Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hati-hati Memotret Orang Lain!

 

Hati-hati memotret orang lain! Hasil olahan sendiri dari Canva.


Kita cenderung untuk memotret orang lain. Sementara kita lupa untuk memotret diri sendiri. 


Potretan dari sudut yang indah sekaligus meninggalkan serpihan rasa yang berakibat pada keretakan persahabatan. Alamak. Capai-capai kita memotret orang lain, sampai diri kita lupa juga untuk dipotret.


Kita merasa diri kita sudah sempurna. Akibatnya kita tak perlu mengambil kamera untuk memotret diri kita sendiri.


Kita terlalu naif untuk mengulik kelemahan orang lain, ketimbang mengintrospeksi atau mengoreksi diri sendiri.


Katakan John dan Merry adalah sahabat sejati. Keduanya sudah menjadi satu paket yang komplit. Ke mana si John pergi, pasti ada Merry di situ.


Suatu hari, John tak sadarkan diri di bawah pohon tomat. Gegara kebanyakan makan sambel tomat nan pedas di senja hari itu.


Merry sebagai sahabat seharusnya membantu John. Prediksi teman-temannya salah besar. Karena Merry justru melakukan sesuatu yang mengundang tanya bagi teman-temanya.


Merry mengeluarkan kameranya. Lalu, ia mengarahkan lensa ke arah John yang tak sadarkan diri itu. Seketika bunyi jepretan berkejaran di memori kameranya.


Beberapa jam kemudian, akun Merry dibanjiri oleh rekan dunia mayapadanya. Karena postingan Merry terlihat unik dan menarik dari sudut teman-teman mayapadanya.


Namun, Merry lupa bahwasannya John adalah sahabatnya. Merry pun terus memotret John di hari-hari mendatang dalam kondisi apa pun. Hingga John merasa riskan dengan potretan Merry.


John menemui Merry di salah satu pojok kedai kopi pagi itu. Mereka dua terlibat adu argumentasi seputar foto John yang telah diambil oleh Merry tanpa sepengetahuan John di bawah pohon tomat itu.


Yang menjadi pertanyaannya adalah mengapa Merry harus memuat caption tentang kelemahan John? Mengingat dunia mayapada adalah dunia tipu-tipu dan dihuni oleh akun anonim (tak dikenal) yang sewaktu-waktu akan memanfaatkan situasi untuk menyerang John.


Merry pun terus meladeni John. Keduanya bak politikus yang memperdebatkan eksistensi mereka di ruang publik.


John pun mengalah, demi sahabatnya itu. Akan tetapi, semakin John mengalah, tingkah laku Merry semakin menjadi-jadi dan liar. Seliar ular piton saat menerkam mangsanya.


Kira-kira apa yang terjadi dengan kehidupan Merry pasca kejadian itu?

Merry semakin dijauhin oleh John. Karena John sudah tidak sanggup untuk berhadapan dengan kesombongan Merry. Merry menganggap dirinya sangat sempurna. Ia terus mengumbar kelemahan John dengan potretan kameranya. Padahal dirinya juga punya kelemahan.


Ya, beginilah keadaan hidup kita. Di mana kita cenderung untuk memotret atau memandang kelemahan sahabat, rekan maupun orang lain, ketimbang diri kita sendiri.


Kita merasa bahwa diri kitalah yang sempurna. Sementara orang lain selalu kurang dalam hal apa pun. 

Untuk itu, membangkitkan sikap empati dan simpati adalah salah satu jalan yang tepat untuk terus menajamkan logika kita tentang nilai-nilai kemanusiaan. Kita semua punya kelemahan. Untuk apa kita selalu mengumbar kelemahan orang lain di media sosial maupun kepada tetangga.


Jika kita tidak bisa menerima masukan dari orang lain. Maka jangan bermain api. Karena mulutmu adalah harimaumu.


Terima kasih untuk kamu yang masih mengikuti situs online ini. Salam tafenpah. Membangun literasi pinggiran


Frederikus Suni

Admin dan pendiri www.Tafenpah.com





Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Hati-hati Memotret Orang Lain!"