Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Andai Tuhan Juga Online


Ilustrasi gambar dari KalderaNews.com

Waktu itu kira-kira pukul setengah tiga sore. Pintu kamarku di ketuk dari luar sembari membangunkanku dari tidur siang yang baru saja kumulai. 

“Entah siapa lagilah orang ini, gangguin orang tidur aja” gumamku dalam hati lalu bangun dari tempat tidur. Menatapku yang tengah mengantuk, sahabatku yang berdiri di pintu tertawa terpingkal-pingkal, merasa sukses telah mengerjaiku untuk siang ini. 

Namanya juga sahabat, justru karena saling bercanda dan bertingkah konyol begini, hubungan persahabatan itu semakin akrab. Masing-masing saling mengerti dan melengkapi. 

  “Besok kita masuk kampus ya bro?” 
  “hm” jawab sahabatku yang tengah asyik dengan handphonenya.  

 Dari jawababannya yang singkat, kutahu ada yang tidak beres darinya. Mungkin dia datang untuk mau menceritakannya padaku. Dugaan awalku, dia pasti sedang bertengkar dengan pacarnya dan pacarnya tidak mengangkat atau membalas pesan sahabatku ini. Kasihan nasibnya memang, mending diriku yang ngak mikirin apa-apa tentang cinta-cintaan, masih setia pada kata jomblo. 

  “Kenapa bro, ada yang mau diomongin ya?” 
 “itulah, saya bingung mau gimana lagi? Gumamnya sembari melirik centrang biru di layar WhatsAppnya, tertulis di sana “my sweatheart”. 

 “Ada masalah apa rupanya, kalian ini pacaran sudah tiga tahun tapi masih kekanakkanakan,”  
 “biasalah bro, saling bertahan pada pendapat masing-masing, kucoba mengalah ya tetap salah, kucoba jelasin yang sebenarnya malah di suruh diam. 

 Kalau model begini sih ngak terlalu parah banget, pikirku. Mungkin nanti malam emosi keduanya reda, pasti komunikasinya lancar lagi,, sebelum kata kunci itu keluar “KITA PUTUS” semuanya pasti akan baik-baik saja. 

  “Bro, andai Tuhan juga online”, lirihnya sembari menatapku 
 “apa?” 
“online? Akupun tertawa sekeras-kerasnya, “anak satu ini memang sudah keterlaluan” gerutuku dalam hati. 

“Bro, Tuhan sedang online kok”, kataku padanya. “Tuhan itu online 24 jam, dan Tuhan ngak perlu pake Kuota, cukup pake hati dan niat yang tulus untuk mau bicara dengan Tuhan. Ceritakan padanya semua yang kau alami, Tuhan lebih tahu apa yang terbaik bagi kita. 

Tapi ingat, jangan biarkan Tuhan hanya jadi pendengar saja, berikan juga waktu kepada Tuhan untuk berbicara kepada kita. Besok kita ikut misa pertama ya, sekalian ajak dia, siapa tahu hubungan kalian makin lancar. 

  “Amin” katanya sembari pamit pulang. 
  “Mau ke mana buru-buru” kucoba tuk hentikan langkahnya 
 “Bro, nasehat itu bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk dilaksanakan” katanya padaku penuh wibawa. 
  “lalu” tanyaku yang makin bingung 
  “aku mau ke gereja dulu, mau berdoa kepada Tuhan, siapa tahu dia sedang online 
  “hahahahahaha” aku tertawa melihat sahabatku pergi penuh dengan pengharapan. 
   
 
 
Penulis Tafenpah: Ignas Harefa
Mahasiswa asal Nias



Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Posting Komentar untuk "Andai Tuhan Juga Online"