Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kecantol Perempuan Sumba Timur, Tapi Takut Belis? Begini Prosedurnya!

Kecantol perempuan Sumba Timur, tapi takut belis? ilustrasi foto oleh Santi


Menikah adalah pilihan bebas bagi setiap orang. Kebebasan untuk memilih pasangan hidup, terkadang terbentur dengan belis dari keluarga perempuan.  Khususnya belis perempuan Sumba Timur.

 

Pulau Sumba adalah serpihan surga yang jatuh di bagian Nusa Tenggara Timur. Selain menyimpan panorama alam yang indah dan asri, pulau Sumba juga melahirkan paras rupawan nan cantik yang melemahkan mata dan hati bagi kaum Adam.


Berbicara mengenai belis, tentu setiap budaya memiliki perbedaan. Untuk itu, di episode ini, kita akan kembali mengulik belis perempuan Sumba bersama rekan saya Susanti Remi Kati.


Selanjutnya, saya akan menyebut Santi. Santi adalah perempuan asal Sumba Timur. Beberapa hari yang lalu, saya berusaha untuk mencari tahu belis perempuan Sumba Timur dari Santi.


Santi bersedia untuk dijadikan sebagai narasumber dadakan dari saya. Berikut adalah cuplikan hasil obrolan kita seputar “Potretan Belis Perempuan Sumba Timur.”


Apakah belis perempuan Sumba Timur itu mahal berdasarkan fakta atau mitos di dalam masyarakat?


Seiring dengan perkembangan IPTEK dewasa ini, apa yang terjadi saat ini dibelahan bumi manapun dengan seketika diketahui oleh kita.


Belis Perempuan Sumba Timur itu benar mahal. Apa yang kita dengar, baca dan saksikan di portal media online, surat kabar manapun seputar potretan belis perempuan Sumba Timur itu adalah bagian dari kebudayaan nenek moyang Sumba Timur. Terang Susanti Remi Kati.

Susanti Remi Kati


Tradisi kebudayaan belis perempuan Sumba Timur sudah ada dan dipraktekan di tanah Sumba.  Budaya Sumba seputar belis memang selama ini menjadi sorotan yang tajam dari media apapun. Bukan hanya Sumba, umumnya, perempuan yang berasal dari bagian Timur Indonesia dikenal dengan mahar yang sangat mahal.


Siapa saja yang berhak untuk menentukan belis perempuan Sumba Timur, jika lelaki ingin meminangnya?


Yang pertama adalah orangtua kandung sendiri. Setelah keluarga inti memutuskan mahar sang anak, mereka akan belajar dari sejarah yang terdapat dalam pohon keluarga.


Faktor kelurga besar dari perempuan juga ikut mempengaruhi besar dan kecilnya belis perempuan Sumba Timur.


Kapan penyerahan belis dari pihak lelaki kepada perempuan Sumba Timur?


Segala sesuatu itu sudah ditentukan oleh waktu. Waktu terbaik dari pihak lelaki untuk menyerahkan belis kepada pihak perempuan adalah acara adat-istiadat.


Di mana kelurga besar dari kedua belah pihak akan dipertemukan untuk menyelesaikan mahar dari perempuan. 


Pertemuan ini akan mengupas sejarah belis dari orangtua perempuan dari zaman nenek moyang hingga ibu kandung dari pihak perempuan Sumba Timur. Melalui pertemuan ini, muncullah solusi dari kedua belah pihak untuk menyelesaikan mahar dari perempuan. Bisa juga menyicil. Ini sih tergantung dari pihak keluarga perempuan.


Jika pihak perempuan tidak mengizinkan penyerahan belis dengan sistem cicil, maka otomatis pihak lelaki tidak punya pilihan lain. Seandainya lelaki tak mampu untuk menyelesaikan mahar perempuan pada saat itu juga, berarti pihak lelaki tidak akan membawa perempuan keluar dari rumah orangtuanya.


Bagaimana perasaan anak, ketika melihat maharnya mahal?


Tentu sebagai manusia kita tidak mungkin melawan adat-istiadat kita. Separuh hidup kita dihabiskan untuk risau tentang banyak hal.


Di balik mahalnya belis perempuan Sumba Timur ada rasa kecemasan bagi setiap orang. Belis mahal memicu peningkatan perawan tua saat ini di pulau Sumba.


Sepintas kita melihat luka dan derita bila setiap hari ada saja candaan atau anekdot dari kebudayaan lain tentang mahalnya belis perempuan yang berasal dari NTT.


Sadar ada tidak sadar, kebudayaan kita itu secara tak langsung menciptakan range atau jarak pemisah bagi anaknya untuk memilih jodohnya secara bebas dan bertanggung jawab.


Hal ini tidak menampik bahwasannya saya sebagai orang Timur semacam membangun asumsi untuk menolak mahalnya belis bagi saudari-saidari ku dari bumi NTT.  Melainkan tujuan saya adalah ikut merasakan empati dan simpati bagi tekanan yang diberikan kepada perempuan asal NTT.


Mereka sangat terluka dengan kebudayaan kita. Sebagai generasi milenial, tentu kita tidka ingin terus hidup dalam bayang-bayang mahalnya belis dari kebudayaan kita.


Bayangkan belis mahal, tetapi anak gadis kita disiksa oleh pihak lelaki di tanah orang? Di mana letak nurani kita?


Harapan saya, semakin banyak generasi milenial yang pola pikirnya dinamis dan fleksibel akan masa depan yang lebih baik, kita pun harus memiliki sikap yang tegas untuk menentukan pilihan hidup kita. Entah mau jomblo atau menikah tapi dengan kadar belis yang tidak mencekik leher pun itu adalah bagian dari upaya kita untuk semakin menyetarakan kebudayaan kita.


Sekali lagi saya bukan menolak budaya ketimuran kita! Melainkan saya melihat belis perempuan Sumba Timur dan NTT dari sudut pandang kemanusiaan.


Memang dulu nenek moyang kita kelimpahan hewan peliharaan seperti kuda, kerbau dll. Akan tetapi, sekarang kita sudah memasuki fase krisis hewan peliharaan yang melimpah. Karena ketiadaan lahan yang cukup untuk memelihara hewan ternak dalam jumlah yang banyak. Kalau pun ada itu tidak seberapa dengan milik nenek moyang kita zaman dulu.


Masa depan akan menjadi indah, bila pernikahan di dasarkan pada kerelaan untuk saling melengkapi. Bukan sebaliknya mencekik dengan mahar yang mahal. Namun dijadikan sebagai pelampiasan kemarahan bagi pihak lelaki dalam kondisi apapun.

 

Saya rasa cukup ya sobat tafenpah. Terima kasih untuk anda yang selalu menyempatkan diri untuk membaca artikel di dalam blog saya.


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Kecantol Perempuan Sumba Timur, Tapi Takut Belis? Begini Prosedurnya!"