Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pada Masanya Hengki dan Handri Nule di Ainuat Faotbijael

Hengki dan Handri Nule bermain ban oto di ainuat faotbijael. Foto oleh Agus Ardhy


Permainan melegenda ban oto selalu tersimpan rapi dan indah di arsip jantung Hengki dan Handri Nule.


Kala itu di ainuat (Turunan) Faotbijael, Hengki dan Handri berambisi untuk menciptakan sejarah perlombaan ban oto kampung Haumeni.


Sepulang sekolah, mereka berdua langsung tancap gas meninggalkan Faotbijael. Faotbijael adalah salah satu batu yang berukuran besar di kampung Haumeni. 


Faotbijael berasal dari bahasa dawan yang terdiri dari dua kata yakni; Fatu yang berubah menjadi faot, dan bijael yang berarti; Sapi.


Secara garis besar bisa diterjemahkan dengan penyebutan batu yang berbentuk seperti seekor sapi.


Dan batu ini adalah salah satu tempat nongkrong anak muda desa Haumeni. Penjaga batu itu adalah Hengki dan Handri Nule.


Pada masanya mereka berdua masih bocah ingusan yang menamakan diri sebagai geng Faotbijael.


Dikala senja menyapa kampung Haumeni, anak-anak muda mulai duduk di atas batu itu dan memalingkan pandangan mereka menuju negeri Timor Leste dari atas ketinggian. Sesekali menikmati buah kersen yang selalu menemani Faotbijael.


Ban Oto

Handri dan Hengki adalah kandidat terkuat kampung Haumeni untuk bertanding dengan komplotan abitan nun abtai. Kelompok nun abtai di pimpin oleh Riki Mamo.


Riki Mamo kala itu masih menjadi kepala komplotan ban oto ujung kampung. Dari atas ketinggian, Handri dan Hengki melepas ban oto menuju daerah kekuasaan Riki Mamo.


Anak-anak muda Haumeni berlarian, sembari meluapkan kegembiraannya. Terkadang euforia itu dihentikan oleh orang dewasa kampung Haumeni. Gegara ban oto yang diluncurkan oleh Handri dan Hengki merusak jemuran jagung, padi dan pakaian milik masyarakat yang bersileweran di atas tanaman baluntas.


Pada masanya, anak-anak muda Haumeni disatukan dalam permainan yang sangat melegenda ini. Paulus Lake sebagai pemimpin sayap kanan (abitan lal op e bian) kampung Haumeni juga bertarung dengan Egi Lake sebagai ketua sayap kiri.


Perjanjian Lisan

Jika ban oto milik komplotan Hengki dan Handri masuk daerah kekuasaaan Riki mamo, otomatis ban oto tersebut akan menjadi milik Riki.


Tidak ada perjanjian dan kompensasi (ganti rugi) apa pun. Sebagai pembalasan, komplotan Handri dan Hengki menutup akses jalan menuju Besbonek.

Aih makin runyam dikala itu masih ada zaman kekuasaan antar geng di kampung Haumeni.


Perubahan Hakiki

Euforia anak muda Haumeni meninggalkan jejak nostalgia pada zamannya. Akan tetapi, sekarang ketika kita sebagai perantau pulkam (pulang kampung), permainan sejenis ini sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada tidak semeriah zaman Hengki dan Handri Nule.


Justru yang kita temukan adalah permainan mobile legend, hey tayo, biliar dalam bentuk aplikasi dan lain-lain.


Beberapa hari yang lalu, Handri dan Hengki Nule mengkonfirmasi saya untuk mengulangi kisah permainan ban oto. Karena kisah dan memori itu sangat melegenda dari zaman nenek moyang hingga era milenial.


Faotbijael dan kisah ban oto adalah bagian dari secuil permainan tradisional milik masyarakat Haumeni yang sudah mulai hilang diterpa badai teknologi.


Terakhir, apa pun jenis permainan tradisional kita akan semakin hilang dari bumi nusantara. Jika, kita tidak berusaha untuk melestarikannya.


Dengan cara apa?

Ujung tombak dari kelestarian permainan tradisional ini berada di tangan pemerintahan desa. Momentum untuk kembali mengorek dan melestarikan permainan tradisional ini adalah saat perayaan acara ulang tahun desa, Gereja, HUT RI yang sudah mendekat.


Sekiranya, momentum itu dijadikan sebagai ajang untuk melestarikan kembali permainan tradisional masyarakat Haumeni sebagai bagian dari budaya yang sudah mulai hilang.


Orang sukses apa pun tidak akan pernah melupakan sejarah permainan tradisionalnya. Karena dari permainan tradisional itu, kita tahu arti persahabatan, kerjasama dan perjuangan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.


Salam tafenpah








Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Pada Masanya Hengki dan Handri Nule di Ainuat Faotbijael"