Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lensa Malam kota Metropolitan Jakarta (1)

Lensa malam kota metropolitan Jakarta. Dokumen pribadi


Hai sobat tafenpah di mana pun berada, setelah berhenti menulis di blog saya sekitar satu setengah bulan, malam ini saya memiliki hasrat untuk kembali menganggit artikel seputar “Lensa Malam kota Metropolitan Jakarta.”


Jakarta adalah kota idaman bagi setiap orang. Daya tarik kota Jakarta itu adalah kemudahan dalam mendapatkan rezeki.

Ilustrasi foto; Gotravelly.com


Rezeki dalam KBBI adalah segala sesuatu yang memberikan kepuasan batin bagi setiap orang. 


Selain kemudahan rezeki, apakah masih ada faktor lain yang mendorong seseorang untuk hijrah atau pindah ke kota Jakarta?


Tentu jawaban dari setiap orang, terutama perantau itu pasti berbeda-beda. Akan tetapi, saya akan berusaha untuk menjawab pertanyaan demikian sesuai dengan pengalaman saya.


Bagi saya, Jakarta selain memudahkan saya untuk mencari rezeki, ada faktor-faktor pendukung lain yang saya tidak dapatkan di kampung halamanku yakni; persaingan positif, relasi dengan pejabat, pebisnis, wartawan, pekerja periklanan (Advertising), Penata Artistik, Abri, Polri, Dosen, Pramugari, Penulis, blogger dan Pemilik penerbitan.


Mengapa saya bisa mengenal mereka? Karena antara saya dan mereka memiliki satu frekuensi yakni sama-sama menyumbangkan pikiran bagi perkembangan literasi Indonesia.


Mantan presiden Amerika Serikat, John F Kennedy mengatakan;”jangan tanya apa yang negara berikan kepadamu. Tapi, tanyalah kepada dirimu, apa yang sudah kamu berikan kepada negara.”


Sebagai generasi milenial, saya mulai bertanya-tanya terkait manfaat apa saja yang saya sudah sumbangkan untuk negaraku.


Setelah melalui permenungan atau refleksi yang mendalam, saya menemukan kecintaan pada bidang literasi. Untuk itu, saya memilih untuk bergabung bersama komunitas penulis yang di dalamnya terdiri dari beragam profesi, seperti yang saya sudah sebutkan di atas.


Dan saya merasakan itu sebagai rezeki. Rezeki itu tidak hanya berupa uang. Tapi, ketika kita melakukan sesuatu atau kehadiran kita diterima oleh orang lain, itulah rezeki kita.


Karena kita merasa kehadiran kita menjadi berkat bagi orang lain.


Bagaimana perasaan saya ketika harapan tidak sesuai kenyataan di lapangan? Tentu sebagai manusia, kita tidak pernah luput dari masalah.


Masalah akan selalu hadir dan menyapa kita. Yang kita butuhkan adalah semangat untuk mengalahkan diri sendiri.


Cara untuk mengalahkan diri sendiri adalah mengerem ego dan superego kita. Karena masalah terbesar dari zaman dulu hingga sekarang adalah kita cenderung untuk mengkritiki orang lain. Tapi, ketika orang lain mengkritiki balik, kita tidak terima. Dan itulah ego dan superego kita.


Untuk itu, saya akan membawa kita untuk berkelana menuju salah satu pintu gua di negeri Yunani. Gua itu adalah tempatnya para filsuf berdiskusi dan merefleksikan pengalaman hidup mereka setiap hari.


Di depan pintu itu tertulis dengan sangat jelas bahwasannya,” know yourself atau kenalilah dirimu sendiri.”


Filosofi ini mengajak kita untuk berani masuk dan melihat diri kita sendiri. Akan tetapi, masalah utama yang kita hadapi adalah ketakutan pada diri sendiri.


Ya, kita takut untuk orang lain beri masukan ataupun kritik. Cara berpikir (mindset) ini perlu kita ubah setiap waktu.


Memang, karakter kita sulit untuk diubah oleh siapa pun. Tapi, setidaknya kita berani untuk mengenali dari mana kita berasal? Untuk apa kita dilahirkan? Apa yang kita berikan untuk negara dan sesama maupun semesta?


Dan ketika kita sudah berhasil menghubungkan titik tersebut, niscaya siapa pun tidak akan menghalangi kita untuk terus melangkah.



Sobatku, terima kasih ya karena anda sudah hadir dan menemani saya untuk bercerita bebas di rumah tafenpah.com.


Jika, anda memiliki inspirasi, jangan sungkan untuk hubungi saya. Dan mari kita belajar bersama di rumah Tafenpah.


Salam Tafenpah.


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

2 komentar untuk "Lensa Malam kota Metropolitan Jakarta (1)"

  1. Luar biasa terimakasih telah berbagi dan menginspirasi... Salam literasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat pagi juga kak, terima kasih ya sudah meninggalkan jejak

      Salam literasi

      Hapus