuk kemuliaan Allah yang lebih besar dan Maria Tersuci, Ibundaku yang manis dan untuk memalukan orang berdosa ini (Aut No.1).


Kutipan di atas adalah tulisanSt. Antonius Maria Claret dalam Autibiografinya yang tertera pada nomor pertama. Kutipan ini sebagai bentuk penegasan atas judul “Claret dan Budaya Literasi.” Di sini saya mencoba membawa pembaca sekalian untuk menyelami dalamnya intelektualitas Claret sepanjang hidupnya baik dalam tulisannya baik tulisan tentang kisah hidupnya maupun tulisan untuk pertobatan banyak orang. Claret adalah pencinta literasi. Dari seluruh tulisannya sebagaimana yang tercatat dalam Autobiografinya, kita pun berasumsi bahwa Claret adalah pribadi yang sangat mencintai budaya literasi. Dalam mengembangkan semangat literasinya, ia pertama-tama mengakrabkan diri dengan buku. Melalui buku, Claret

tidak hanya mendapatkan wawasan baru tetapi memberinya nilai transformasi baru dalam hidupnya.


Kutu Buku

Saya juga mendapat satu buku kecil yang berjudul El Buen dia y la Buena noche(Siang yang baik dan malam yang baik). Dengan begitu senang saya membacanya dan begitu berguna untuk jiwa saya! Setelah saya membacanya sebentar, saya menutupnya, menempelnya pada dada saya, memandang ke langit dengan air mata berlinang di mata dan berkata: Oh Tuhan, betapa banyak hal baik yang belum saya tahu! Oh Allahku! Oh kasihku! Alangkah baiknya seorang selalu sudah mencintai Engkau! (Aut 41).


Pada autobiografi no. 37, Claret mengungkapkan betapa cintanya kepada buku sehingga setiap buku yang ia peroleh ia sebut sebagai keberuntungan. Dan buku yang ia peroleh adalah Finezaz de Jesus Sacramentado (Kesopanan- kesopanan Yesus dalam Sakramen Mahakudus). Buku ini bukan hanya dibaca tetapi juga dihafal luar kepala oleh sebab kecintaanya pada buku ini. “Saya beruntung mendapat satu buku berjudul Finezaz de Jesus Sacramentado. Betapa saya mencintai buku ini! Saya menghafalnya di luar kepala. Begitu besar kesukaan saya pada buku ini.


Setelah menelaah pengalaman Claret dengan semangat membacanya, kita pun diajak untuk tidak hanya merenungkan apa yang tertulis tentangya dalam semangat membaca tetapi kita pun dipanggil untuk menginternalisasikannya dalam hidup dengan membaca dan terus membaca. Sebab dengan membaca kita bisa mengenal dunia dan perkembangannya.


Buku Adalah Guru

Ketika saya masih kecil saya menemukan di rumah kami sebuah buku berjudul El Roser (Pohon Mawar), yang berisi gambar-gambar dan penjelasan- penjelasan tentang peristiwa-peristiwa Rosario. Saya belajar dari buku itu bagaimana mendoakan rosario dengan peristiwa-peristiwanya (Aut 45).


Buku bagi Claret bukan sekadar untuk mendapat ilmu pengetahuan tetapi sebagai sarana doa. Claret melihat buku sebagai guru yang mampu mengajarkannya tentang cara berdoa yang baik dan benar. Buku bukanlah sebuah kumpulan kertas-kertas dengan tulisan mati melainkan guru yang selalu mengajari manusia untuk berbuat baik.


Dengan membaca buku, si pembaca dapat diubah oleh apa yang ia baca. Demikian halnya dengan buku yang baik dan mengandung nilai kehidupan, maka buku tersebut akan membuat si pembaca menjadi pembawa damai dan sukacita bagi sesamanya.


Claret: Penulis Ulung

Selain membaca, Claret juga gemar menulis. Pada bagian awal tulisan ini, saya mengutip proses awal Claret menulis tentang dirinya sendiri. Namun pada bagian ini, Claret menulis bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk banyak orang.


Oleh sebab itu dengan menulis ia mampu menjangkau banyak orang yang tidak bisa mendengar secara langsung apa yang ia ajarkan. Buku adalah sarana yang ia gunakan untuk berbuah dan berguna bagi banyak orang. Dalam autobiografinya, Claret menggunakan banyak sarana untuk bisa berbua. Dan salah satu sarana yang cukup ampuh adalah buku-buku dan selebaran-selebaran. Seperti yang tertulis dalam autobiografi no. 310-322, di sana Claret mengemukakan betapa pentingnya buku. Maka ia pun menulis banyak buku untuk bisa mencapai apa yang ia cita-citakan sehingga ia pun bisa berbuah.


Menurut Claret, dengan menulis, ia dapat mengajar banyak orang dan melalui percetakan, ia juga mampu untuk melawan kejahatan. Sebab melalui buku- buku dan selebaran-selebaran yang ia tulis ia dapat memengaruhi para pembaca untuk memuji Allah dan menjauhi kejahatan. Bagi Claret tidak semua orang mampu mendengar Sabda Allah namun melalui buku yang baik para pembaca mampu mendengarkan Allah.


Claret juga mengatakan bahwa tidak semua orang pergi ke Gereja untuk mendengar Sabda Allah tetapi dengan buku-buku yang akan pergi ke rumah-rumah maka semua orang di dalam rumah dapat dijamah oleh bacaan yang baik itu.


Pengkotbah tidak mampu berkotbah setiap saat tetapi sebuah buku tidak akan lelah untuk dibacakan dan bahkan ia tidak tersinggung bila si pembaca hanya membaca sedikit.


Claret: Buku Adalah Makanan Jiwa

Claret dalam autobiografinya menjelaskan bahwa membaca adalah bukanlah sesuatu yang berguna bagi dirinya, tetapi lebih daripada itu, membaca adalah sebuah kebutuhan. Ia mengatakan demikian karena ada keinginan besar untuk membaca dan jika orang tidak mempunyai buku-buku yang baik untuk dibaca, maka mereka akan membaca buku-buku yang jelek.


Bagi Claret, buku adalah makanan jiwa dan sama seperti tubuh dikuatkan oleh makanan yang baik dan dirugikan oleh makanan yang beracun demikian juga dengan bacaan dan jiwa. Claret mengatakan bahwa jika orang membaca buku-buku yang baik dan cocok dengan pribadi dan keadaan masing-masing, mereka akan dikuatkan dan sangat berkembang. Tetapi sebaliknya mereka yang gemar membaca buku-buku yang jelek, koran-koran yang bersifat fasik, selebaran-selebaran yang bidaah dan literatur-literatur yang tersesat maka moral si pembaca pun akan tersesat dan menjadi bidaah(bdk Aut 311).


Buku: Media Pewartaan

Claret menginginkan agar semakin orang bisa membaca buku-buku yang baik. Tujuan dari buku bacaan yang baik adalah demi karya pewartaan. Oleh sebab itu Claret tidak jemuh-jemuhnya menulis buku untuk memberi pengajaran iman kepada semua orang agar tidak tersesat. Dalam misi umat, Claret menemukan banyak kebutuhan dan menuntutnya untuk menulis buku kecil.


Claret menulis buku kecil pertama berisi tentang Nasehat atau peringatan rohani yang aslinya ditulis untuk para biarawati di Vich. Oleh sebab isinya baik dan menarik maka Claret diminta untuk mencetak buku tersebut sehingga bisa digunakan oleh semua orang selain biarawan-biarawati. Setelah dicetak, buku tersebut menjadi buku pertama yang ia terbitkan untuk umum.

Setelah buku pertama disambut baik, maka Pater Claret menulis buku yang kedua dengan judul “Nasihat-Nasihat Kepada Para Pemudi”. 


Lalu dilanjutkan dengan Nasihat untuk orang tua dan anak-anak. (Aut 313-314). Buku ini merupakan media pewartaan bagi semua orang yang kekurangan buku-buku yang baik. Melalui buku Claret menjangkau banyak orang dengan tulisannya yang berkualitas. Claret menyadari bahwa ia tidak tahu bagaimana ia telah menulis banyak buku dengan judul yang berbeda. Claret percaya bahwa Allah sendiri yang menulis.


Dalam doanya Claret berseru: “ Allahku Engkaulah yang mengetahui. Saya bicara salah, saya tahu, bukan saya yang menulis; Engkaulah, ya Engkaulah, Allahku. Dan Engkau telah memperalat saya, suatu alat yang hina untuk itu, karena saya tidak memiliki pengetahuan, bakat atau waktu untuk melakukan semua ini. Tetapi tanpa kusadari, Engkau memberikan segalanya kepada saya. Terberkatilah Engkau, ya Allahku! (Aut 324). Claret menulis ini semata-mata demi kemuliaan Allah yang lebih besar, pertobatan para pendosa dan keselamatan jiwa-jiwa. Sebab ia menulis dalam bentuk nasehat bagi seluruh lapisan masyakarat dan yang paling diutamakan adalah anak-anak laki-laki dan perempuan (Aut 325).


Claret: Perpustakaan Berjalan

Menyadari bahwa Allah sungguh berkarya dalam dirinya melalui tulisan- tulisannya, Claret pun berniat mendirikan satu percetakan agar buku-buku yang ia tulis bisa dicetak dan dapat dijual dengan harga semurah mungkin demi pewartaan kabar baik bagi semua orang. Maka berkat perlindungan Maria Tersuci dari Montserrat, rencana Claret ini dibicarakan dengan Romo Caixal dan Romo Palau untuk pendirian percetakan agar semua tulisannya dapat dipublikasikan.


Pada tahun 1848, Claret mendirikan Percetakan Religius di Barcelona setelah mendapat persetuan dari otoritas gerejawi setempat. Claret mencetak tulisan- tulisannya, ada yang sebanyak 38 kali dengan ribuan eksempalar dan ribuan eksemplar buku siap dicetak. Melalui percetakan Religius Claret, kaum religius dan awam dapat memperoleh buku-buku yang baik dan menjualnya dengan harga yang murah. Percetaan ini menyediakan buku-buku dengan harga paling murah dan tidak satu pun percetakan di Spanyol menjual buku-buku dengan harga murah.


Percetakan Religius Claret menerbitkan buku-buku dengan kualitas tinggi tanpa kesalahan. Kertas yang digunakan di Percetakan Religius sama dengan kerta yang digunakan oleh semua percetakan di Spanyol. Namun Claret tidak ingin mencari keuntungan dari percetakaan ini melainkan murni untuk kemuliaan Allah, pertobatan manusia dan keselamatan jiwa-jiwa.


Pada 9 tahun pertama ia mencetak lebih dari 10.000.000  buku dan pamfelt. Semangat literasi St. Antonius Maria Claret ini menjadi sarana pewartaan bagi semua orang yang tidak mendapat buku-buku yang berkualitas. Kecintaannya pada dunia literasi membuatnya selalu berusaha membawa buku saat melakukan misi umat.


Claret melihat bahwa buku-buku yang baik dan selebaran-selebaran selalu menghasilkan efek yang baik. Buku tidak hanya sebagai kotbah tetapi sebagai sarana untuk membantu umat bertekun dalam iman dan maju dalam amal kasih. Ini yang menjadi alasan mengapa Claret memberi banyak buku saat melakukan misi umat di Spanyol (Aut 333).


Claret: Pelindung Pers

St. Antonius Maria Claret adalah seorang penulis ulung, pembaca ulung dan pengkotbah ulung. Tulisan-tulisannya sangat berkualitas tinggi dan disalin ulang- ulang hingga pada akhirnya ia meminta bantuan agar tulisan-tulisannya dicetak. Maka ia pun mendirikan Percetakan Religius. Semasa hidupnya,Claret telah menulis banyak buku dan para pembacanya menjangkau banyak orang mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Claret menggunakan buku untuk mewartakan sabda Allah. Dengan buku, banyak orang boleh bertobat dan memuliakan Allah.


Oleh karena jasa dan keunggulan Claret dalam dunia literasi, maka Ia pun dinobatkan menjadi Santo Pelindung Para Penulis, Media Komunikasi, Percetakan dan Perss. St. Antonius Maria Claret bukan hanya misionaris bagi kalangan Gereja


Katolik tetapi juga ia adalah misionaris bagi seluruh dunia “Jiwaku untuk seluruh dunia” sebab kiprahnya menjangkau semua orang di jagat melalui buku-buku yang ia tulis dan cetak. Ia adalah pelindung surgawi semua sarana percetakan dan para wartawan, para penulis. Bahkan Claret juga adalah pelindung Media Pos Kupang (sebab di dalam ruang kepala redaksi terpampang foto Claret). Dan bagiku, Claret adalah pelindung surgawi para sastrawan dan pencinta literasi. Selamat merayakan Pesta St. Antonius Maria Claret yang ke-151 tahun semoga para Misionaris Claretian menimba spritualitasnya dengan berakar pada karismanya dan berani untuk berbuah keluar. Salam Rooted and Audacious!

Querida Congregacion! Salam Literasi! (Jondry Siki, CMF)




Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Campus Ambassador Internasional at MUN

Posting Komentar untuk "Claret dan Budaya Literasi (Perayaan 151 Tahun Wafat St. Antonius Maria Claret)"