Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Krisis Identitas di Usia 25 tahun

Krisis identitas di usia 25 tahun. Lifestye-Okezone.com


Usia 25 tahun dikenal sebagai fase tersulit dalam kehidupan seseorang. Di mana setiap orang akan mempertanyakan tujuan hidupnya.


Usia 25 tahun adalah saat yang rawan bagi kesehatan mental. Karena setiap orang berjuang untuk mencari kehidupan yang lebih baik. 


Seorang mahasiswa yang telah menamatkan kuliahnya akan dihadapkan pada dunia kerja. Ada yang mengalami shock di lingkungan kerja. Gegara pekerjaan yang didapatkan tidak sesuai dengan jurusan kuliahnya.


Selain krisis identitas, freshgraduate atau wisudawan terbaru akan dihadapkan pada tanggung jawab untuk membahagiakan keluarganya. Apalagi ia adalah anak sulung. Tentu tugasnya lebih berat daripada sebelumnya di dunia perkuliahan.


Karir

Usia 25 tahun sesuai dengan pemberitaan media, ada yang sudah mengumpulkan puluhan bahkan ratusan juta. Punya mobil dan rumah serta sudah bepergian ke luar negeri.


Kesuksesan seseorang dijadikan sebagai patokan bagi seseorang. Akan tetapi, kenyataan selalu bertolak belakang dengan pemberitaan media tersebut.


Karena untuk meraih kesuksesan, tentunya butuh proses dan perjuangan yang berdarah-darah. Bahkan orang-orang yang sukses itu sudah merelakan dunia percintaan mereka, demi mengejar karir yang mapan.


Percintaan Tidak Penting


Usia 25 tahun bukanlah masa remaja yang mengalami masa pubertas. Orang akan cenderung memikirkan masa depan karir dan kebahagiaan orangtua dan keluarga, ketimbang mengejar cinta. Kecuali yang bucin.


Tentu ini tidak berarti bahwasannya cinta itu tidak penting. Tapi yang lebih penting dan menantang adalah masa depan.


Orang akan mengalami peningkatan stres di usia ini. Karena impian selalu bertolak belakang dengan realita.


Realita itu terlalu kejam di usia 25. Memang harus diakui bahwa sebagian besar ketika menginjak usia 25 sudah memiliki karir yang matang, finansial yang cukup dan kadar kebahagiaan pun ikut bertambah.


Peluang seseorang sukses di usia 25 tahun 1:10. Di mana di setiap lingkungan, kesuksesan seseorang bisa dihitung dengan jari.


Mirisnya semakin kita mengejar kesuksesan, rasanya kesuksesan itu semakin menjauh. Justru yang kita dapatkan adalah penyesalan, kesedihan dan sial yang bertubi-tubi.


Kira-kira faktor kesuksesan seseorang itu apa?

Saya rasa faktor terpenting adalah keluarga. Jika seseorang yang berasal dari lingkungan keluarga yang sudha mapan sejak lahir, tentu peluang kesuksesannya lebih besar dari seseorang yang berasal dari keluarga yang pas-pasan.


Mengapa hal itu bisa terjadi?

Karena seorang anak yang berasal dari keluarga mapan, ia bekerja untuk dirinya dan masa depan keluarganya. Ketimbang kita yang berasal dari keluarga yang pas-pasan bekerja untuk diri sendiri dan tanggung jawab untuk keluarga. 


Kehidupan adalah sebuah seni. Tergantung kita memainkan seni yang mana. Kan tetapi, berangkat dari keluarga yang pas-pas, kita tahu arti dan perjuangan merintis karir dari bawah. 


Kemandirian dan kematangan emosional yang kita dapatkan. Perlahan tapi pasti kita akan menciptakan sejarah hidup kita. 


Oleh karena itu, faktor keluarga sangat penting dalam lingkungan pekerjaan.


Hidup adalah perjalanan bukan pertadingan. Untuk itu, nikmatilah pertandingan ini. Yang terpenting tetap yakin dan percaya akan kehidupan yang lebih baik dari hari kemarin. 


Jack Ma berkata kemarin adalah sulit. Hari ini lebih sulit, esok lebih sulit lagi dan lusa kita akan mendapatkan sesuatu yang indah.


Salam tafenpah


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

2 komentar untuk "Krisis Identitas di Usia 25 tahun"