Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ma Baet Ok Au Aok Bia'kin Sebagai Refleksi Atoin Meto (Orang Dawan) Dalam Memaknai Pancasila

Refleksi berbagi dengan sesama di Hari Pancasila. Dokpri


Mendikbud Ristek Nadiem Makarim mengatakan; “Pancasila bukan hanya dihafalkan. Melainkan dihayati dan diamalkan dalam kehidupan bersama orang lain untuk menciptakan manusia Indonesia yang berintegritas, bermoral, dan spiritual.”


Sebagai Atoin Kuan tentu kita punya tradisi dalam keseharian kita. Salah satu filosofi kita adalah mabaet ok au aok bia’kin (berbagi dengan sesama).


Mabaet ok au aok bia’kin adalah frasa dari bahasa Dawan. Dawan adalah salah satu etnis yang menghuni pulau Timor bagian Barat, sebagian di Selatan hingga kota Kupan, NTT.


Secara etimologi atau akar kata mabaet berarti;berbagi, ok adalah konjungsi/kata sambung, au; saya, bia’kin:sesama. Jadi, secarah garis besar, mabaet ok au aok bia’kin adalah berbagi dengan sesama.


Apa yang kita bagikan?

Apa pun bisa kita bagikan dalam kehidupan bersama dengan orang lain. Mengingat kita adalah makhluk sosial yang tidak pernah lepas dari keberadaan sesama.


Sebagai atoin meto (orang dawan) kita bisa berbagi puah nok manus (sirih dan pinang), bako (sigaretek), vitcin, masi (garam, pemanis makanan) dan apa pun yang diminta oleh sesama.


Pancasila

Nilai-nilai luhur dari Pancasila itu sendiri mengandung semangat berbagi, berempati, peduli, simpati dalam menciptakan kehidupan yang aman dan damai.


Hari ini kita peringatin sebagai Hari Kelahiran Pancasila. Sejak tanggal 1 Juni 1945, Bung Karno dan para pendiri negara kita sudah menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bangsa kita.


Atoin meto (orang Dawan) lofa ka nap nikan fa in aok biakin (tidak pernah melupakan sesamanya dalam kondisi apa pun.


Jiwa sosial atoin meto itu tinggi. Ia rela menderita untuk sesamanya. Di sini memang terasa kental dengan ajaran dari Kristiani tentang nilai-nilai cinta kasih.


Kolaborasi dari nilai Kristiani dan Pancasila menyatu dalam nadi setiap orang Timor. Ke mana pun orang Timor (atoin meto) melangkah, mereka tidak pernah melupakan jejak pertama mereka.


Mengapa hal itu bisa terjadi?

Karena sejak nenek moyang orang Timor hadir dan menyapa bumi, di situlah langkah pertama mereka untuk bekerjasama. Kerjasama dalam segala hal, demi menciptakan kenyamanan bersama.


Dalam kerjasama tentu ada kekurangan dari setiap orang. Namun, semangat untuk berbagi bisa mengatasi segala keterbatasan. 


Refleksi Pancasila

Kelima sila Pancasila itu berisikan nilai-nilai universal tentang kehidupan. Di mana ada kehidupan di situ ada aturan dan norma yang ditaati. Serupa di mana ada orang Timor, di situlah ada kebiasaan-kebiasaan setempat dilestarikan.


Mabaet ok au aok bia’kin adalah pintu menuju pemahaman yang mendalam tentang makna Pancasila. Untuk memahami Pancasila, tentu kita tidak hanya mengucapkannya saja. Melainkan dilandasi dengan aksi nyata.


Sebagaimana yang dikatakan oleh Nadiem Makarim, Mendikbud Ristek bahwasan Pancasila tidka hanya dijadikan sebagai benteng untuk menutupi diri dari kehidupan sosial. Melainkan Pancasila itu dihayati untuk menciptakan manusia Indonesia yang berintegritas, bermoral dan spiritual.


Spitual Pancasila itu terkandung dalam sila pertama; Ke-tuhanan Yang Maha Esa. Atoin meto (orang Dawan) menyebut Tuhan dengan sebutan Uis Neno.


Usi Neno itu hadir dalam diri sesama kita yang berkekurangan. Nah, untuk melatih jiwa spiritual kita, tentu kita tidak hanya berdoa, melainkan melakukan aksi nyata dengan mabaet ok au aok bia’kin (berbagi dengan sesama).


Kekayaan filosofi Atoin Meto (orang Dawan) patut dilestarikan oleh setiap generasi.  Dengan ikut mengambil bagian dalam semangat berbagi, kita sudah mengamalkan Pancasila itu sendiri.


Mabaet ok au aok bia’kin (berbagi dengan sesama) adalah refleksi atoin meto (orang Dawan) dalam merayakan hari lahirnya Pancasila tahun 2021.



Semangat berbagi akan selalu hidup dan menyejarah bersama atoi meto ( orang Dawan) di manapun.


Salam Bhineka Tunggal Ika






Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Ma Baet Ok Au Aok Bia'kin Sebagai Refleksi Atoin Meto (Orang Dawan) Dalam Memaknai Pancasila"