Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemberian Dalam Fenomenologi ( Sebuah Refleksi Filosofis)

Pemberian dalam fenomenologi.Poems.co.id


Suatu ciri kas zaman ini yang sangat menonjol adalah individualisme yang sangat kuat melekat pada kehidupan manusia, yang menyatakan bahwa manusia harus otonom dan bebas dari segala macam pengaruh dan ketergantungan dari yang lain, bahwa dengan usahanya sendiri manusia harus menjadi manusia yang sungguh-sungguh. 


Harus diakui bahwa manusia pada umumnya seringkali sulit memberi. Manusia selalu saja rela mengambil tetapi tidak selalu rela memberi. Aku memberi apa yang aku anggap sebagai kepunyaanku. Dengan memberi sesuatu, aku menegaskan hakku atas obyek itu, aku meneguhkan diriku sendiri, aku tampak sebagai seorang tuan atas sesuatu. 


Dan menyatakan dengan tulus ikhlas bahwa segala yang aku ada dan miliki adalah pemberian, yang mengakui  bahwa dalam diriku, aku tidak ada apa-apa, nihil, nol. Seakan aku meniadakan diriku sendiri. Dan itulah yang sulit bagi manusia.


Pemberian Bertolak dari Filsafat St. Thomas


Menurut St. Thomas inti terdalam realitas ciptaan adalah esse, sein, ada yang didefinisikan sebagai aliquid simpleks et completum sed non subsistens. Oleh karena esse adalah unsur yang paling dasariah pada segala barang ciptaan, maka kedua sifat itu ditemukan pada segala barang ciptaan. Lagi  pula dalam pandangan St. Thomas esse bersumber pada Tuhan dan dinamakannya “imago divinae bonitatis”, ungkapan kabaikan Tuhan atau kasih Tuhan. Dengan kata lain esse adalah pemberian yang pertama dari Tuhan. Oleh karena esse adalah sumber dan dasar dari segala barang ciptaan, maka dia juga mengandung segala pemberian, yang lain. 


Dengan demikian, segala barang ciptaan dipandang dari aspek asalnya berciri pemberian. Dan ciri itu tampak secara istimewa pada manusia dan dalam kegiatannya.  Oleh karena itu, dikatakan bahwa inti hidup manusia adalah “give and take”. Namun dengan lebih tepat boleh dikatakan bahwa hidup manusia adalah take and give, karena secara empiris sudah terungkap bahwa sebelum manusia mampu memberi sesuatu, dia harus menerima dahulu.


Pemberian  menurut  Pemikiran Jacques Derrida dan Jean-Luc Marion


Pada masa sekarang kemungkinan adanya pemberian yang murni, yakni pemberian yang benar-benar gratis tanpa menuntut imbalan, banyak dibicarakan dan dipersoalkan, khususnya oleh dua orang filsuf Prancis yakni Jacques Derrida dan Jean-Luc Maion. Kita berusaha mengungkapkan pikiran mereka mengenai hal pemberian dengan seringkas mungkin. Kedua filsuf ini adalah pengikut fenomenologi  E. Husserl dan filsafat  M. Heidegger. 


Keduanya menolak metafisika dan membentuk suatu fenomenologi mengenai pemberian. Menurut J. Derrida penyerahan diri secara gratis, yakni tanpa pamrih atau harapan untuk menerima ganjaran atau balas jasa adalah perbuatan moral yang tertinggi. Namun timbul pertanyaan; apakah perbuatan semacam itu mungkin?


Menurut J. Derrida pengetahuan manusia selalu relatif dan ungkapan pikiran selalu ambigu. Oleh karena itu atas pertanyaan apakah sebuah pemberian yang benar-benar murni itu memungkinkan, dia memberi dua jawaban. Pertama, pemberian yang benar-benar gratis mungkin hanya dari pihak Tuhan. Akan tetapi, kelihatannya Tuhan tidak ada. 


Oleh karena itu, suatu pemberian yang sungguh-sungguh gratis kelihatannya tidak mungkin. Kedua, pemberian semacam itu mungkin, kalau sesuai dengan filsafat Hegel, manusia dapat dipersamakan dengan Tuhan dalam suatu panteisme. Harus ditambah lagi bahwa si penerima bisa menerima suatu pemberian sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh gratis, perlu supaya pemberi itu tinggal tersembunyi, tak kelihatan, sehingga si penerima pemberian itu tidak merasa wajib membalas dengan suatu pemberian. 


Namun menurut  J. Derrida segala tulisan harus di dekonstruksi. Jadi tulisan-tulisan J. Derrida mengenai pemberian juga harus didekonstruksi. Oleh karena itu yang tinggal adalah suau kekosongan atau permainan kata-kata saja. 


Filsafat  Jean-Luc Marion adalah suatu fenomenologi yang cenderung radikal sejauh mungkin. Fenomenologi semacam itu tidakmampu membuktikan adanya Tuhan. Oleh karena itu, pertanyaan apakah pemberian yang sesungguhnya merupakan pemberian, yakni yang gratis mungkin ada, tidak dapat dijawab secara rasional. Dengan demikian menjadi nyata bahwa soal pemberian yang murni, tidak dapat dijawabi oleh fenomenologi sendiri. 


Sebagai simpulan. Dalam terang pengalaman eksistensial, yang dapat dibenarkan secara empiris ternyata bahwa segala yang ada pada manusia dan yang dimilikinya adalah pemberian dari Sang peng-ada segala sesuatu (Tuhan), namun yang dengan seharusnya diberikan melalui yang lain. Juga kebebasan adalah pemberian Tuhan, namun yang diberikan melalui yang lain. 


Manusia menjadi manusia melalui manusia yang lain. Yang lain itu bukan pencipta. Manusia tidak “menyiptakan” dirinya sendiri (K. Marx) dan tidak diciptakan oleh manusia yang lain. Tetapi manusia yang lain itu adalah pengantara yang dengan seharusnya dibutuhkan supaya manusia menjadi benar-benar dirinya sendiri.


Penulis: Perboyre Bana
Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana - Malang


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News

1 komentar untuk "Pemberian Dalam Fenomenologi ( Sebuah Refleksi Filosofis)"

  1. Manusia menjadi manusia melalui manusia yang lain>>> setuju, Mas. Mana ada manusia hidup dan berkembang sendiri. Selamat malming.

    BalasHapus